Jakarta, Mata4.com — Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana meluruskan kabar adanya 5.000 proyek fiktif dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia menegaskan, isu tersebut tidak benar dan muncul akibat kesalahpahaman data saat rapat dengan DPR.
Menurut Dadan, ribuan titik dapur yang disebut fiktif sebenarnya merupakan calon mitra yang masih dalam tahap pengajuan. Titik-titik itu belum menerima dana operasional karena belum lolos proses verifikasi dan validasi yang menjadi syarat utama.
“Tidak ada proyek fiktif. Yang ada adalah data calon mitra yang belum memenuhi persyaratan pembangunan dapur, sehingga belum bisa ditetapkan sebagai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG),” kata Dadan dalam keterangan resminya, Jumat (19/9).
Sebelumnya, anggota Komisi IX DPR menyoroti keberadaan sekitar 5.000 titik dapur yang tercatat di sistem MBG namun tidak memiliki bangunan fisik. Dugaan tersebut kemudian memunculkan anggapan bahwa terdapat proyek fiktif dalam program tersebut.

Menanggapi hal itu, BGN menjelaskan bahwa mekanisme MBG terdiri dari beberapa tahap. Calon mitra yang telah mendaftar dan memilih lokasi diberi waktu untuk membangun dapur. Jika dalam jangka waktu tertentu tidak ada realisasi, titik tersebut akan dikembalikan atau rollback ke tahap pengajuan.
Dadan memastikan tidak ada dana yang disalurkan kepada titik-titik yang belum memenuhi syarat. Dana hanya diberikan setelah proses verifikasi administrasi, validasi fisik, dan penetapan berita acara selesai dilakukan.
“Semua pencairan dana dilakukan melalui mekanisme yang ketat. Jadi tidak ada satu pun dana yang keluar ke titik yang tidak memenuhi persyaratan,” ujarnya.
Hingga saat ini, BGN mencatat lebih dari 8.400 dapur MBG telah beroperasi dan melayani sekitar 28 juta penerima manfaat di seluruh Indonesia. Ribuan titik lain masih dalam proses verifikasi dan validasi.
BGN menegaskan komitmennya untuk menjaga transparansi dan akuntabilitas dalam menjalankan program MBG, sekaligus memperkuat koordinasi dengan DPR agar tidak terjadi kesalahpahaman data di kemudian hari.
