Beijing, Mata4.com — Tang Renjian, mantan Menteri Pertanian dan Urusan Pedesaan Republik Rakyat Tiongkok, telah dijatuhi hukuman mati dengan penangguhan selama dua tahun oleh Pengadilan Menengah Rakyat di Provinsi Jilin atas dakwaan menerima suap dalam jumlah besar. Vonis ini menjadi sorotan internasional dalam kampanye anti-korupsi besar-besaran yang dijalankan pemerintah Tiongkok sejak 2012.
Tang dinyatakan bersalah menerima suap senilai 268 juta yuan, atau setara sekitar Rp634 miliar, selama masa jabatannya yang berlangsung lebih dari satu dekade. Hukuman mati dengan penangguhan tersebut berarti jika Tang menunjukkan perilaku baik selama masa penangguhan, hukuman dapat dikonversi menjadi penjara seumur hidup tanpa kemungkinan pembebasan bersyarat.
Profil Tang Renjian dan Karier Politik
Tang Renjian lahir pada tahun 1963 dan mengawali kariernya sebagai birokrat di bidang pertanian sejak awal 1990-an. Ia menempuh pendidikan di bidang teknik pertanian dan memiliki latar belakang teknis yang kuat. Sepanjang kariernya, Tang pernah menjabat di berbagai posisi strategis dalam pemerintahan daerah dan kementerian, sebelum akhirnya diangkat menjadi Menteri Pertanian pada tahun 2020.
Dalam posisi tersebut, Tang bertanggung jawab atas kebijakan agraria dan pengembangan pedesaan, yang merupakan sektor krusial bagi perekonomian dan stabilitas sosial Tiongkok. Namun, di balik posisi strategis tersebut, Tang dituding menggunakan pengaruh dan wewenangnya untuk menguntungkan diri sendiri dan pihak-pihak tertentu dengan menerima suap dalam jumlah besar.
Kronologi Penyelidikan dan Penahanan
Penyelidikan terhadap Tang Renjian dimulai pada Mei 2024 setelah Komisi Inspeksi Disiplin Pusat Partai Komunis China (PKC) menerima laporan dan mengumpulkan bukti terkait pelanggaran disiplin dan hukum. Penyelidikan tersebut dilakukan secara tertutup dan intensif.
Pada September 2024, Tang resmi dicopot dari jabatan menteri. Beberapa bulan kemudian, pada November 2024, ia dipecat dari keanggotaan Partai Komunis China setelah ditemukan bukti kuat keterlibatannya dalam praktik korupsi. Pada akhir 2024, Tang ditahan resmi dan mulai menjalani proses peradilan.
Detail Kasus dan Dugaan Suap
Dalam dakwaan resmi yang dibacakan di pengadilan, Tang diduga menerima suap senilai total 268 juta yuan dari berbagai sumber. Uang suap ini diduga berasal dari individu dan korporasi yang terlibat dalam proyek pertanian dan pengembangan pedesaan, yang membutuhkan persetujuan kementerian untuk berbagai perizinan dan alokasi dana.
Suap tersebut diberikan dalam berbagai bentuk, termasuk uang tunai, properti, saham, dan kemudahan-kemudahan bisnis. Dalam beberapa kasus, Tang juga diduga menggunakan orang-orang dekatnya sebagai perantara untuk menerima suap agar tidak terdeteksi langsung.
Proses Pengadilan dan Putusan
Persidangan berlangsung selama beberapa bulan dengan menghadirkan sejumlah saksi dan bukti. Dalam putusan yang dibacakan pada 28 September 2025, majelis hakim menilai bahwa Tang secara sah dan meyakinkan terbukti bersalah atas tuduhan suap dan pelanggaran etika jabatan.
Namun, karena Tang menunjukkan penyesalan, mengakui kesalahan, dan mengembalikan sebagian besar aset yang diperoleh secara ilegal, hakim memutuskan hukuman mati dengan penangguhan selama dua tahun. Penangguhan ini memberi kesempatan bagi terdakwa untuk mengubah vonis menjadi penjara seumur hidup, apabila selama masa penangguhan ia menunjukkan perilaku baik dan tidak melakukan pelanggaran baru.
Selain hukuman pokok, pengadilan juga menjatuhkan sanksi pencabutan hak politik seumur hidup dan penyitaan seluruh harta benda yang berkaitan dengan hasil korupsi.
Implikasi Kampanye Anti-Korupsi di Tiongkok
Kasus ini merupakan bagian dari kampanye anti-korupsi besar-besaran yang diluncurkan oleh Presiden Xi Jinping sejak 2012. Kampanye ini telah menjangkau hampir seluruh lini pemerintahan, militer, serta sektor bisnis negara, dan berhasil menjerat ribuan pejabat di berbagai tingkatan.
Pengadilan atas Tang Renjian menunjukkan keseriusan pemerintah Tiongkok dalam menindak pejabat tinggi yang menyalahgunakan jabatan. Namun, sejumlah pengamat menilai bahwa kampanye ini juga dipengaruhi oleh dinamika politik internal Partai Komunis, yang terkadang menggunakan operasi anti-korupsi sebagai alat konsolidasi kekuasaan.
Reaksi Masyarakat dan Pengamat
Pemerintah Tiongkok melalui media resmi menyambut positif vonis ini sebagai bukti bahwa sistem hukum negara tersebut tidak pandang bulu dalam menegakkan hukum terhadap koruptor.
Masyarakat luas, khususnya di Tiongkok, melihat vonis ini sebagai bentuk penegakan keadilan yang penting untuk mengembalikan kepercayaan publik terhadap birokrasi pemerintah.
Namun, di kalangan pengamat internasional dan akademisi, terdapat diskusi mengenai efektivitas dan objektivitas kampanye anti-korupsi tersebut, mengingat latar belakang politik yang kompleks di negara tersebut.
Dampak Terhadap Kebijakan Pertanian dan Perekonomian
Tang Renjian merupakan sosok yang cukup berpengaruh dalam sektor pertanian. Penjatuhan hukuman ini diperkirakan akan menimbulkan perubahan dalam struktur kepemimpinan kementerian dan berpotensi berdampak pada kelangsungan kebijakan pertanian, terutama yang berkaitan dengan pengembangan pedesaan dan distribusi dana.
Pihak berwenang Tiongkok sudah mengisyaratkan akan mengisi posisi kosong tersebut dengan pejabat yang berintegritas tinggi sebagai upaya memperbaiki tata kelola dan transparansi.
Penutup
Kasus ini menggarisbawahi tantangan besar yang dihadapi oleh negara-negara dalam memberantas korupsi, terutama di tingkat pemerintahan yang tinggi. Vonis atas Tang Renjian menunjukkan bahwa meski pejabat dengan jabatan strategis sekalipun tidak luput dari pengawasan dan penegakan hukum.

