Jakarta, Mata4.com – Kepala Badan SAR Nasional (Basarnas), Muhammad Syafii, memaparkan laporan terbaru mengenai operasi pencarian dan penyelamatan di wilayah terdampak bencana di Provinsi Aceh. Pemaparan tersebut disampaikan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi V DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, pada Senin (1/12/2025).
Menurut Syafii, jumlah korban yang telah berhasil dievakuasi mencapai 1.146 orang. Dari jumlah tersebut, 102 orang dinyatakan meninggal dunia, sementara 116 lainnya masih dalam pencarian. Adapun korban selamat tercatat sebanyak 1.044 orang. Angka ini menggambarkan skala bencana yang melanda Aceh dan besarnya tantangan yang dihadapi tim SAR di lapangan.
Di bawah koordinasi Kantor SAR Banda Aceh, Basarnas mengerahkan 165 personel inti. Operasi ini juga diperkuat oleh 224 potensi SAR dari berbagai elemen masyarakat dan lembaga terkait. Total personel yang terlibat mencapai 389 orang berdasarkan data Basarnas. Untuk mendukung mobilitas dan efektivitas pencarian, Basarnas memanfaatkan berbagai peralatan seperti drone, kapal, perahu karet, rescue truck, serta motor. Selain itu, kekuatan tambahan dikerahkan dari Batam dan Tanjung Pinang, termasuk bergabungnya kapal Purworejo dalam operasi penyelamatan.

Syafii menjelaskan bahwa prioritas utama saat ini adalah melakukan asesmen cepat melalui jalur udara mengingat banyaknya titik longsor yang memutus akses darat. Kondisi geografi Aceh yang dipenuhi area pegunungan membuat jalur darat sangat rentan tertutup material longsor. Upaya pemetaan dari udara diperlukan untuk menentukan pendekatan penyelamatan yang paling efektif.
Selain operasi pencarian dan evakuasi, Basarnas juga mengambil peran penting dalam distribusi logistik. Dengan memanfaatkan helikopter dan kapal, bantuan dikirim ke lokasi-lokasi yang tidak dapat dijangkau melalui transportasi darat. Bantuan ini mencakup kebutuhan mendesak masyarakat, termasuk kebutuhan medis dan logistik dasar.
Syafii menuturkan bahwa longsor di wilayah pegunungan menjadi salah satu penyebab utama terputusnya sejumlah akses. Sementara itu, banjir juga melanda kawasan pesisir utara seperti Lhokseumawe, Bireuen, Aceh Utara, dan Pidie, memperluas cakupan area terdampak dan menambah kompleksitas penanganan bencana.
Ia mengakui bahwa jumlah personel SAR menjadi tantangan ketika dihadapkan dengan luasnya wilayah bencana. Namun Basarnas menekankan bahwa penanganan bencana adalah tanggung jawab bersama. Seluruh warga yang tidak terdampak dapat menjadi potensi SAR dan memberikan bantuan awal sebelum tim profesional tiba di lokasi.
Pada akhirnya, Basarnas memfokuskan upaya pada titik-titik yang membutuhkan penanganan khusus. Syafii menutup laporannya dengan menegaskan bahwa operasi pencarian, evakuasi, dan penyaluran bantuan akan terus diperkuat demi menjangkau seluruh korban dan wilayah terdampak secara optimal.
