Bekasi, Mata4.com – Tidak semua perjalanan menuju sukses berjalan lurus. Kisah Ali Muhammad, pendiri Makaroni Ngehe, adalah bukti bahwa kerja keras, keberanian, dan ketekunan bisa mengubah hidup seseorang secara drastis. Sebelum dikenal sebagai pengusaha sukses, Ali pernah mengalami masa-masa penuh perjuangan di Jakarta.
Perjalanannya dimulai dari pekerjaan serabutan. Ali pernah menjadi pelayan di sebuah restoran ayam goreng di kawasan Fatmawati. Ia mencoba berbagai jenis pekerjaan lain, mulai dari penerjemah bagi warga Sri Lanka hingga magang sebagai admin di Depdiknas selama enam bulan.
Justru dari pengalaman bekerja di Depdiknas, Ali menyadari satu hal penting: ia tidak ingin selamanya bekerja untuk orang lain. Keinginan untuk mandiri dan membangun sesuatu sendiri semakin kuat.
Berbekal tekad tersebut, Ali pergi ke warung internet mencari peluang baru. Ia menemukan lowongan sebagai penulis skenario dengan honor sekitar Rp1–2 juta per episode. Tanpa pengalaman sebelumnya, Ali memberanikan diri mencoba. Kerja kerasnya membuahkan hasil, ia diterima sebagai penulis skenario dan terjun ke dunia perfilman. Sayangnya, pekerjaan tersebut mulai tersendat pada 2011 karena honor sering telat.
Tidak menyerah, Ali kemudian bekerja sebagai chef di sebuah restoran di Jakarta sambil tetap mengambil pekerjaan menulis sampingan. Dari dua sumber pendapatan itulah ia mulai menabung untuk membangun usaha sendiri.
Ketika tabungan dirasa cukup, Ali pulang ke Tasik. Saat berbincang dengan ibunya, ia teringat kembali makanan kesukaannya sewaktu kecil: makaroni buatan sang ibu. Hal itu menjadi titik balik. Ibunya menyarankan agar Ali menjadikan camilan makaroni tersebut sebagai usaha makanan ringan.
Mendengar dukungan sang ibu, Ali mulai bergerak. Mereka bersama-sama pergi ke pasar-pasar untuk mencari makaroni berkualitas dengan harga terjangkau. Resep mulai diracik, perhitungan harga jual dihitung dengan teliti, dan produksi dimulai. Setiap hari, mereka memproduksi 100 bungkus makaroni. Dari penjualan awal ini saja, Ali berhasil meraih keuntungan hingga Rp3 juta — angka yang cukup besar bagi usaha rumahan.

Namun Ali tidak ingin bisnisnya berhenti di satu titik. Ia mencari cara memperluas pasar. Dalam pencarian ide, ia berjalan-jalan ke Jatinangor dan bertemu seorang pedagang tahu pedas keliling. Dari obrolan tersebut muncul kerja sama: makaroni buatan Ali akan dijual dengan sistem keliling, sementara pedagang tersebut mendapat gerobak baru sebagai fasilitas dari Ali. Sistem sederhana ini ternyata sangat efektif, penjualan meningkat pesat.
Melihat peluang yang semakin besar, Ali kembali ke Jakarta. Ia membagikan sampel makaroni buatannya kepada teman-temannya. Respon positif yang diterima membuatnya semakin percaya diri untuk memperluas usaha. Dengan modal Rp20 juta pinjaman dari temannya, Ali memberanikan diri membuka outlet pertamanya.
Ali mengaku pada awalnya tidak memiliki gambaran jelas bagaimana prospek bisnis ini ke depan. Namun ia percaya pada intuisi dan kerja kerasnya, serta merasa bertanggung jawab terhadap kepercayaan pemberi modal.
Keputusan itu terbukti tepat. Makaroni Ngehe mendapat sambutan luar biasa dari pasar. Cabang demi cabang mulai bermunculan, sejalan dengan semakin populernya camilan pedas tersebut di kalangan anak muda.
Kini, berdasarkan informasi dari website resminya, Makaroni Ngehe telah memiliki 40 outlet yang tersebar di Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali. Dari seorang pekerja serabutan di kota besar, Ali Muhammad berhasil menjelma menjadi pengusaha sukses dengan merek yang dikenal luas.
Kisah Ali mengingatkan bahwa kesuksesan bukan datang dari instan — melainkan dari keberanian mengambil langkah, memanfaatkan peluang, dan tidak pernah berhenti mencoba.
