Jakarta, Mata4.com – Di tengah meningkatnya ketergantungan masyarakat terhadap layanan digital, keamanan akun online menjadi hal yang tak bisa diabaikan. Salah satu akun yang paling penting — dan sekaligus paling banyak digunakan — adalah akun Google. Sayangnya, akun ini juga kerap menjadi sasaran empuk bagi pelaku kejahatan siber.
Sebagai pintu gerbang ke berbagai layanan vital seperti Gmail, Google Drive, YouTube, Google Maps, dan Google Pay, akun Google menyimpan berbagai data penting, mulai dari informasi pribadi, percakapan rahasia, dokumen pekerjaan, hingga akses ke sistem pembayaran. Peretasan terhadap akun Google bukan hanya merugikan secara individu, tapi juga bisa berdampak luas, terutama bagi mereka yang menggunakan layanan ini untuk bisnis, pendidikan, dan transaksi finansial.
Lonjakan Kasus Peretasan
Laporan tahunan dari Google Transparency Report tahun 2024 mencatat bahwa lebih dari 320 juta upaya akses tidak sah terhadap akun Google terdeteksi di seluruh dunia. Di Indonesia sendiri, Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) menyebut bahwa akun email pribadi menjadi salah satu target paling umum dari serangan siber dalam 12 bulan terakhir.
Kepala BSSN, Letjen TNI (Purn) Hinsa Siburian, dalam konferensi pers Mei lalu, menegaskan bahwa literasi keamanan digital masyarakat Indonesia masih harus ditingkatkan.
“Banyak pengguna belum memahami bahwa peretasan bukan hanya soal diretas oleh hacker profesional. Sering kali pelaku justru memanfaatkan kelengahan pengguna seperti sandi lemah, tidak mengaktifkan 2FA, atau membuka tautan mencurigakan,” ujarnya.
Empat Ciri Akun Google Diretas yang Harus Diwaspadai
Berikut ini adalah empat tanda utama bahwa akun Google Anda mungkin telah diretas:
1. Aktivitas Login dari Lokasi Tak Biasa
Google memiliki fitur yang mencatat setiap aktivitas login, termasuk lokasi geografis dan perangkat yang digunakan. Jika Anda menerima notifikasi tentang login dari daerah atau negara yang tidak Anda kenali — seperti Rusia, Brasil, atau negara lain yang tak pernah Anda kunjungi — besar kemungkinan seseorang sedang mencoba mengakses akun Anda.
Solusi:
- Segera periksa riwayat login melalui
- Klik “Activity” dan kenali perangkat-perangkat aktif
- Hapus perangkat asing dan ubah kata sandi Anda
2. Perubahan Tak Wajar di Pengaturan Akun
Peretas biasanya langsung mengubah pengaturan keamanan untuk mengamankan kendali atas akun. Ini bisa meliputi:
- Mengganti alamat email pemulihan
- Menghapus atau mengganti nomor HP pemulihan
- Menonaktifkan notifikasi keamanan
- Menambahkan aplikasi pihak ketiga yang tidak Anda kenali
Solusi:
- Cek pengaturan akun dan pastikan hanya Anda yang memiliki akses
- Aktifkan verifikasi dua langkah (2FA) untuk lapisan keamanan ekstra
- Periksa “Third Party Access” dan cabut izin mencurigakan
3. Pesan Terkirim atau Aktivitas yang Tidak Anda Lakukan
Jika Anda melihat pesan email yang dikirim tanpa sepengetahuan Anda, atau mendapati file hilang dari Google Drive, bisa jadi akun Anda sedang dikendalikan pihak lain. Terkadang, peretas menggunakan akun korban untuk mengirim spam atau phishing kepada kontak-kontak di dalam akun tersebut.
Solusi:
- Periksa folder “Sent” dan “Trash” di Gmail
- Gunakan fitur “Last Account Activity” di pojok kanan bawah Gmail
- Laporkan ke Google jika ada aktivitas aneh yang tidak bisa dijelaskan
4. Akun Tidak Bisa Diakses, Meskipun Kata Sandi Benar
Jika Anda tiba-tiba tidak bisa login dan semua opsi pemulihan tidak berfungsi, besar kemungkinan akun telah dibajak. Ini adalah situasi paling serius karena berarti peretas telah mengambil alih penuh akun Anda.
Solusi:
- Segera kunjungin untuk proses pemulihan
- Siapkan bukti kepemilikan akun seperti email pemulihan sebelumnya, kode 2FA, atau informasi perangkat terakhir yang digunakan
Langkah Pencegahan: Jangan Tunggu Sampai Diretas
Menurut pengamat keamanan digital dari Indonesia Cybersecurity Forum (ICSF), Rizky Dwiantara, banyak pengguna baru bertindak setelah akun mereka dibajak. Padahal pencegahan jauh lebih murah dan efektif.
Berikut adalah tips pencegahan dasar:
- Gunakan kata sandi kuat dan unik (kombinasi huruf, angka, simbol)
- Jangan gunakan satu kata sandi untuk semua akun
- Aktifkan verifikasi dua langkah (2FA)
- Jangan sembarang klik tautan dari pengirim tidak dikenal
- Rutin cek aktivitas login dan perangkat terhubung
- Gunakan pengelola kata sandi (password manager) jika diperlukan
Pemerintah & Google Imbau Masyarakat Lebih Waspada
Google Indonesia dalam keterangannya menegaskan bahwa mereka terus meningkatkan sistem keamanan berbasis AI untuk mendeteksi anomali dan mencegah penyalahgunaan akun pengguna. Namun, tanggung jawab utama tetap ada di tangan pengguna.
“Kami mengembangkan fitur keamanan proaktif, tapi pengguna tetap harus sadar bahwa perlindungan dimulai dari perilaku digital masing-masing,” kata Fira Sari, Public Policy Lead Google Indonesia.
BSSN juga menyatakan siap membantu melalui program literasi keamanan digital bekerja sama dengan kementerian dan lembaga terkait.
Penutup
Dengan meningkatnya ancaman di dunia maya, menjaga keamanan akun Google bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Mengenali tanda-tanda akun diretas dan bertindak cepat dapat menyelamatkan data, identitas, bahkan aset finansial Anda.
Tetap waspada, jaga sandi, dan jangan mudah percaya pada tautan yang belum terverifikasi. Dunia digital memang membuka banyak kemudahan, tetapi hanya bagi mereka yang siap dan terlindungi.

