Jakarta, Mata4.com — Radiasi telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia modern. Mulai dari penggunaan dalam bidang medis seperti radiologi dan terapi kanker, aplikasi industri, hingga teknologi komunikasi, radiasi hadir dalam berbagai bentuk dan intensitas. Namun, paparan radiasi yang berlebihan atau tidak terkontrol berpotensi menimbulkan dampak serius bagi kesehatan, termasuk risiko kanker dan bahkan kematian.
Mengenal Radiasi: Jenis dan Sifatnya
Radiasi merupakan pemancaran energi dalam bentuk gelombang atau partikel yang dapat merambat melalui ruang dan menembus berbagai bahan, termasuk jaringan biologis manusia. Berdasarkan tingkat energinya, radiasi dibedakan menjadi dua jenis utama:
- Radiasi pengion (ionizing radiation): Memiliki energi cukup tinggi untuk mengionisasi atom atau molekul, sehingga mampu merusak struktur DNA dan sel. Contoh radiasi pengion adalah sinar-X, sinar gamma, dan partikel alfa dan beta. Radiasi jenis ini banyak digunakan dalam dunia medis untuk diagnosa dan terapi, serta di industri nuklir.
- Radiasi non-pengion (non-ionizing radiation): Memiliki energi lebih rendah yang tidak mampu mengionisasi molekul, seperti gelombang radio, microwave, cahaya tampak, dan sinar ultraviolet pada intensitas rendah. Meskipun dianggap relatif aman, paparan radiasi non-pengion dalam jumlah besar dan waktu lama tetap berpotensi menimbulkan efek negatif.
Dampak Radiasi pada Tubuh Manusia
Paparan radiasi, terutama radiasi pengion, dapat menimbulkan berbagai efek biologis yang merugikan. Kerusakan pada DNA akibat radiasi dapat menyebabkan mutasi genetik yang jika tidak diperbaiki oleh mekanisme tubuh, dapat memicu kanker.
Efek akut radiasi dapat muncul dalam waktu singkat setelah paparan tinggi, berupa gejala seperti:
- Luka bakar radiasi pada kulit
- Mual, muntah, dan diare
- Kerusakan pada sistem kekebalan tubuh
- Gangguan fungsi organ vital
Sedangkan efek kronis radiasi muncul setelah paparan jangka panjang dan dosis rendah, seperti peningkatan risiko kanker, gangguan reproduksi, dan kelainan genetik.
Kapan Radiasi Bisa Sebabkan Kanker?
Menurut para ahli dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), kanker akibat radiasi timbul karena mutasi sel yang memicu pertumbuhan sel tidak terkendali. Risiko ini meningkat ketika seseorang terpapar radiasi pengion dalam jumlah besar atau dalam jangka waktu lama.
Jenis kanker yang paling banyak dikaitkan dengan paparan radiasi antara lain:
- Kanker tiroid: Radiasi dapat merusak kelenjar tiroid yang sensitif terhadap paparan radiasi, terutama pada anak-anak.
- Leukemia: Kerusakan pada sumsum tulang dapat memicu pertumbuhan sel darah putih abnormal.
- Kanker kulit: Paparan radiasi ultraviolet berlebih dapat menyebabkan kanker kulit.
- Kanker paru-paru dan organ dalam lain: Terutama pada pekerja yang terpapar radiasi partikel radioaktif seperti radon.
Pekerja di bidang radiologi, nuklir, dan korban bencana nuklir merupakan kelompok yang paling rentan mengalami kanker akibat radiasi.
Radiasi dan Risiko Kematian
Paparan radiasi dosis tinggi secara tiba-tiba dapat menyebabkan Sindrom Radiasi Akut (Acute Radiation Syndrome/ARS) yang berpotensi fatal. ARS biasanya terjadi pada korban kecelakaan nuklir atau paparan radiasi dalam jumlah besar. Gejalanya meliputi:
- Mual dan muntah hebat
- Diare parah
- Kerusakan sumsum tulang yang mengakibatkan penurunan sel darah
- Kerusakan organ-organ vital
Jika tidak segera mendapatkan penanganan medis, pasien dengan ARS dapat meninggal dalam hitungan hari hingga minggu.
Upaya Pencegahan dan Perlindungan Diri
Untuk mengurangi risiko akibat paparan radiasi, sejumlah langkah pencegahan dianjurkan, khususnya bagi mereka yang bekerja di lingkungan dengan potensi paparan tinggi:
- Menggunakan alat pelindung diri (APD) seperti pelindung timbal dan masker khusus radiasi.
- Mengatur durasi dan intensitas paparan radiasi seminimal mungkin.
- Menjaga jarak aman dari sumber radiasi.
- Melakukan pemeriksaan kesehatan rutin untuk memantau kondisi tubuh dan mendeteksi dini efek radiasi.
- Menerapkan protokol keselamatan ketat di lingkungan kerja.
Selain itu, edukasi dan sosialisasi tentang bahaya radiasi serta cara perlindungannya sangat penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat.
Peran Pemerintah dan Lembaga Terkait
Pemerintah Indonesia melalui Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) dan Kementerian Kesehatan memiliki peran sentral dalam pengawasan, regulasi, dan edukasi mengenai radiasi. Mereka bertugas mengawasi penggunaan radiasi di sektor kesehatan, industri, serta menanggulangi risiko kecelakaan nuklir.
Dalam hal ini, standar keamanan internasional seperti yang ditetapkan oleh International Atomic Energy Agency (IAEA) menjadi acuan dalam pengelolaan radiasi di Indonesia.
Kesimpulan
Radiasi, meskipun memiliki manfaat besar dalam bidang medis dan teknologi, juga memiliki potensi bahaya serius apabila tidak dikelola dengan baik. Paparan radiasi yang tidak terkontrol dapat menyebabkan kerusakan sel dan DNA, meningkatkan risiko kanker, serta dalam kasus ekstrem dapat menyebabkan kematian.
Oleh karena itu, pemahaman, kesadaran, dan penerapan protokol keselamatan radiasi menjadi sangat penting untuk melindungi kesehatan masyarakat. Masyarakat diharapkan dapat bijak dalam penggunaan teknologi yang melibatkan radiasi serta segera berkonsultasi dengan tenaga medis apabila mengalami gejala yang dicurigai akibat paparan radiasi.

