Bekasi, Mata4.com – Dari panggung dunia hingga sudut Jakarta, dua kisah penyandang disabilitas menghadirkan inspirasi sekaligus membuka kenyataan bahwa perjuangan mereka masih jauh dari kata selesai. Nicholas James Vujicic (42), motivator internasional asal Australia, dan Zidan (20), pemuda Jakarta yang baru mendapat pekerjaan impian, menjadi simbol harapan di tengah ketidaksetaraan akses bagi jutaan penyandang disabilitas.
Perjalanan Nick Vujicic yang Mendunia
Nama Nick Vujicic sejak lama dikenal publik internasional melalui berbagai video motivasi yang kerap viral. Terlahir tanpa tangan dan kaki, ia menuturkan kisah hidupnya melalui panggung motivasi di lebih dari 44 negara. Pesan-pesannya mengajak masyarakat untuk melampaui batasan diri dan berani menetapkan mimpi besar.
“Jika seorang pria tanpa lengan dan kaki sedang bermimpi besar, kenapa kalian tidak bermimpi besar juga?” ujar Nick dalam salah satu pidatonya.
Nick tidak tumbuh tanpa tantangan. Masa kecilnya dipenuhi perundungan, trauma, dan tekanan mental. Ia bahkan pernah mencoba mengakhiri hidupnya. Namun perjalanan panjang itu berujung pada kiprahnya sebagai figur inspiratif global. Ia meyakinkan setiap pendengarnya: “Bermimpilah yang besar, temanku, dan jangan pernah menyerah.”
Zidan: Peluang Emas dari Jakarta
Jauh dari panggung internasional, sebuah momen berharga terjadi di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Dalam acara Job Fair & Upskilling Disabilitas, Zidan, pemuda bertubuh mungil, terekam dalam sebuah video saat menyerahkan Curriculum Vitae (CV) langsung kepada Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung.
Percakapan singkat mereka menjadi titik awal perubahan hidup Zidan:
Pramono menanyakan kemampuan komputer dan desain grafis. Zidan menjawab dengan keyakinan bahwa ia mampu menjalankan keduanya. Berdasarkan keterampilan tersebut, Zidan resmi diterima sebagai desainer grafis di PT Transjakarta mulai Senin, 10 November 2025.
Gubernur Pramono Anung mengapresiasi penyelenggaraan acara itu. Ia menyatakan bahwa sebanyak 150 peserta job fair disabilitas telah diterima bekerja pada gelombang pertama dan kedua.
“Ini menggambarkan bahwa kelompok disabilitas di Jakarta mendapatkan ruang yang terbuka,” ujar Pramono.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berencana untuk melanjutkan program serupa hingga gelombang ketiga guna memperluas kesempatan kerja bagi kelompok disabilitas.
Di Balik Harapan, Data BPS Mengungkap Realitas Pahit
Meski kisah Zidan menginspirasi, data statistik memperlihatkan bahwa kisah sukses tersebut masih jauh dari kondisi umum.
Laporan Badan Pusat Statistik (BPS) dalam “Potret Penyandang Disabilitas di Indonesia: Hasil Long Form Sensus Penduduk 2020” menunjukkan kondisi ketenagakerjaan yang memprihatinkan:
- Hanya 21,65 persen penyandang disabilitas berat yang bekerja, atau sekitar 22 dari setiap 100 orang.
- Sebanyak 69,14 persen bekerja di sektor informal, dengan risiko tinggi tanpa kontrak, tanpa jaminan upah minimum, serta tanpa perlindungan sosial yang memadai.
- Pekerjaan mayoritas berada di sektor berupah rendah, yaitu 41,92 persen di sektor pertanian, dan hanya 17,63 persen di sektor industri.
- Ketimpangan gender terlihat jelas: penyandang disabilitas perempuan hampir dua kali lebih banyak yang tidak bekerja dibanding laki-laki di rentang usia produktif.
Data ini menunjukkan bahwa hambatan utama bukan berasal dari ketidakmampuan penyandang disabilitas untuk bekerja, melainkan dari minimnya akses kesempatan dan dukungan kebijakan yang menyeluruh.
Jalan Panjang Menuju Kesetaraan
Kisah Zidan memperlihatkan bagaimana kesempatan dapat mengubah hidup seseorang. Nick Vujicic membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang untuk berdiri di panggung dunia. Namun kenyataannya, jutaan penyandang disabilitas di Indonesia masih menunggu pintu kesempatan yang sama terbuka bagi mereka.
Kedua kisah ini sekaligus menegaskan urgensi untuk menghadirkan kebijakan inklusif, memperluas akses kerja, serta menghilangkan stigma terhadap penyandang disabilitas agar keberhasilan serupa tidak lagi menjadi pengecualian, melainkan bagian dari norma yang layak.
