Jakarta, Mata4.com – Pasar keuangan Indonesia mengalami tekanan berat pada Selasa pagi setelah pemerintah secara mengejutkan mengumumkan penggantian Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. Nilai tukar rupiah melemah tajam terhadap dolar AS, sementara indeks saham nasional juga mencatatkan penurunan signifikan. Langkah cepat Bank Indonesia melakukan intervensi pasar menunjukkan upaya menjaga stabilitas di tengah ketidakpastian.
Nilai Tukar dan Pasar Modal Merespons Negatif
Menurut data perdagangan pasar spot, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS jatuh ke level Rp 16.488/USD, atau melemah hampir 1 persen dibandingkan hari sebelumnya. Penurunan tajam ini mencerminkan kekhawatiran investor terhadap arah kebijakan ekonomi Indonesia ke depan.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga turun sekitar 1,8 persen, dipimpin oleh penurunan sektor keuangan, perbankan, dan konstruksi. Investor cenderung menarik diri dari pasar dalam negeri dan mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman.
Salah satu manajer investasi asing yang diwawancarai Reuters menyatakan bahwa “penggantian tiba-tiba seorang menteri yang dikenal sangat kredibel secara fiskal menimbulkan pertanyaan tentang kesinambungan arah kebijakan ekonomi Indonesia.”
Sri Mulyani Digantikan Purbaya Yudhi Sadewa
Penggantian Menteri Keuangan diumumkan secara resmi oleh Istana pada Selasa pagi. Presiden Prabowo Subianto menunjuk Purbaya Yudhi Sadewa sebagai Menteri Keuangan yang baru. Purbaya adalah ekonom senior yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dan dikenal memiliki pandangan pro-pertumbuhan.
Sri Mulyani sendiri belum memberikan pernyataan resmi kepada media. Namun, sejumlah sumber menyebutkan bahwa ia mundur karena perbedaan pandangan terkait kebijakan fiskal dan prioritas program pemerintahan baru, terutama menyangkut belanja besar-besaran untuk program makan siang gratis dan pembangunan infrastruktur.
Bank Indonesia Turun Tangan Stabilkan Pasar
Melihat gejolak di pasar keuangan, Bank Indonesia (BI) segera mengambil langkah-langkah stabilisasi. BI melakukan intervensi langsung di pasar valas dan membeli obligasi pemerintah jangka panjang untuk menahan lonjakan imbal hasil (yield).
Dalam pernyataan tertulis, Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan bahwa pihaknya “siap dan akan terus berada di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan memastikan volatilitas tetap terkendali.” Ia juga menambahkan bahwa pelemahan rupiah lebih disebabkan oleh faktor sentimen ketimbang fundamental ekonomi nasional yang sebenarnya masih kuat.
Langkah BI mendapat dukungan dari pelaku pasar, namun beberapa analis menilai bahwa intervensi ini mungkin hanya memberikan efek jangka pendek jika tidak diiringi dengan kejelasan arah kebijakan fiskal pemerintah.
Kekhawatiran terhadap Disiplin Fiskal
Selama menjabat, Sri Mulyani dikenal sebagai penjaga disiplin fiskal. Ia berhasil menekan defisit anggaran secara bertahap setelah lonjakan selama masa pandemi COVID-19, memperkuat sistem perpajakan, serta memperbaiki transparansi pengelolaan APBN.
Penggantinya, Purbaya Yudhi Sadewa, menyatakan bahwa ia akan melanjutkan reformasi fiskal, namun juga akan menekankan pentingnya pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat. Dalam konferensi pers pertamanya, ia mengatakan:
“Tugas ini tidak mudah, tapi saya percaya pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa ditingkatkan ke level 6-8 persen tanpa mengorbankan stabilitas. Kita harus cerdas dalam mengelola anggaran dan mengoptimalkan belanja untuk mendukung rakyat.”
Meski begitu, para ekonom menilai bahwa pasar ingin melihat aksi nyata dan kepastian mengenai pembiayaan berbagai program baru yang memiliki implikasi fiskal cukup besar, termasuk subsidi, pembangunan, dan belanja sosial lainnya.
Tanggapan Pelaku Pasar dan Pengamat Ekonomi
Reaksi pasar yang keras mencerminkan keraguan akan konsistensi arah kebijakan ekonomi Indonesia. Menurut Dr. Rina Kartasasmita, ekonom senior dari Universitas Indonesia, pergantian menteri ini menimbulkan pertanyaan tentang kesinambungan kebijakan.
“Selama ini Sri Mulyani adalah simbol stabilitas ekonomi dan disiplin fiskal. Ketika beliau diganti secara mendadak, tanpa penjelasan rinci, wajar jika pasar bereaksi negatif. Apalagi saat ini global tengah menghadapi ketidakpastian suku bunga dan harga energi.”
Ia menambahkan bahwa kunci untuk menenangkan pasar adalah komunikasi yang transparan dan kebijakan fiskal yang kredibel.
Di sisi lain, beberapa pelaku pasar dalam negeri menilai bahwa gejolak ini bisa bersifat sementara, selama pemerintah mampu menunjukkan komitmen terhadap tata kelola anggaran dan tidak terlalu bergantung pada utang untuk membiayai belanja negara.
Reaksi Politik dan Belum Ada Pernyataan Presiden
Hingga malam ini, belum ada pernyataan resmi dari Presiden Prabowo Subianto terkait alasan di balik penggantian Sri Mulyani. Beberapa pihak di DPR meminta agar pemerintah menjelaskan latar belakang keputusan ini untuk meredakan kekhawatiran publik dan pelaku usaha.
Fraksi oposisi di parlemen menyuarakan agar kebijakan fiskal ke depan tetap mengutamakan prinsip kehati-hatian dan tidak menempatkan beban berat pada APBN.
Kesimpulan
Penggantian Menteri Keuangan di tengah transisi pemerintahan baru menimbulkan guncangan yang cukup besar di pasar keuangan Indonesia. Melemahnya rupiah, turunnya IHSG, dan intervensi darurat Bank Indonesia menunjukkan betapa pentingnya peran stabilitas kebijakan ekonomi terhadap persepsi pasar.
Tantangan kini ada di pundak Menteri Keuangan baru, Purbaya Yudhi Sadewa, untuk membuktikan bahwa pertumbuhan ekonomi yang diusung tidak mengorbankan stabilitas fiskal jangka panjang. Transparansi, komunikasi yang baik, serta langkah konkret dalam pengelolaan anggaran akan menjadi faktor kunci dalam memulihkan kepercayaan pasar.

