Jakarta, Mata4.com – Jalur Gaza hari ini bukan sekadar medan perang bersenjata. Di balik dentuman bom dan puing bangunan, berlangsung perang sunyi yang tak kalah mematikan: perlombaan melawan waktu untuk mendapatkan perawatan medis. Dalam perang ini, kematian kerap menjadi pemenang. Fakta memilukan tersebut diungkapkan oleh perwakilan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk wilayah Palestina yang diduduki, Rik Peeperkorn, dalam laporannya di markas besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York.
Mengutip otoritas kesehatan Gaza, Peeperkorn menyampaikan bahwa antara Juli 2024 hingga 28 November 2025, sedikitnya 1.092 pasien meninggal dunia saat menunggu evakuasi medis ke luar wilayah Gaza. Mereka bukan korban langsung serangan militer, melainkan pasien yang seharusnya bisa diselamatkan bila akses perawatan lanjutan terbuka. Angka ini pun diyakini hanya puncak gunung es, karena didasarkan pada laporan resmi yang berhasil dihimpun di tengah situasi darurat.
Kematian dalam antrean evakuasi menjadi gambaran nyata tertutupnya pintu-pintu rumah sakit rujukan bagi warga Gaza. Ribuan pasien dengan penyakit kronis, cedera serius, hingga kondisi darurat lain terperangkap di wilayah yang sistem kesehatannya nyaris lumpuh. Bagi mereka, izin keluar Gaza bukan sekadar dokumen administratif, melainkan penentu hidup dan mati.
Sistem kesehatan Gaza kini berada di ambang keruntuhan total. Data WHO menunjukkan hanya 18 dari 36 rumah sakit yang masih berfungsi, itu pun dengan kapasitas terbatas. Pusat layanan kesehatan primer yang beroperasi tak sampai separuh dari jumlah normal. Di banyak fasilitas, listrik, air bersih, dan tenaga medis menjadi kemewahan yang sulit dipenuhi secara konsisten.
Kelangkaan obat-obatan esensial dan perlengkapan medis semakin memperburuk situasi. Obat untuk penyakit jantung, diabetes, kanker, hingga gagal ginjal menjadi barang langka. Pasien dengan penyakit kronis terpaksa menghentikan pengobatan rutin, meningkatkan risiko komplikasi fatal. Peralatan medis rusak tak bisa diperbaiki karena ketiadaan suku cadang dan reagen laboratorium.
Meski WHO mencatat adanya sedikit perbaikan dalam tingkat persetujuan masuknya bantuan ke Gaza, proses pengiriman masih dinilai terlalu lambat dan berbelit. Banyak pasokan tertahan berbulan-bulan, sementara kebutuhan di lapangan bersifat mendesak. Otoritas Israel juga dikritik karena menolak masuknya sejumlah barang medis dengan alasan fungsi ganda atau dual use, termasuk komponen mesin vital yang sejatinya hanya digunakan untuk pelayanan kesehatan.

Peeperkorn mendesak adanya persetujuan menyeluruh dan mekanisme yang lebih cepat untuk memastikan pasokan medis dapat masuk tanpa hambatan. Tanpa itu, rumah sakit yang masih berdiri hanya akan menjadi tempat menunggu ajal, bukan pusat penyelamatan nyawa.
Di tengah krisis kesehatan yang akut, penderitaan warga Gaza diperparah oleh faktor alam. Badai Byron yang melanda wilayah tersebut merusak tenda-tenda pengungsi yang rapuh dan memperburuk kondisi kehidupan ratusan ribu orang. Musim dingin ekstrem, minimnya akses air bersih, serta sanitasi yang buruk menciptakan lingkungan ideal bagi penyebaran penyakit.
WHO memperingatkan potensi lonjakan infeksi saluran pernapasan akut, hepatitis, dan penyakit diare dalam waktu dekat. Ancaman ini sangat berbahaya bagi kelompok paling rentan, terutama anak-anak, lansia, dan pasien dengan riwayat penyakit kronis. Bagi mereka, satu infeksi ringan dapat berubah menjadi vonis mati ketika layanan kesehatan tak mampu merespons.
Seruan kepada komunitas internasional kembali digaungkan. WHO meminta lebih banyak negara bersedia menerima pasien dari Gaza dan mendesak pemulihan segera jalur evakuasi medis ke Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur. Evakuasi yang aman dan cepat dipandang sebagai satu-satunya cara untuk mencegah bertambahnya korban jiwa yang seharusnya dapat diselamatkan.
Tanpa tindakan nyata dan tekanan global yang konsisten, angka 1.092 kematian itu bukanlah akhir cerita. Ia hanyalah permulaan dari tragedi kemanusiaan yang lebih besar, ketika hak paling dasar manusia untuk hidup dan sehat terhenti di meja birokrasi dan blokade yang tak berkesudahan.
