Bekasi, Mata4.com – Pengamat sepak bola nasional, Anton Sanjoyo atau Bung Joy, mengingatkan PSSI agar tidak mengulangi kesalahan serupa saat menunjuk Patrick Kluivert sebagai pelatih Timnas Indonesia. Ia menilai federasi harus menerapkan mekanisme seleksi yang benar dan transparan, termasuk mewajibkan setiap kandidat mempresentasikan visi, strategi, serta solusi konkret terhadap berbagai masalah yang dihadapi Timnas.
Menurut Bung Joy, kondisi skuad Indonesia saat ini membutuhkan pelatih yang memiliki kemampuan manajerial dan teknis yang sangat jelas. Tantangan terberat berada pada komposisi pemain yang sebagian besar berkarier di Eropa dan tersebar di berbagai negara serta klub. “Pelatih itu harus mampu menyelesaikan semua constraint yang ada, seperti banyaknya pemain naturalisasi yang bermain di Eropa dan ada di tim yang berbeda-beda,” ujarnya kepada Inilah.com, Selasa (25/11/2025).
Selain itu, minimnya waktu persiapan pada setiap FIFA Matchday menjadi faktor penting yang harus dipahami pelatih baru. Dengan hanya tiga hari efektif latihan, Timnas memerlukan pelatih yang memiliki format permainan yang terstruktur dan konsisten — bukan seperti era Kluivert yang dinilai kerap mengubah formasi dan komposisi pemain setiap pertandingan. “Waktu persiapan kadang terlalu mepet. Punya format yang jelas, tidak seperti Kluivert yang setiap laga punya formasi dan komposisi pemain yang berbeda,” lanjutnya.

Bung Joy memahami bahwa tidak ada pelatih yang sempurna. Namun ia menekankan bahwa pelatih yang dipilih PSSI harus membawa “nilai tawar” berupa ide konkret, rencana taktis, dan solusi yang dapat diukur — bukan semata nama besar. “Pelatih sehebat apa pun, kalau kita tidak tahu apa yang mau dia kerjakan, kita kayak beli kucing dalam karung,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan PSSI untuk tidak terburu-buru menentukan pelatih kepala. Menurutnya, agenda Timnas dalam waktu dekat tidak terlalu mendesak dan federasi memiliki cukup waktu untuk memilih secara bijak. “Tidak usah terlalu terburu-buru mencari pelatih baru. FIFA Matchday masih lama. Target besar baru Piala Asia 2027,” katanya.
Lebih jauh, Bung Joy menekankan pentingnya proses presentasi seperti yang dilakukan ketika Shin Tae-yong dipilih pada 2019. Saat itu, setiap kandidat memaparkan visi, struktur kerja, hingga langkah teknis di depan Komite Eksekutif (Exco) PSSI. Ia menilai proses itu sangat krusial karena dari sanalah federasi dapat memahami ide permainan, arah pembangunan tim, dan rencana jangka pendek maupun panjang sang pelatih.
Sayangnya, menurut Bung Joy, mekanisme tersebut tidak terjadi ketika PSSI menunjuk Patrick Kluivert. “Itu yang tidak pernah terjadi ketika Kluivert ditunjuk. Semuanya hanya di atas teori dan harapan, tidak pernah terselenggara dan tidak pernah deliver,” tutupnya.
Dengan kondisi Timnas yang penuh tantangan, Bung Joy menilai momen ini harus menjadi titik evaluasi penting bagi PSSI agar keputusan strategis berikutnya benar-benar berdasar, terukur, dan membawa dampak nyata bagi masa depan sepak bola Indonesia.
