Bekasi, Mata4.com — Kelompok perjuangan Hamas membuat manuver politik signifikan dengan menyatakan kesiapan memasuki dialog nasional dengan seluruh faksi Palestina. Pernyataan ini muncul di tengah perundingan fase kedua gencatan senjata di Gaza dan tekanan kemanusiaan yang masif.
Pengumuman itu disampaikan bersamaan dengan pertemuan kunci di Kairo, Kamis (23/10/2025), yang mempertemukan delegasi Hamas dan Fatah di bawah mediasi intens dari pemerintah Mesir. Agenda utama adalah membahas nasib fase kedua perjanjian gencatan senjata dan masa depan Jalur Gaza yang luluh lantak.
Juru bicara Hamas, Hazem Qassem, kepada Anadolu Agency menegaskan gerakan tersebut “menuju dialog nasional dengan hati terbuka dan tangan terbuka kepada Otoritas Palestina (PA) dan kekuatan nasional lainnya.” Ia menekankan bahwa PA adalah institusi yang “tidak dapat diabaikan” dalam proses dialog.
Seruan Persatuan dan Kritik terhadap Israel
Qassem menegaskan, ajakan Hamas untuk dialog nasional bersyarat agar Otoritas Palestina menyelaraskan diri dengan konsensus nasional di Gaza dan datang dengan pikiran terbuka.
“Ini adalah saatnya persatuan nasional dan memprioritaskan kepentingan rakyat di atas kepentingan partisan,” tegas Qassem.
Ia memperingatkan bahwa situasi saat ini berbahaya tidak hanya bagi Hamas tetapi juga bagi seluruh warga Palestina di Gaza dan Tepi Barat. Qassem mendesak aksi kolektif segera, terutama dalam implementasi gencatan senjata.

Hamas juga mengkritik Israel yang dituding melanggar perjanjian gencatan senjata. Data Hamas menyebutkan pelanggaran itu menewaskan hingga 90 warga Palestina, sementara Israel menutup pintu perbatasan Rafah, menghambat masuknya bantuan kemanusiaan.
“Israel menggunakan kondisi kemanusiaan sebagai alat tawar-menawar politik,” kata Qassem. Ia menyerukan tindakan segera untuk mencegah krisis kelaparan di Jalur Gaza.
Nasib Fase Kedua Gencatan Senjata
Qassem menjelaskan Hamas telah menerima jaminan dari Turki, Mesir, Qatar, dan Amerika Serikat bahwa perang telah berakhir secara efektif. Tahap pertama perjanjian, termasuk penyerahan tawanan dan jenazah, telah diselesaikan.
Namun, fase kedua membutuhkan diskusi lebih lanjut. Menurut Qassem, tahap ini melibatkan isu kompleks, termasuk pembangunan kembali Gaza dan pembentukan mekanisme pemerintahan baru tanpa Hamas.
“Tujuan akhir tetap: mencapai penyelesaian tuntas dan abadi dari perang di Jalur Gaza,” ujar Qassem.
Sejak Oktober 2023, konflik Israel di Gaza telah menimbulkan korban jiwa besar. Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan lebih dari 68.200 orang tewas dan 170.300 luka-luka. Kondisi ini menegaskan pentingnya dialog nasional sebagai kebutuhan mendesak.
