Jakarta, Mata4.com – Dalam upaya mengatasi gejolak harga singkong yang kerap terjadi di pasar domestik dan meningkatkan kualitas produk singkong Indonesia, Kementerian Pertanian (Kementan) resmi menetapkan Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk komoditas singkong. Kebijakan ini merupakan bagian dari strategi pemerintah dalam memperkuat sektor pertanian sekaligus mendorong singkong menjadi komoditas yang lebih kompetitif di pasar nasional maupun internasional.
Peran Singkong dalam Perekonomian dan Ketahanan Pangan Nasional
Singkong atau ketela pohon merupakan salah satu tanaman pangan penting di Indonesia, terutama sebagai sumber karbohidrat alternatif yang memiliki nilai strategis dalam ketahanan pangan. Selain dikonsumsi langsung sebagai bahan pangan masyarakat, singkong juga digunakan sebagai bahan baku dalam berbagai industri seperti tepung tapioka, bioetanol, pakan ternak, hingga produk olahan makanan dan minuman.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi singkong nasional mencapai jutaan ton per tahun, dengan sebagian besar dihasilkan oleh petani skala kecil di berbagai daerah. Namun, fluktuasi harga singkong yang tidak menentu selama ini menjadi tantangan serius yang memengaruhi pendapatan petani sekaligus stabilitas pasokan.
Gejolak harga ini seringkali disebabkan oleh faktor-faktor seperti ketidakseimbangan pasokan dan permintaan, kualitas produk yang bervariasi, serta sistem pemasaran yang belum optimal.
Penetapan Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk Singkong: Tujuan dan Ruang Lingkup
Untuk mengatasi permasalahan tersebut, Kementan menetapkan SNI singkong sebagai acuan mutu yang mengatur aspek-aspek penting dalam produksi dan distribusi singkong, mulai dari kualitas fisik, kadar air, ukuran, hingga proses pascapanen dan penyimpanan. Standar ini bertujuan untuk:
- Menjamin kualitas singkong yang beredar di pasar agar sesuai dengan persyaratan mutu yang telah ditentukan.
- Mendorong stabilisasi harga singkong sehingga petani memperoleh harga yang wajar dan konsumen mendapatkan produk berkualitas.
- Meningkatkan daya saing singkong nasional baik di pasar domestik maupun ekspor.
- Melindungi konsumen dari produk singkong yang tidak memenuhi standar kesehatan dan keamanan pangan.
SNI singkong mencakup kriteria seperti bentuk dan ukuran singkong yang layak, batas kadar air maksimal yang dapat menjamin ketahanan dan kesegaran produk, serta prosedur penanganan dan penyimpanan untuk meminimalkan kerusakan dan pembusukan.
Manfaat dan Dampak Positif Standarisasi Singkong bagi Berbagai Pihak
Penetapan SNI singkong diharapkan memberikan berbagai manfaat penting, di antaranya:
1. Stabilitas Harga yang Lebih Baik
Dengan adanya standar mutu, pasar singkong menjadi lebih transparan dan terorganisir. Hal ini dapat mengurangi fluktuasi harga yang ekstrem dan memberikan kepastian pendapatan bagi petani.
2. Peningkatan Kualitas Produk
Standar yang ketat mendorong petani dan pelaku usaha untuk mengadopsi praktik budidaya dan pengelolaan pascapanen yang lebih baik, sehingga menghasilkan singkong dengan mutu yang lebih tinggi.
3. Memperluas Peluang Ekspor
Produk singkong berkualitas tinggi yang memenuhi standar internasional dapat lebih mudah menembus pasar ekspor, meningkatkan devisa negara dan membuka lapangan kerja baru.
4. Perlindungan Konsumen
Standar mutu memastikan bahwa produk yang beredar aman dikonsumsi dan memenuhi persyaratan kesehatan pangan, sehingga memberikan rasa aman bagi masyarakat.
Strategi Pelaksanaan dan Dukungan Kementerian Pertanian
Menanggapi penetapan SNI singkong, Kementan menyiapkan berbagai program pendukung untuk memastikan standar ini dapat diterapkan secara optimal di lapangan, antara lain:
- Pelatihan dan Penyuluhan: Kementan akan menyelenggarakan pelatihan teknis dan penyuluhan kepada petani, pelaku usaha, dan para pelaku rantai pasok agar memahami dan menerapkan standar dengan benar.
- Pendampingan dan Fasilitasi: Pemerintah akan memberikan pendampingan teknis serta memfasilitasi akses peralatan dan teknologi pertanian yang sesuai standar.
- Penguatan Pengawasan dan Sertifikasi: Mekanisme sertifikasi dan pengawasan produk singkong yang beredar di pasar akan diperkuat untuk memastikan kepatuhan terhadap SNI.
- Kolaborasi dengan Pemerintah Daerah dan Stakeholder: Kementan bekerja sama dengan pemerintah daerah, asosiasi petani, dan sektor swasta untuk mempercepat implementasi dan sosialisasi standar nasional.
Tanggapan dari Para Pakar dan Pelaku Usaha
Para pakar pertanian dan pelaku industri memberikan respons positif terhadap langkah Kementan ini. Dr. Rina Setyawati, seorang pakar agribisnis dari Universitas Indonesia, menilai bahwa standar nasional singkong dapat menjadi fondasi penting untuk memperkuat sektor pertanian dan memperbaiki sistem pemasaran.
“SNI ini membantu menciptakan pasar yang lebih adil dan efisien, serta mendorong peningkatan kualitas produk yang sangat dibutuhkan untuk ekspor,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Asosiasi Petani Singkong Nasional menyambut baik kebijakan ini dan berharap pemerintah juga memberikan dukungan yang berkelanjutan, terutama dalam bentuk pembiayaan dan teknologi pertanian.
Tantangan dalam Implementasi dan Upaya Solusinya
Meski potensi manfaatnya besar, pelaksanaan SNI singkong juga menghadapi sejumlah tantangan, antara lain:
- Adopsi dan Sosialisasi: Mengubah kebiasaan dan pola produksi petani agar sesuai standar membutuhkan waktu dan upaya sosialisasi intensif.
- Ketersediaan Infrastruktur: Diperlukan fasilitas penyimpanan dan pengolahan yang memenuhi standar agar kualitas produk tetap terjaga hingga ke tangan konsumen.
- Pengawasan dan Penegakan: Membangun sistem pengawasan yang efektif agar standar benar-benar dipatuhi oleh seluruh pelaku pasar.
- Pembiayaan: Petani kecil membutuhkan akses pembiayaan yang memadai untuk bisa berinvestasi dalam teknologi dan proses yang sesuai standar.
Kementan telah merancang strategi mitigasi melalui program pendampingan intensif dan kerja sama dengan lembaga keuangan serta swasta untuk mengatasi hambatan tersebut.
Harapan Pemerintah dan Masyarakat
Penetapan SNI singkong ini merupakan salah satu langkah penting pemerintah dalam menguatkan sektor pertanian, sekaligus mendukung program ketahanan pangan nasional dan pembangunan ekonomi berkelanjutan. Dengan standar yang jelas dan penerapan yang konsisten, diharapkan pendapatan petani meningkat dan pasar singkong menjadi lebih stabil serta kompetitif.
Pemerintah mengajak seluruh pihak, mulai dari petani, pelaku usaha, hingga konsumen, untuk mendukung kebijakan ini demi mewujudkan industri singkong yang sehat dan berkelanjutan.
Penutup
Kementerian Pertanian menegaskan komitmennya untuk terus mengawal implementasi Standar Nasional Indonesia untuk singkong, demi meningkatkan kesejahteraan petani dan memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen singkong berkualitas di tingkat regional maupun global.

