Bandung, 15 Juli 2025 — Seorang profesor linguistik dari Tokyo University, Prof. Hiroshi Takayama, mengungkapkan hasil temuannya mengenai adanya sejumlah kemiripan antara Bahasa Sunda dan Bahasa Jepang. Hal ini ia sampaikan dalam seminar ilmiah di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran (UNPAD), Bandung, yang membahas kajian lintas bahasa dan budaya di kawasan Asia.
Dalam pemaparannya, Prof. Takayama menjelaskan bahwa kemiripan tersebut meliputi aspek fonologi, struktur gramatikal, hingga sistem tingkatan bahasa yang berakar pada tata krama. Ia menyebutkan bahwa kedua bahasa tersebut sama-sama mengenal bentuk bahasa yang berbeda tergantung pada konteks sosial dan hubungan antarpenutur.
“Baik Bahasa Sunda maupun Bahasa Jepang memiliki sistem honorifik yang kompleks. Ini menandakan bahwa budaya tutur kedua bangsa sangat menjunjung nilai sopan santun dan hierarki sosial,” ujar Prof. Takayama dalam sesi tanya jawab.
Ia mencontohkan bahwa Bahasa Sunda memiliki tingkat tutur seperti lemes, sedang, dan kasar, sementara Bahasa Jepang mengenal tingkatan seperti keigo, sonkeigo, dan kenjougo. Menurutnya, fenomena ini jarang ditemukan dalam banyak bahasa lain, sehingga menarik untuk dikaji lebih lanjut dari sudut pandang historis dan antropologis.
Selain struktur sosial bahasa, Prof. Takayama juga menemukan beberapa kemiripan fonetik pada sejumlah kosakata dasar, meskipun ia menegaskan bahwa kemiripan tersebut belum tentu berasal dari akar yang sama. Ia menekankan perlunya penelitian lanjutan dengan pendekatan etimologis dan filologis yang lebih mendalam.
Rektor UNPAD, Prof. Rina Indiastuti, menyambut baik kajian tersebut dan menyatakan bahwa pihak universitas terbuka untuk kolaborasi riset lebih lanjut antara Indonesia dan Jepang. Ia menilai temuan Prof. Takayama berpotensi memperkaya khazanah ilmu linguistik dan mempererat hubungan kebudayaan antarnegara.
“Kami bangga bahwa Bahasa Sunda, sebagai salah satu bahasa daerah utama di Indonesia, mendapat perhatian dari akademisi internasional. Ini menjadi momentum untuk terus melestarikan dan mengembangkan studi bahasa daerah,” ungkap Prof. Rina.
Masyarakat akademik dan publik di media sosial pun merespons temuan ini dengan antusias. Banyak warganet membagikan pendapat serta contoh-contoh lain yang mereka anggap serupa antara kedua bahasa. Mereka juga mendorong agar penelitian ini dapat dipublikasikan dalam jurnal internasional dan menjadi dasar pengembangan studi bahasa lintas budaya.
