Jakarta, Mata4.com — Sumarli (45), warga Desa Tanjungrejo, Kabupaten Lampung Tengah, menjadi sosok inspiratif bagi masyarakat setempat. Ia berhasil membuka lapangan kerja bagi warga desa, dengan tujuan utama mengurangi jumlah warga yang harus merantau sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI) ke luar negeri.
Beberapa tahun terakhir, banyak warga Tanjungrejo yang merantau ke luar negeri karena keterbatasan kesempatan kerja di desa. Melihat kondisi ini, Sumarli memutuskan untuk mendirikan usaha kerajinan bambu, olahan pangan lokal, dan produk rumahan lainnya. Kini, usaha tersebut telah menyerap puluhan warga sebagai tenaga kerja tetap.
“Awalnya hanya beberapa orang yang membantu saya membuat kerajinan bambu di rumah. Sekarang, hampir 50 warga memiliki pekerjaan tetap. Saya ingin mereka bisa bekerja di desa sendiri tanpa harus merantau,” ujar Sumarli saat ditemui di desanya, Minggu (10/11).
Dampak Nyata bagi Warga
Inisiatif Sumarli membawa dampak signifikan bagi warga. Salah satu pekerja, Rina (28), mengaku lega karena kini bisa bekerja dekat rumah, tetap merawat keluarga, dan memiliki penghasilan tetap.
“Sebelumnya saya hampir mendaftar sebagai PMI karena tidak ada pekerjaan di desa. Sekarang saya bisa membantu keluarga sekaligus mendapatkan penghasilan yang cukup. Rasanya lega,” kata Rina.
Selain itu, usaha Sumarli juga memberi kesempatan bagi pemuda desa untuk belajar keterampilan baru, mulai dari pengolahan bahan baku, pembuatan kerajinan, hingga manajemen usaha. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan kemandirian ekonomi masyarakat dan mendorong mereka untuk tidak bergantung pada pekerjaan di luar negeri.
“Kami ingin generasi muda desa memiliki kemampuan dan keterampilan agar bisa bertahan di desa sendiri,” kata Sumarli.
Apresiasi Pemerintah Desa
Kepala Desa Tanjungrejo, Suharto, memberikan apresiasi atas langkah Sumarli. Menurutnya, inisiatif tersebut menjadi contoh nyata bagaimana seorang individu bisa berperan aktif dalam memberdayakan masyarakat dan mengurangi angka PMI.
“Kisah Sumarli patut dicontoh. Ia tidak hanya memikirkan diri sendiri, tetapi juga membantu warga agar tidak harus merantau. Ini sesuai dengan program desa untuk memberdayakan ekonomi lokal,” ujar Suharto.
Pemerintah desa bahkan mendorong Sumarli untuk memperluas usahanya dan memfasilitasi pelatihan bagi warga agar dapat meningkatkan kualitas produk lokal dan membuka peluang pemasaran lebih luas.
Rencana Pengembangan Usaha
Sumarli berencana mengembangkan usaha kerajinannya agar dapat menampung lebih banyak tenaga kerja dan membuka cabang di desa-desa sekitar. Ia berharap mendapat dukungan pemerintah daerah berupa bantuan modal, pelatihan, dan akses pasar.
“Jika usaha ini berkembang, lebih banyak warga desa bisa bekerja di sini tanpa harus meninggalkan keluarga dan merantau jauh. Itu tujuan utama saya,” jelas Sumarli.
Selain itu, Sumarli juga berencana menjalin kerja sama dengan koperasi lokal dan toko online, sehingga produk kerajinannya bisa menjangkau pasar lebih luas di dalam dan luar provinsi.
Kisah Inspiratif untuk Desa Lain
Kisah Sumarli menjadi inspirasi tidak hanya bagi warganya, tetapi juga bagi desa-desa lain di Lampung Tengah yang menghadapi masalah serupa, yakni tingginya angka PMI akibat keterbatasan lapangan kerja.
“Setiap orang bisa berbuat sesuatu untuk desanya. Tidak perlu menunggu pemerintah. Dengan kerja keras dan niat baik, kita bisa menciptakan lapangan kerja dan membantu sesama,” pungkas Sumarli.
Menurut Nina Lestari, pakar pemberdayaan masyarakat, kisah ini menunjukkan bahwa inisiatif lokal bisa menjadi solusi jangka panjang untuk menekan angka PMI dan meningkatkan kesejahteraan warga.
“Inisiatif seperti ini patut dicontoh. Dengan memberdayakan masyarakat dan menciptakan lapangan kerja lokal, desa akan lebih mandiri dan warga tidak perlu merantau,” ujar Nina.
Penutup
Kisah Sumarli membuktikan bahwa individu bisa menjadi agen perubahan di desanya sendiri. Dengan kreativitas, kepedulian, dan kerja keras, seorang warga biasa mampu memberikan dampak besar bagi masyarakat dan mendorong pembangunan ekonomi lokal.
Keberhasilan Sumarli juga menjadi pengingat bagi pemerintah daerah dan warga desa lain untuk lebih aktif menciptakan peluang ekonomi lokal, sehingga generasi muda dapat tetap bekerja di kampung halaman mereka.

