Jakarta, Mata4.com — Domino’s Pizza Enterprises (DPE), perusahaan pemegang lisensi utama waralaba Domino’s Pizza di kawasan Asia Pasifik dan Eropa, mencatatkan kerugian signifikan sebesar AUD 3,7 juta atau setara dengan Rp39,5 miliar (kurs AUD 1 = Rp10.700) pada semester pertama tahun fiskal 2025. Ini merupakan pembalikan drastis dari kinerja keuangan tahun sebelumnya, ketika perusahaan mencatatkan laba bersih mencapai AUD 96 juta atau sekitar Rp1,03 triliun pada periode yang sama.
Kondisi ini menjadi perhatian utama para pemegang saham, mitra waralaba, hingga pelanggan setia Domino’s di seluruh dunia. Tidak hanya merugi, DPE juga memutuskan untuk menutup ratusan gerai, langkah yang mencerminkan krisis yang tengah dihadapi perusahaan di tengah ketatnya persaingan bisnis makanan cepat saji global.
Ratusan Gerai Ditutup, Jepang Jadi Wilayah Terpukul
Salah satu kebijakan drastis yang diambil DPE adalah menutup 312 gerai secara global, yang sebagian besar berada di kawasan Asia Timur. Sebanyak 233 gerai di antaranya berada di Jepang, salah satu pasar yang sebelumnya dianggap strategis dan menjanjikan bagi ekspansi Domino’s di Asia.
Menurut pernyataan resmi dari manajemen DPE yang dirilis pada awal September 2025, penutupan dilakukan setelah dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap kinerja gerai-gerai tersebut yang dinilai tidak lagi memberikan kontribusi positif terhadap operasional dan profitabilitas perusahaan.
“Keputusan ini sangat sulit, tetapi perlu diambil agar kami dapat memperbaiki struktur biaya dan menjaga keberlanjutan bisnis jangka panjang,” ujar juru bicara DPE dalam konferensi pers daring, dikutip oleh media internasional.
Selain Jepang, sejumlah gerai di negara-negara Eropa dan Asia lainnya juga ditutup. Namun, tidak disebutkan secara rinci negara mana saja yang terdampak selain Jepang.
Penurunan Penjualan di Berbagai Wilayah
Selain penutupan gerai, DPE juga mencatatkan penurunan penjualan yang cukup tajam di beberapa wilayah operasional utamanya. Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan perusahaan:
- Penjualan di kawasan Asia tercatat turun sebesar 7,1%
- Eropa mengalami penurunan 6,9%
- Australia dan Selandia Baru turun 5,2%
Penurunan ini, menurut DPE, disebabkan oleh sejumlah faktor eksternal dan internal, di antaranya melemahnya daya beli konsumen, inflasi, dan pergeseran pola konsumsi pasca-pandemi. Di sisi lain, persaingan dengan layanan pesan antar makanan berbasis digital juga memperketat kompetisi pasar.
“Kami tidak bisa mengabaikan realitas pasar yang berubah sangat cepat. Konsumen saat ini lebih sensitif terhadap harga dan lebih selektif dalam memilih layanan makanan cepat saji,” kata analis bisnis dari lembaga riset makanan global, FoodChain Analytics, dalam wawancara dengan media Australia.
Restrukturisasi dan Perubahan Kepemimpinan
Merespons krisis tersebut, DPE juga melakukan restrukturisasi organisasi. Salah satu langkah besar yang diambil adalah mengganti pimpinan puncak. Jack Cowin, pendiri Domino’s Pizza Enterprises dan salah satu pemegang saham mayoritas, kembali ditunjuk sebagai interim executive chairman menggantikan CEO sebelumnya, Mark van Dyck, yang mengundurkan diri.
Cowin, yang dikenal sebagai tokoh bisnis senior di Australia, dipercaya untuk memimpin upaya pemulihan dan efisiensi perusahaan, termasuk dalam mempercepat implementasi strategi baru yang lebih adaptif terhadap situasi pasar.
“Sudah waktunya untuk bergerak cepat dan tegas. Kami tidak bisa membiarkan perusahaan kehilangan arah,” ujar Cowin dalam pernyataannya kepada para pemegang saham.
Langkah tersebut disambut positif oleh sebagian analis dan investor. Romano Sala Tenna, manajer portofolio di Katana Asset Management, mengatakan bahwa DPE memerlukan “pendekatan kepemimpinan yang langsung dan tanpa kompromi”.
Langkah Efisiensi dan Pemangkasan Dividen
Sebagai bagian dari strategi pemulihan, DPE juga mengumumkan pemangkasan dividen akhir tahun fiskal hingga lebih dari 50% dari tahun sebelumnya. Dana yang semestinya dibagikan kepada pemegang saham akan dialihkan untuk memperkuat arus kas dan menutup biaya restrukturisasi.
Selain itu, perusahaan memangkas anggaran pengembangan teknologi informasi (TI) yang sebelumnya menjadi bagian besar dari investasi digital. Pihak manajemen menyebut bahwa investasi TI selama dua tahun terakhir tidak menghasilkan keunggulan kompetitif seperti yang diharapkan.
“Kita perlu mengalokasikan sumber daya secara lebih bijak. Teknologi penting, tetapi saat ini kami butuh hasil yang lebih konkret,” jelas Chief Financial Officer DPE.
Pasar yang Masih Tumbuh dan Potensi Pemulihan
Meski tengah menghadapi masa sulit, tidak semua wilayah operasi Domino’s mencatat kinerja negatif. Beberapa pasar justru menunjukkan pertumbuhan yang solid, termasuk:
- Australia, yang menjadi basis utama DPE, masih mencatat pertumbuhan laba operasional
- Jerman dan beberapa negara Eropa lainnya menunjukkan tanda-tanda pemulihan
- Asia Tenggara, termasuk Indonesia, dilaporkan tetap stabil meskipun ada tekanan dari inflasi
Perusahaan menyatakan bahwa mereka akan lebih fokus pada penguatan merek dan peningkatan pengalaman pelanggan di pasar-pasar yang masih tumbuh ini.
Reaksi Pasar dan Masa Depan Domino’s
Pasar saham sempat bereaksi negatif terhadap laporan kerugian DPE, dengan harga saham perusahaan anjlok lebih dari 12% dalam dua hari setelah laporan keuangan dirilis. Namun, beberapa analis menyebut bahwa reaksi ini bersifat jangka pendek dan masih ada potensi pemulihan jika langkah restrukturisasi berjalan sesuai rencana.
Pengamat pasar modal, Josh Gilbert, dari eToro Australia mengatakan, “Konsistensi eksekusi strategi akan menjadi kunci. Domino’s punya jaringan global yang kuat. Tantangannya sekarang adalah bagaimana mempertahankannya di tengah tekanan biaya dan perubahan perilaku konsumen.”
Penutup
Kerugian yang dialami oleh Domino’s Pizza Enterprises dan penutupan ratusan gerai secara global mencerminkan tantangan besar yang dihadapi industri makanan cepat saji di era pasca-pandemi. Perubahan perilaku konsumen, inflasi, hingga digitalisasi yang kurang tepat sasaran menjadi pelajaran penting bagi perusahaan mana pun yang ingin bertahan dalam kompetisi global.
Langkah cepat dan tegas seperti yang diambil oleh DPE—meski menyakitkan bagi sebagian pihak—bisa menjadi fondasi bagi pemulihan jangka panjang. Hanya waktu yang akan membuktikan apakah Domino’s mampu kembali ke jalur pertumbuhan atau justru harus melakukan transformasi bisnis yang lebih radikal.

