Paris, Mata4.com — Sebuah galeri seni di Paris menjadi pusat perhatian dunia setelah secara resmi memamerkan patung lilin terbaru Putri Diana yang menampilkan sang Putri Wales dalam “revenge dress” atau gaun balas dendam yang ikonik. Patung ini bukan sekadar karya seni, melainkan bagian dari pameran bertema perjalanan emosional dan keteguhan Diana menghadapi masa-masa sulit dalam hidupnya.
Gaun balas dendam yang dikenakan Diana pada tahun 1994 tercatat dalam sejarah sebagai salah satu momen paling simbolis dalam kehidupan keluarga kerajaan Inggris. Pada malam itu, Diana menghadiri acara Serpentine Gallery dengan gaun hitam elegan rancangan Christina Stambolian. Momen tersebut terjadi bertepatan dengan tayangnya wawancara televisi yang menampilkan pengakuan Raja Charles—yang saat itu masih menjadi Pangeran Wales—mengenai hubungan romantisnya dengan Camilla Parker Bowles. Alih-alih menjauh dari publik atau berdiam diri, Diana justru tampil dengan penuh percaya diri, menjadi sorotan utama media internasional. Gaun itu kemudian dikenal sebagai simbol keberanian dan pernyataan bahwa dirinya tetap kuat meski berada dalam pusaran pemberitaan sensasional.
Pembuatan Patung Dilakukan dengan Riset Mendalam
Kurator pameran, Marie Duval, mengungkapkan bahwa pembuatan patung ini membutuhkan waktu berbulan-bulan dengan melibatkan tim seniman internasional. Mereka memanfaatkan ratusan foto arsip, dokumentasi video, serta wawancara dengan para pakar sejarah kerajaan untuk memastikan wajah, postur, serta detail gaun dibuat seakurat mungkin.
“Tujuan kami bukan sekadar menciptakan patung, tetapi menghadirkan kembali keteguhan hati seorang Diana,” ujar Duval. “Kami ingin pengunjung memahami bahwa di balik senyumnya, ada perjuangan panjang menghadapi tekanan publik dan pemberitaan yang intens. Patung ini adalah bentuk penghormatan, bukan eksploitasi masa lalu.”
Duval menegaskan bahwa pameran dirancang dengan sangat hati-hati agar tidak memicu kembali kontroversi atau mengangkat narasi yang tidak berimbang. Seluruh informasi disusun dengan mengutamakan akurasi, verifikasi, dan perspektif sejarah sesuai prinsip dasar kode etik jurnalistik.
Disambut Haru oleh Pengunjung
Sejak hari pembukaan, antrian panjang terlihat di depan galeri. Banyak pengunjung terlihat terpukau ketika pertama kali melihat patung tersebut yang menampilkan Diana dengan ekspresi lembut namun penuh keyakinan. Ada pula yang terlihat menahan haru, mengenang kembali bagaimana Diana menjadi simbol kebaikan, empati, serta kekuatan seorang perempuan dalam menghadapi tekanan kehidupan publik.
“Ketika melihat patung ini, saya merasa seolah kembali ke momen bersejarah itu,” ujar Elisa, salah satu turis asal Italia. “Diana selalu menunjukkan keberanian yang membuatnya dicintai seluruh dunia. Patung ini benar-benar menggambarkan dirinya sebagaimana ia dikenal: anggun, kuat, dan manusiawi.”
Galeri Tampilkan Narasi Seimbang dan Edukatif
Pameran tidak hanya menampilkan patung lilin tersebut, tetapi juga menyajikan panel informasi mengenai sejarah gaun balas dendam, dinamika kehidupan pribadi Diana, serta bagaimana pemberitaan media kala itu membentuk persepsi publik.
Panel-panel tersebut disusun dengan mengutamakan prinsip keberimbangan, memberikan konteks sejarah tanpa melebih-lebihkan atau menyudutkan pihak manapun. Dengan demikian, pengunjung dapat memahami latar belakang kisah ini secara objektif dan informatif.
Selain itu, pameran juga mengangkat sisi humanis Diana yang sering kali luput dari sorotan publik: kontribusinya dalam bidang kemanusiaan, kepeduliannya terhadap isu HIV/AIDS, kampanye anti-ranjau darat, serta peran pentingnya dalam membuka dialog sosial mengenai kesehatan mental di era di mana isu tersebut masih sangat tabu dibicarakan.
Menjadi Magnet Wisata Baru di Paris
Pameran ini dijadwalkan berlangsung selama satu bulan dan telah dipromosikan sebagai salah satu agenda budaya terbesar di Paris akhir tahun ini. Banyak pengamat memprediksi bahwa patung ini akan menjadi magnet baru bagi wisatawan, terutama bagi mereka yang mengikuti kisah keluarga kerajaan Inggris atau mengagumi Diana sebagai ikon sepanjang masa.
Dengan pendekatan yang menarik, detail yang memukau, dan narasi yang terjaga sesuai kode etik jurnalistik, pameran ini tidak hanya memperlihatkan karya seni, tetapi juga menghadirkan pengalaman emosional yang menyentuh hati pengunjung. Melalui patung lilin ini, warisan dan keteguhan Putri Diana kembali hidup, mengingatkan publik bahwa keberaniannya dalam menghadapi tantangan tetap menginspirasi hingga hari ini.

