Jakarta, Mata4.com – Kementerian Kesehatan Palestina merilis data terbaru yang mengungkapkan sedikitnya 70.366 warga Gaza telah tewas dan 171.064 lainnya terluka sejak agresi Israel terhadap Gaza dimulai pada Oktober 2023.
Dalam 24 jam terakhir, enam warga Palestina yang terluka meninggal akibat kondisi parah mereka, menambah panjang daftar korban jiwa di wilayah yang terus dilanda konflik.
Meskipun gencatan senjata mulai berlaku efektif pada 10 Oktober, pertumpahan darah masih terjadi. Kantor Media Pemerintah Gaza mencatat setidaknya 386 orang tewas dan 980 lainnya terluka akibat tembakan tentara Israel sejak gencatan senjata diberlakukan. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai efektivitas kesepakatan tersebut.

Rencana gencatan senjata mencakup fase pertama berupa pembebasan sandera Israel dengan imbalan tahanan Palestina, pembangunan kembali Gaza, serta pembentukan mekanisme pemerintahan baru yang bebas dari pengaruh Hamas. Namun, realitas di lapangan menunjukkan krisis kemanusiaan justru semakin parah.
Salah satu masalah utama adalah hambatan dalam penyaluran bantuan kemanusiaan. Israel secara signifikan membatasi akses bantuan, rata-rata hanya 226 truk yang diizinkan masuk ke Gaza per hari, jauh di bawah jumlah minimum 600 truk sesuai kesepakatan. Kondisi ini memperburuk akses makanan, obat-obatan, dan kebutuhan dasar bagi ratusan ribu warga.
Situasi di Gaza kini bukan hanya soal konflik militer, tetapi juga krisis kemanusiaan akut yang menuntut respons global. Dunia internasional dituntut menekan pihak terkait agar mematuhi gencatan senjata secara penuh dan memprioritaskan keselamatan serta kesejahteraan warga sipil.
