Jakarta, Mata4.com – CEO Lenovo, Yuanqing Yang, kembali menegaskan posisi perusahaannya terhadap perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Menurut Yang, AI tidak seharusnya dilihat sebagai alat yang akan menggantikan manusia, melainkan harus menjadi kekuatan tambahan — atau yang ia sebut sebagai “superpower” — yang memperkuat kemampuan manusia dalam berbagai aspek kehidupan.
Pernyataan ini disampaikan dalam berbagai kesempatan, termasuk saat peluncuran produk Lenovo berteknologi AI serta dalam forum-forum teknologi internasional seperti Mobile World Congress (MWC) 2025. Dalam sambutannya, Yang mengungkapkan bahwa perusahaan yang ia pimpin mengembangkan AI dengan filosofi bahwa teknologi tersebut harus memberdayakan, bukan mendominasi.
“Teknologi AI harus memperkuat kemampuan manusia, bukan mengambil alih atau menggantikan peran manusia. Visi kami adalah menciptakan AI yang inklusif, terintegrasi, dan aman digunakan,” ungkap Yuanqing Yang.
AI Hybrid: Solusi Lenovo untuk Masa Depan yang Terintegrasi
Salah satu strategi utama Lenovo dalam mengimplementasikan AI adalah melalui pendekatan Hybrid AI. Pendekatan ini menggabungkan tiga elemen utama:
- On-device AI (di perangkat langsung)
- Edge computing (komputasi jarak dekat)
- Cloud computing (komputasi awan)
Dengan pendekatan ini, AI tidak lagi bergantung sepenuhnya pada koneksi internet atau pusat data jarak jauh, tetapi dapat diproses langsung di perangkat pengguna. Ini memberi keuntungan dalam hal:
- Privasi dan keamanan data
- Waktu respons yang cepat (low latency)
- Akses bagi pengguna di wilayah dengan konektivitas terbatas
Menurut Yang, sistem hybrid ini penting untuk mendemokratisasi AI, yaitu menjadikan AI tersedia dan berguna untuk semua kalangan, bukan hanya untuk korporasi besar atau mereka yang punya akses teknologi tinggi.
AI Sebagai Pendukung Produktivitas dan Kreativitas
AI kini diterapkan dalam berbagai lini produk Lenovo, seperti laptop seri Yoga, ThinkPad, dan IdeaPad. Teknologi yang ditanamkan memungkinkan pengguna:
- Mencari file atau informasi di laptop hanya dengan perintah suara.
- Menyusun dokumen, e-mail, atau catatan secara otomatis.
- Mengoptimalkan daya dan performa perangkat berdasarkan kebiasaan pemakaian.
- Membantu proses desain, presentasi, dan analisis data dengan lebih cepat.
Dalam konteks ini, AI bukan mengambil alih tugas-tugas manusia, tetapi mendukung produktivitas secara kontekstual dan personal.
“AI seharusnya seperti asisten pribadi: membantu, efisien, dan memahami kebutuhan unik setiap individu,” kata Yang.
Isu Etika: Privasi dan Transparansi Jadi Prioritas
Lenovo menyadari bahwa pengembangan AI tak lepas dari isu etika dan kekhawatiran publik, terutama terkait privasi, keamanan data, dan potensi penyalahgunaan. Untuk itu, perusahaan menegaskan komitmennya terhadap prinsip:
- Data pengguna milik pengguna, dan pemrosesan dilakukan lokal jika memungkinkan.
- Transparansi dalam penggunaan AI, termasuk memberi tahu pengguna kapan dan bagaimana AI bekerja di perangkat mereka.
- Kebijakan keamanan berlapis, untuk melindungi sistem dari akses ilegal atau penyusupan data.
Respons Pengguna dan Pengamat Teknologi
Sejumlah pengamat teknologi menyambut pendekatan Lenovo terhadap AI dengan optimisme. Mereka menilai bahwa mengedepankan AI yang bersifat suportif dan personal merupakan langkah bijak di tengah kekhawatiran global tentang potensi AI menggantikan pekerjaan manusia.
Sementara itu, pengguna awal laptop Lenovo dengan fitur AI Now mengungkapkan kepuasan terhadap performa dan kemampuan AI yang dapat bekerja tanpa koneksi internet. Ini dianggap sangat berguna, terutama bagi pengguna di wilayah dengan jaringan lemah.
“Fitur AI-nya sederhana tapi sangat membantu. Saya bisa cari dokumen atau ringkasan email tanpa harus buka semuanya satu-satu,” ujar Vira, pengguna laptop AI Lenovo di Jakarta.
Langkah ke Depan: AI untuk Semua
Yuanqing Yang menutup pernyataannya dengan mengajak semua pelaku industri untuk mengembangkan AI yang bertanggung jawab dan inklusif. Ia menyebutkan bahwa masa depan teknologi bukan hanya soal kecanggihan, tetapi juga soal dampak sosial dan kemanusiaan.
Lenovo juga menyatakan bahwa mereka akan terus mendorong riset dan kolaborasi dengan universitas, startup, dan pengembang lokal untuk memastikan bahwa AI yang dikembangkan relevan dengan kebutuhan pasar global maupun lokal.
Kesimpulan
Di tengah perdebatan global mengenai masa depan AI, Lenovo melalui pimpinannya mengambil posisi yang tegas: AI bukan ancaman, melainkan peluang. Dengan pendekatan hybrid dan human-centric, perusahaan ini ingin memastikan bahwa kecerdasan buatan benar-benar menjadi alat pemberdayaan manusia, bukan pengganti.
Dengan integrasi teknologi yang lebih cerdas, transparan, dan adil, AI dapat menjadi “kekuatan super” yang memperkuat kualitas hidup, memperluas kreativitas, dan meningkatkan efisiensi — bukan mengambil alih ruang manusia, tetapi meneguhkan posisinya.

