Jakarta, Mata4.com – Rokok elektrik atau yang lebih dikenal sebagai vape, semakin hari kian populer, terutama di kalangan anak muda Indonesia. Namun, di balik popularitasnya yang terus meningkat, para ahli medis mulai kembali mengingatkan soal potensi bahaya serius yang ditimbulkan oleh penggunaan vape terhadap kesehatan. Salah satunya datang dari seorang dokter spesialis paru dari Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) yang menegaskan bahwa vape bukanlah alternatif aman untuk berhenti merokok, melainkan mengandung ancaman kesehatan yang perlu diwaspadai secara serius.
Dalam konferensi pers yang digelar di Jakarta, Selasa (9/9), dr. Rina Prasetya, Sp.P, spesialis paru RSUP, memaparkan sejumlah temuan medis terkini yang menunjukkan dampak negatif penggunaan vape terhadap sistem pernapasan manusia. Menurutnya, banyak masyarakat tertipu oleh citra ‘lebih sehat’ yang dibangun oleh promosi industri vape, padahal kandungan di dalamnya tetap sangat berbahaya.
“Ada persepsi keliru di masyarakat bahwa vape lebih aman daripada rokok biasa karena tidak menghasilkan asap dan tidak mengandung tar. Padahal, uap yang dihasilkan vape tetap membawa zat kimia berbahaya seperti nikotin, formaldehida, logam berat, dan senyawa lainnya,” ujar dr. Rina.
Zat Kimia di Dalam Vape dan Dampaknya pada Paru-Paru
Lebih lanjut, dr. Rina menjelaskan bahwa nikotin dalam vape tetap menimbulkan efek adiktif. Selain itu, diacetyl, senyawa kimia yang kerap ditemukan dalam cairan vape beraroma, diketahui dapat merusak jaringan paru-paru dan menyebabkan kondisi serius seperti bronchiolitis obliterans atau yang lebih dikenal sebagai “popcorn lung”—penyakit langka yang menyebabkan penyempitan saluran udara kecil di paru-paru.
“Vape bisa menyebabkan peradangan kronis pada paru-paru, penurunan fungsi pernapasan, dan memperbesar risiko terkena penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) hingga kanker paru,” ungkapnya.
Dr. Rina juga menyampaikan bahwa RSUP telah beberapa kali menerima pasien muda dengan keluhan sesak napas dan kerusakan paru yang berkaitan dengan penggunaan rokok elektrik.
Generasi Muda Jadi Korban Utama
Salah satu kekhawatiran terbesar para tenaga medis adalah meningkatnya jumlah pengguna vape dari kalangan remaja dan dewasa muda, yang sebagian besar belum pernah merokok sebelumnya. Produk vape yang dikemas dalam bentuk menarik, beraroma manis, dan mudah diakses secara online, dianggap menjadi pintu masuk bagi generasi muda terhadap kecanduan nikotin.
“Ini yang membuat kami sangat khawatir. Vape sering kali menjadi awal mula seseorang kecanduan nikotin. Ini membuka jalan bagi generasi baru perokok yang dimulai bukan dari rokok konvensional, tapi dari rokok elektrik,” tambahnya.
Menurut data dari survei Kementerian Kesehatan tahun 2024, penggunaan vape di kalangan pelajar meningkat hampir 3 kali lipat dalam lima tahun terakhir, dengan mayoritas pengguna berusia antara 15–24 tahun.
Respon Pemerintah dan Lembaga Kesehatan
Menanggapi meningkatnya penggunaan vape, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) menyatakan bahwa regulasi dan pengawasan terhadap produk tembakau alternatif termasuk vape akan diperketat.
Melalui pernyataan tertulis, Direktur Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kemenkes, menyebutkan bahwa masyarakat perlu diedukasi bahwa vape bukan alat berhenti merokok yang disetujui medis, dan penggunaannya tanpa pengawasan dokter justru bisa memperparah kondisi kesehatan.
“Satu-satunya cara berhenti merokok yang terbukti aman adalah melalui konseling berhenti merokok dan terapi pengganti nikotin yang diawasi tenaga medis. Vape bukan bagian dari itu,” tulis Kemenkes.
Fakta Ilmiah Internasional Dukung Peringatan
Peringatan yang disampaikan oleh dr. Rina bukan tanpa dasar. Berbagai penelitian internasional dari Harvard School of Public Health, WHO, dan CDC (Centers for Disease Control and Prevention) telah menyimpulkan bahwa vape dapat memicu peradangan sistemik, gangguan metabolik, hingga kerusakan sistem saraf dan pembuluh darah jika digunakan dalam jangka panjang.
Studi tahun 2023 yang dilakukan oleh para peneliti di Eropa juga menemukan kerusakan DNA pada sel paru-paru akibat paparan uap vape, yang dapat mempercepat proses mutasi dan menjadi pemicu kanker.
Kesimpulan dan Imbauan
Pernyataan dari dokter paru dan dukungan dari komunitas medis global memperkuat kesimpulan bahwa vape bukan solusi aman. Justru, ia membawa risiko kesehatan baru yang tidak kalah serius dibandingkan rokok konvensional.
Masyarakat, khususnya generasi muda, diimbau untuk tidak tergoda oleh tren atau klaim yang tidak berdasar mengenai keamanan vape. Orang tua, guru, dan tenaga kesehatan juga diajak untuk berperan aktif dalam memberikan edukasi dan membangun kesadaran tentang bahaya penggunaan rokok elektrik.

