Jakarta, 21 Juli 2025 — Sejumlah pelaku usaha di pusat perbelanjaan dan kafe di berbagai kota di Indonesia tengah menghadapi tantangan baru yang unik. Fenomena yang dikenal dengan sebutan “ROJALI”, akronim dari Rombongan Jarang Beli, kini menjadi sorotan. Tren ini mengacu pada sekelompok pengunjung yang datang ke pusat perbelanjaan atau tempat usaha kuliner, namun melakukan transaksi sangat minim atau bahkan tidak sama sekali.
Meski tampak ramai dari segi kunjungan, pengelola tempat usaha justru menyebut bahwa fenomena tersebut berdampak pada penurunan pendapatan harian. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran tersendiri, terutama di tengah kondisi ekonomi masyarakat yang belum sepenuhnya pulih pascapandemi dan fluktuasi harga kebutuhan pokok.
Keterangan Pelaku Usaha: Pengunjung Ramai, Belanja Sepi
Salah satu pengelola kafe di kawasan Yogyakarta, Sinta (bukan nama sebenarnya), mengatakan bahwa selama beberapa bulan terakhir jumlah pengunjung meningkat, namun tingkat pembelian menurun drastis.
“Kursi penuh, Wi-Fi terus dipakai, tapi ada yang cuma pesan satu minuman untuk tiga jam nongkrong. Kami senang ramai, tapi sulit bertahan jika begini terus,” ungkapnya.
Ia menjelaskan bahwa fenomena ini banyak didominasi oleh kelompok mahasiswa atau anak muda yang menjadikan kafe sebagai tempat belajar, diskusi, atau sekadar menghabiskan waktu luang.
Sisi Konsumen: Tempat Nyaman, Tapi Daya Beli Terbatas
Di sisi lain, beberapa pengunjung yang berhasil ditemui menyatakan bahwa kafe atau mal menjadi ruang publik alternatif yang nyaman, terutama karena keterbatasan tempat umum gratis yang tersedia.
Andika (22), seorang mahasiswa, mengatakan bahwa ia dan teman-temannya memilih berkumpul di kafe karena butuh tempat yang tenang dan punya fasilitas lengkap.
“Kami juga sadar tempat usaha butuh pemasukan, tapi kondisi keuangan juga pas-pasan. Kami usahakan tetap beli, meski hanya satu dua menu,” ujarnya.
Hal ini mencerminkan tantangan ekonomi nyata yang dihadapi oleh generasi muda, serta minimnya fasilitas publik terbuka yang memadai untuk mendukung kegiatan produktif di luar rumah.
Tanggapan Pengamat dan Solusi Alternatif
Pengamat bisnis ritel dari Universitas Indonesia, Dr. Ratna Maulida, menjelaskan bahwa fenomena ini merupakan bentuk perubahan perilaku konsumen yang harus disikapi secara adaptif.
“Pengusaha perlu mencari solusi win-win, misalnya dengan menetapkan batas waktu duduk atau minimal pembelian tanpa mengusir konsumen secara langsung,” katanya.
Menurutnya, membangun komunikasi yang baik dengan pengunjung bisa menjadi langkah awal yang bijak dibandingkan menerapkan aturan yang berpotensi memicu konflik atau memperburuk citra usaha.
Aspek Etika dan Sosial: Menjaga Keseimbangan
Fenomena “ROJALI” juga menyoroti persimpangan antara etika bisnis dan kebutuhan sosial. Di satu sisi, pemilik usaha memiliki hak untuk menjaga kelangsungan bisnisnya. Namun di sisi lain, masyarakat juga membutuhkan ruang sosial yang terjangkau, terutama dalam kondisi ekonomi yang menantang.
Dalam hal ini, sejumlah tempat usaha telah menerapkan pendekatan lunak seperti menu “bayar seikhlasnya”, sistem Wi-Fi berbasis pembelian, atau pengingat sopan agar tempat tidak dijadikan ruang kerja gratis tanpa transaksi.
