Bekasi, Mata4.com – Kunjungan Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), ke wilayah Aceh yang dilanda banjir bandang dan tanah longsor menyisakan banyak kisah yang menyentuh. Salah satunya terjadi ketika ia kembali ke Bandara Rembele, Kabupaten Bener Meriah, setelah menyalurkan 13 ton beras ke Belawan dan Lhokseumawe.
Saat pesawat Hercules yang ditumpanginya mendarat, puluhan hingga ratusan warga yang telah terjebak di wilayah itu selama berhari-hari segera mengerumuni pesawat. Mereka berharap bisa keluar dari kawasan terdampak bencana. Banyak dari mereka sudah tiga hingga lima hari tidak makan, dan sebagian besar bukan warga setempat sehingga sangat ingin dievakuasi.
AHY mengisahkan bahwa warga melihat pesawat Hercules tampak kosong setelah menurunkan bantuan. Situasi itu membuat mereka berharap besar untuk diangkut keluar dari wilayah terisolasi. Namun kemampuan angkut pesawat sangat terbatas. Setelah berdiskusi dengan kapten pilot TNI AU, diputuskan bahwa maksimal hanya 80 orang yang dapat dibawa pada penerbangan tersebut.

Ia menggambarkan situasi itu seperti adegan dalam film-film, di mana masyarakat terjebak di satu daerah dan menunggu penyelamatan. AHY pun menenangkan warga dengan menyampaikan bahwa akan ada penerbangan lanjutan untuk mengevakuasi yang lainnya.
Tak hanya itu, AHY menceritakan kondisi yang tak kalah memprihatinkan saat ia berada di Pangkalan Udara TNI AU Soewondo, Polonia. Di sana, ia menyaksikan bagaimana masyarakat yang memiliki uang sekalipun tetap tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar mereka. Kelangkaan logistik membuat siapapun, tanpa memandang status ekonomi, mengalami kelaparan. Dalam kondisi bertahan hidup itu, sebagian warga bahkan terpaksa melakukan penjarahan demi mendapatkan makanan demi bertahan hidup.
Menurut AHY, kondisi tersebut menunjukkan betapa genting dan mendesaknya pengiriman bantuan. Pemerintah harus bergerak cepat mengirim logistik terutama ke wilayah Aceh yang masih terisolasi. Banyak daerah tidak dapat diakses, baik karena kerusakan infrastruktur maupun tertutupnya jalur akibat longsor.
Dalam kunjungannya ke lokasi pengungsian, AHY juga menyaksikan langsung kesedihan mendalam para penyintas. Banyak yang menangis, marah, kebingungan, dan terpuruk setelah kehilangan keluarga, rumah, serta harta benda. Sebagian warga bahkan meminta agar dapat direlokasi karena sudah dua kali kehilangan tempat tinggal akibat bencana serupa.
Kisah-kisah yang disampaikan AHY menggambarkan betapa besarnya dampak bencana Aceh dan urgensi penanganan yang menyeluruh. Bagi pemerintah, bencana ini bukan hanya persoalan infrastruktur yang rusak, melainkan krisis kemanusiaan yang menuntut kehadiran negara secara cepat dan efektif.
