Bekasi, Mata4.com — Momentum halal bihalal dimanfaatkan organisasi Forum Betawi Rempug (FBR) untuk memperkuat persatuan internal sekaligus menjaga harmoni sosial di tengah dinamika masyarakat. Kegiatan tersebut digelar di Gedung Sekretariat FBR Kota Bekasi, Jalan Utama Ki Ijo Kisem, Kelurahan Jaka Setia, Kecamatan Bekasi Selatan, kawasan Galaxy City, Selasa (7/4).
Ketua Umum FBR, KH. Lutfi Hakim, menegaskan bahwa halal bihalal bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan memiliki akar historis yang kuat sebagai sarana merajut kembali persatuan bangsa. Ia menyebut konsep halal bihalal pernah digagas oleh Wahab Hasbullah dan diperkuat pada masa Soekarno saat menghadapi ancaman disintegrasi nasional.
“Halal bihalal ini bukan hanya seremoni. Ini adalah momentum untuk menyatukan kembali hati dan pikiran, terutama dalam menjaga keutuhan bangsa,” ujar Lutfi.
Ia menambahkan, makna halal bihalal saat ini perlu dikembalikan ke esensi awal, yakni saling memaafkan secara tulus dan menjaga kebersamaan. Menurutnya, nilai tersebut harus benar-benar diimplementasikan, bukan sekadar formalitas.
“Jangan hanya sekadar salaman dan ucapan maaf. Harus dari hati, benar-benar menghalalkan dan memaafkan agar kita kembali ke titik nol,” tegasnya.
Lebih lanjut, Lutfi juga mengingatkan pentingnya kewaspadaan di tengah derasnya arus informasi, khususnya di media sosial. Ia mengimbau masyarakat agar tidak mudah terprovokasi maupun menyebarkan informasi yang belum terverifikasi kebenarannya.
“Jangan sampai kita terjebak hoaks yang bisa berdampak hukum dan memicu kerawanan sosial. Kita semua punya tanggung jawab menjaga harmoni,” katanya.
Sementara itu, Ketua Korwil FBR Kota Bekasi, Novel Said, menekankan bahwa kegiatan halal bihalal menjadi instrumen penting dalam mempererat solidaritas antar anggota.
Ia menjelaskan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian tradisi FBR selama bulan Ramadan, mulai dari ruwahan, santunan anak yatim, hingga buka puasa bersama.
“Halal bihalal ini untuk menyatukan. Dengan kebersamaan, kita bisa saling mendoakan, termasuk untuk para pendahulu yang telah wafat,” ujarnya.
Novel juga menegaskan pentingnya menjaga identitas dan peran masyarakat lokal di tengah perkembangan kota yang semakin pesat. Ia menyebut FBR Kota Bekasi memiliki sekitar 50 gardu dengan estimasi ribuan anggota yang menjadi kekuatan sosial dalam menjaga kebersamaan dan budaya Betawi.
“Intinya, kita ingin tetap menjadi tuan rumah di kampung sendiri, tanpa mengesampingkan kebersamaan dan persatuan,” katanya.
Melalui kegiatan ini, FBR berharap nilai-nilai budaya dan semangat persatuan dapat terus terjaga, sekaligus mendorong masyarakat untuk lebih bijak dalam menyikapi perbedaan serta arus informasi di era digital.
