Bekasi, Mata4.com – Hujan deras dan longsor yang terjadi beruntun sejak akhir November 2025 di Sumatera Utara kembali menegaskan rapuhnya daerah-daerah lereng terhadap bencana hidrometeorologi ekstrem. Di Tapanuli Tengah, tiga desa yang bertetangga—Sait Kalangan Dua, Sigiring-giring, dan Tapian Nauli—hingga kini masih terputus total dari akses luar. Ratusan warga terjebak dalam kondisi serba terbatas, bertahan dengan perbekalan yang kian menipis, tanpa kepastian kapan bantuan dapat masuk.
Suasana desa yang biasanya tidak pernah benar-benar sepi kini berubah menjadi sunyi yang menakutkan. Jalan utama hilang tertimbun tanah, sebagian besar jalur alternatif rusak parah, dan sinyal telekomunikasi tidak stabil. Puluhan kepala keluarga hanya bisa menunggu kabar dari warga yang nekat turun gunung untuk mencari pertolongan.
Perjalanan Melintasi Hutan: Satu-Satunya Jalan Keluar
Damai Mendrofa, warga Kecamatan Pandan, terus memantau kondisi kerabatnya di desa yang hingga kini terisolasi. Ia menggambarkan perjuangan warga sebagai perjalanan panjang yang menegangkan. Mereka harus menempuh jalur hutan yang curam, licin, dan penuh batu besar untuk bisa sampai ke Desa Onan Tukka—rute yang sama sekali tidak layak dilalui manusia dalam keadaan normal.
Rabu, 4 Desember, Kepala Desa Sait Kalangan Dua, Nikson Nababan, bersama beberapa warga, nekat menembus belasan titik longsor yang menghadang. Perjalanan yang biasanya hanya membutuhkan waktu singkat berubah menjadi perjalanan tujuh jam penuh bahaya. Mereka tidak membawa banyak barang, hanya tenaga dan tekad untuk mendapat bantuan.
“Belasan titik longsor, jalan menurun, berbatu dan hutan harus dilewati untuk bisa keluar dari desa,” lapor Damai.
Rute turunan yang mereka tempuh harus melewati Desa Sigiring-giring—desa yang juga terisolasi dan mengalami nasib serupa. Desa Tapian Nauli bahkan tidak dapat disentuh karena aksesnya juga putus total. Setiap langkah yang mereka ambil adalah taruhan antara hidup dan mati.
Warga Turun untuk Bertahan, Lalu Naik Kembali Membawa Harapan
Pada 6 Desember, sebagian warga lain menyusul turun gunung. Tubuh mereka basah oleh embun hutan, membawa beban kecil tetapi penuh makna: sebungkus beras, mie instan, atau sebotol air bersih. Hanya barang yang sanggup dipikul yang bisa dibawa kembali ke desa.
“Warga desa yang sudah turun akan kembali lagi berjalan kaki ke desa untuk membawa perbekalan makanan seadanya, yang sanggup mereka pikul,” tutur Damai.
Para warga tidak tinggal lama di bawah. Setelah mendapat sedikit perbekalan dan informasi, mereka kembali mendaki jalur ekstrem yang sama, demi menyalurkan harapan bagi keluarga yang menunggu di atas.
Sementara itu, puluhan keluarga yang bertahan di desa-desa terisolasi terus mengatur logistik seadanya. Mereka menunggu kabar apa pun dari warga yang turun, berharap bantuan segera tiba sebelum keadaan memburuk.

Hujan Ekstrem Memicu Bencana Beruntun
Bencana ini bermula pada 25 November 2025 ketika hujan deras yang tak henti sejak malam sebelumnya memicu banjir bandang dan longsor besar di berbagai titik. Di Kelurahan Pandan, Damai Mendrofa menjadi salah satu saksi bagaimana bukit-bukit di Matauli berubah ganas dalam hitungan jam.
Menjelang pukul 15.00 WIB, longsoran besar menerjang gudang PLN. Air bah menyusul dengan cepat, meninggi hanya dalam detik-detik. Listrik padam seketika. Warga hanya mengandalkan sinyal ponsel yang untungnya masih aktif beberapa jam setelah kejadian untuk saling memperingatkan.
“Hingga siang hari sinyal masih hidup, masih banyak masyarakat yang saling mengabarkan bahwa perbukitan Matauli itu sudah mulai mengkhawatirkan,” kenangnya.
Namun peringatan itu tidak cukup untuk mencegah bencana. Dua longsor lain kembali terjadi hampir bersamaan di sekitar perbukitan Matauli, membuat situasi semakin gawat. Di sisi lain bukit, tiga warga dilaporkan tertimbun material longsor dan baru berhasil ditemukan pada hari keenam pencarian.
Situasi Masih Kritis, Bantuan Sulit Masuk
Hingga saat ini, akses menuju tiga desa terisolasi di Kecamatan Tukka belum bisa dibuka. Tim gabungan masih berusaha mencari jalur alternatif untuk menyalurkan bantuan logistik, tetapi kondisi cuaca yang masih tidak menentu memperlambat upaya.
Ratusan warga kini hidup dalam kecemasan yang tak berkesudahan: menunggu kabar, menakar sisa logistik, dan berharap langit bersahabat agar helikopter atau tim darat dapat menembus desa.
Bencana ini bukan hanya soal longsor, tetapi tentang warga-warga yang terus berusaha bertahan dengan cara apa pun, di tengah alam yang berubah ganas dan akses bantuan yang terputus.
Sumatera Utara kembali diingatkan bahwa bencana datang tidak hanya dengan suara gemuruh tanah, tetapi juga dengan sunyi yang memutus harapan. Desa-desa yang terjebak di ketinggian kini menunggu—waktu, bantuan, dan kabar yang bisa mengakhiri isolasi mereka.
