Bekasi, Mata4.com – Dorongan pemerintah untuk mengesahkan RUU redenominasi rupiah muncul dari kebutuhan untuk membuat transaksi lebih praktis, menjaga arah pertumbuhan ekonomi, serta memperkuat citra dan stabilitas Rupiah di mata internasional. Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan kepercayaan pasar sekaligus memperbaiki persepsi global terhadap mata uang Indonesia.
Meski demikian, saat Indonesia masih mempersiapkan proses redenominasi, sejumlah negara di Asia sudah memiliki mata uang yang jauh lebih stabil dan bernilai tinggi. Posisi mereka mencerminkan tingkat kompetitif kawasan Asia dalam hal kekuatan moneter dan menjadi benchmark penting bagi Indonesia untuk menilai sejauh mana Rupiah perlu diperkuat.
Memahami perbandingan nilai mata uang di Asia menjadi penting agar masyarakat dan pelaku pasar melihat konteks regional secara lebih jelas dan objektif. Berikut daftar mata uang terkuat di Asia pada tahun 2025 berdasarkan kurs terbaru per 19 November 2025:
- Kuwaiti Dinar (KWD) – 1 KWD ≈ US$3,25. Didukung cadangan minyak besar dan pengelolaan fiskal ketat, KWD stabil meski kondisi global bergejolak.
- Bahrain Dinar (BHD) – 1 BHD ≈ US$2,65. Kuat karena nilai dipatok ketat ke dolar AS dan dukungan sektor perbankan offshore.
- Oman Rial (OMR) – 1 OMR ≈ US$2,60. Pengelolaan fiskal konservatif dan cadangan eksternal kuat menjaga kestabilan.
- Yordania Dinar (JOD) – 1 JOD ≈ US$1,41. Stabil karena kebijakan moneter hati-hati, remitansi, dan bantuan luar negeri.
- Dolar Singapura (SGD) – 1 SGD ≈ US$0,77. Stabil berkat ekonomi kuat, ekspor bernilai tinggi, dan cadangan devisa lebih dari US$385 miliar.
- Dolar Brunei (BND) – 1 BND ≈ US$0,77. Dipatok ke SGD, didukung cadangan minyak dan gas yang besar.
- Ringgit Malaysia (MYR) – 1 MYR ≈ US$0,24. Didukung ekspor komoditas, stabilitas politik, dan pengalaman manajemen krisis ekonomi.
- Yuan Tiongkok (CNY) – 1 CNY ≈ US$0,14. Dikontrol ketat pemerintah, penggunaan Yuan meningkat dalam perdagangan internasional.
- Dolar Hong Kong (HKD) – 1 HKD ≈ US$0,13. Dipatok ke dolar AS melalui currency board, posisi keuangan global Hong Kong mendukung.
- Dolar Taiwan Baru (TWD) – 1 TWD ≈ US$0,032. Stabil karena posisi Taiwan sebagai pusat industri semikonduktor global.
- Baht Thailand (THB) – 1 THB ≈ US$0,031. Didukung pemulihan pariwisata, ekspor, dan kebijakan fiskal hati-hati.
- Peso Filipina (PHP) – 1 PHP ≈ US$0,017. Aliran remitansi besar dan sektor BPO kuat menjaga stabilitas.
- Rupee India (INR) – 1 INR ≈ US$0,011. Didukung pertumbuhan sektor teknologi, manufaktur, dan inflasi terkendali.
- Taka Bangladesh (BDT) – 1 BDT ≈ US$0,0082. Industri tekstil kuat dan aliran remitansi stabil mendukung mata uang.
- Yen Jepang (JPY) – 1 JPY ≈ US$0,0064. Safe haven, didukung ekonomi besar, politik stabil, dan industri kuat.
- Rupee Sri Lanka (LKR) – 1 LKR ≈ US$0,0032. Dalam tahap pemulihan setelah krisis utang, reformasi fiskal mulai membangun kepercayaan.
- Won Korea Selatan (KRW) – 1 KRW ≈ US$0,00068. Stabil karena sektor semikonduktor kuat dan dukungan perusahaan global.
- Rupiah Indonesia (IDR) – 1 IDR ≈ US$0,000060. Solid berkat konsumsi domestik besar, ekspor komoditas strategis, dan pertumbuhan ekonomi digital, namun nominal Rupiah masih relatif lemah dibanding mata uang tetangga.
- Dong Vietnam (VND) – 1 VND ≈ US$0,000038. Stabil karena Vietnam menjadi pusat manufaktur Asia, ekspor elektronik dan tekstil tinggi.

Daftar ini menunjukkan bahwa meski Rupiah memiliki dasar ekonomi yang kuat, Indonesia masih perlu memperkuat posisi mata uangnya di tingkat regional agar dapat bersaing dengan negara-negara Asia lainnya. Redenominasi diharapkan menjadi langkah strategis untuk meningkatkan kepraktisan transaksi sekaligus memperkuat daya saing Rupiah di mata dunia.
