Palestina, Mata4.com — Setelah berminggu-minggu berada di ambang kehancuran total, Jalur Gaza akhirnya menghirup udara lega. Gencatan senjata resmi mulai berlaku pada Jumat (10/10/2025) pukul 12.00 waktu setempat atau 16.00 WIB, menandai berakhirnya babak kekerasan terbaru antara Israel dan kelompok militan Palestina di wilayah tersebut.
Kabar bersejarah ini dikonfirmasi langsung oleh Pasukan Pertahanan Israel (IDF) melalui pernyataan resmi di kanal Telegram. Dalam pesan tersebut, IDF menyatakan bahwa pasukannya mulai memosisikan diri di sepanjang garis baru yang telah disepakati sebagai bagian dari implementasi perjanjian gencatan senjata.
“Perjanjian Gencatan Senjata berlaku pada pukul 12.00. Sejak waktu itu, pasukan IDF menempatkan diri di sepanjang garis penempatan baru sebagai persiapan untuk pelaksanaan perjanjian gencatan senjata dan pemulangan sandera,” tulis IDF.
Langkah ini menjadi titik balik dalam konflik berkepanjangan yang telah menelan ribuan korban jiwa dan meninggalkan kehancuran luas di wilayah Gaza.
Fokus Baru: Pembebasan Sandera
Tak lama setelah gencatan senjata efektif diberlakukan, perhatian internasional langsung tertuju pada nasib para sandera Israel yang masih ditahan di Jalur Gaza.
Dmitri Gendelman, Penasihat Kantor Kepala Otoritas Israel, mengonfirmasi bahwa pembebasan para sandera akan dimulai awal pekan depan, yakni pada Senin (13/10/2025) atau Selasa (14/10/2025).
“Pemerintah telah menyetujui kesepakatan sandera. Sandera Israel akan dibebaskan pada awal minggu depan,” ujar Gendelman melalui Telegram.
Pertukaran Sensitif: Hidup dan Jenazah
Kesepakatan ini bukan sekadar pertukaran sandera biasa. Sumber diplomatik menyebut proses tersebut sebagai “pertukaran paling sensitif dalam sejarah modern konflik Israel-Palestina.”

Dalam kesepakatan ini, 20 sandera Israel yang masih hidup akan dibebaskan. Namun, perjanjian tersebut juga mencakup pengembalian 28 jenazah sandera yang dilaporkan tewas selama masa penahanan.
Sebagai bagian dari kesepakatan, Israel juga akan menyerahkan kembali 360 jenazah pejuang Palestina yang tewas dalam pertempuran. Mekanisme pertukarannya diatur secara rinci: 15 jenazah pejuang Palestina ditukar dengan satu warga Israel yang meninggal dunia.
Proses ini diperkirakan akan berlangsung selama 72 jam sejak perjanjian gencatan senjata mulai berlaku.
Diplomasi Panjang dan Rencana Trump
Kesepakatan gencatan senjata ini merupakan hasil dari upaya diplomatik yang panjang dan rumit, dengan Amerika Serikat berperan sebagai mediator utama.
Presiden AS Donald Trump, yang sejak akhir September aktif mengusulkan “rencana damai 20 poin”, mengklaim bahwa kesepakatan gencatan senjata dan pembebasan sandera merupakan fase pertama dari peta jalan perdamaian yang disusun pemerintahannya.
Rencana tersebut mencakup:
- Gencatan senjata segera selama 7 hari pertama.
- Pembebasan sandera dalam 72 jam pertama.
- Penarikan pasukan Israel ke garis yang disepakati.
- Pembentukan “komite teknokrat Palestina non-politik” untuk mengelola administrasi Gaza.
- Pengawasan internasional yang dipimpin oleh Amerika Serikat, dengan dukungan PBB, Mesir, dan Qatar.
Trump menegaskan bahwa kesepakatan ini bertujuan menghentikan spiral kekerasan dan membuka jalan bagi stabilitas jangka panjang di kawasan.
“Kedua pihak telah menandatangani fase pertama perdamaian. Ini awal dari rekonstruksi Gaza dan rekonsiliasi yang lebih luas,” ujar Trump pada 8 Oktober lalu di Washington.
Harapan dan Skeptisisme
Meski disambut dengan lega oleh masyarakat internasional, sejumlah pihak memperingatkan bahwa gencatan senjata ini masih rapuh.
PBB melalui pernyataan resminya mengingatkan bahwa tanpa upaya nyata dalam pemulihan kemanusiaan dan rekonsiliasi politik, gencatan senjata hanya akan menjadi “harapan palsu yang sementara.”
Baca Juga:
ojk teliti patriot bond milik danantara
Banyak warga Gaza sendiri menyambut kabar damai ini dengan kehati-hatian. Setelah berminggu-minggu kehilangan rumah dan keluarga, sebagian besar dari mereka masih menunggu bukti nyata bahwa kekerasan benar-benar berakhir.
“Kami ingin percaya ini akhir dari perang,” kata Aisha Al-Khalil, seorang warga Gaza yang kini tinggal di tenda pengungsian. “Tapi setelah semua yang terjadi, kami hanya bisa berharap, bukan yakin.”
