Jakarta, Mata4.com – Rencana kenaikan iuran BPJS Kesehatan pada tahun 2026 dinilai belum tepat oleh Hendry Cahyono, ekonom dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Menurut Hendry, kondisi keuangan masyarakat belum cukup kuat menanggung beban tambahan dari kenaikan iuran tersebut.
“Dari hasil kajian outlook ekonomi 2026 yang dilakukan Pusat Studi Ilmu Ekonomi FEB Unesa, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih berkisar 5,2–5,4 persen. Saya kira belum pas kalau naik (iuran BPJS Kesehatan),” ujar Hendry kepada wartawan, Rabu (29/10/2025).
Beban Ekonomi Bagi Kelas Menengah
Hendry menekankan, kenaikan iuran BPJS hanya akan menambah beban ekonomi masyarakat, terutama keluarga kelas menengah.
“Menaikkan iuran BPJS hanya akan menambah beban ekonomi keluarga kelas menengah. Saya belum melihat ada stimulus fiskal yang mampu mengurangi beban Manfaat Pensiun Cacat (MPC) kelas menengah,” katanya.
Ia juga menyoroti dampak kebijakan ini terhadap daya beli masyarakat. Jika iuran naik, konsumsi masyarakat kelas menengah diperkirakan akan turun, sehingga kontribusi konsumsi terhadap PDB menurun.

Masalah Bukan Hanya Iuran
Menurut Hendry, permasalahan BPJS bukan semata soal besaran iuran, tetapi juga pengelolaan anggaran dan layanan kesehatan.
“Jika BPJS transparan dan memberikan layanan kesehatan yang maksimal, kepercayaan masyarakat akan pulih. Kenaikan iuran tidak menjadi persoalan,” jelasnya.
Syarat Kenaikan BPJS Menurut Menkeu
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan, kenaikan iuran BPJS Kesehatan boleh dilakukan, namun dengan syarat ekonomi tumbuh minimal 6 persen.
“Ekonomi baru mau pulih, belum lari. Sampai tumbuhnya di atas 6 persen dan masyarakat lebih mudah dapat pekerjaan, baru kami pikirkan menaikkan beban masyarakat,” kata Purbaya di Kantor Kemenko Perekonomian, Rabu (22/10/2025).
Hingga saat ini, Menkeu Purbaya menegaskan tidak akan menaikkan iuran BPJS Kesehatan, selama pertumbuhan ekonomi belum mencukupi. Wacana penyesuaian tarif iuran peserta BPJS Kesehatan tertuang dalam Buku II Nota Keuangan beserta RAPBN Tahun Anggaran 2026.
