Jakarta, Mata4.com – Setelah sempat rusak parah akibat aksi demonstrasi beberapa waktu lalu, Halte TransJakarta Senen kini kembali dibuka untuk publik dengan wajah baru dan nama baru: Halte Jaga Jakarta. Perubahan ini bukan sekadar renovasi fisik, tetapi juga menjadi simbol reflektif dan edukatif tentang pentingnya menjaga ketertiban, fasilitas publik, serta mengingatkan warga akan tanggung jawab bersama dalam menjaga kota.
Halte ini sebelumnya menjadi salah satu titik yang terdampak paling parah dalam aksi massa yang berlangsung bulan lalu. Dalam peristiwa tersebut, beberapa bagian halte dibakar dan dirusak, mengakibatkan layanan TransJakarta terganggu selama hampir dua pekan di jalur tersebut.
Halte Jadi Simbol Edukasi, Bukan Sekadar Tempat Transit
Dalam peresmian yang digelar pada Senin (8/9), Direktur Utama PT Transportasi Jakarta (TransJakarta), Teguh Wibowo, menjelaskan bahwa nama “Jaga Jakarta” dipilih sebagai bentuk ajakan kepada seluruh masyarakat agar ikut merawat kota, tidak hanya secara fisik, tetapi juga secara sosial.
“Kami ingin halte ini menjadi simbol pengingat. Aksi massa adalah bagian dari demokrasi, tapi merusak fasilitas publik bukanlah bentuk aspirasi yang bertanggung jawab,” kata Teguh dalam sambutannya.
Sebagai bagian dari pendekatan edukatif, PT TransJakarta juga menghadirkan instalasi visual permanen di dalam halte tersebut. Di salah satu sisi ruangan, pengunjung bisa melihat dokumentasi berupa potongan logam terbakar, puing-puing sisa kebakaran, serta foto-foto halte saat dalam kondisi rusak. Instalasi ini dikurasi secara khusus untuk menampilkan dampak nyata dari kekerasan massa terhadap fasilitas umum yang digunakan jutaan warga setiap hari.
“Kita tidak ingin melupakan insiden ini. Tapi kita juga tidak ingin membalasnya dengan amarah. Kita jadikan sebagai pelajaran bersama,” tambah Teguh.
Respons Warga dan Pengamat: Apresiasi Disertai Catatan
Reaksi masyarakat terhadap konsep Halte Jaga Jakarta cukup beragam. Sebagian besar warga pengguna TransJakarta mengapresiasi langkah tersebut karena dianggap sebagai bentuk pendekatan humanis dalam menangani dampak aksi demonstrasi.
Dini Rahmawati, warga Kemayoran yang sehari-hari menggunakan TransJakarta, menyampaikan bahwa instalasi edukatif di halte membuatnya berpikir ulang tentang pentingnya menjaga fasilitas umum.
“Biasanya orang cuma lewat, sekarang bisa berhenti sebentar, lihat, dan merenung. Ini cara yang cerdas dan tidak menggurui,” ujarnya.
Namun, sejumlah aktivis masyarakat sipil memberikan catatan kritis. Andri Prasetyo, peneliti isu-isu demokrasi dari Lembaga Kajian Kebijakan Publik (LKPP), menyatakan bahwa pesan menjaga fasilitas publik tidak boleh mengaburkan akar dari aksi demonstrasi itu sendiri.
“Jangan sampai pendekatan ini justru digunakan untuk membungkam aspirasi masyarakat. Kritik terhadap pemerintah harus tetap didengarkan. Sementara vandalisme dan kekerasan tetap harus ditindak secara proporsional,” tegas Andri.
Pemprov DKI dan TransJakarta Evaluasi Keamanan Fasilitas Publik
Sebagai tindak lanjut dari kejadian tersebut, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyatakan akan melakukan evaluasi sistem pengamanan dan desain ulang halte-halte strategis. Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Andika Prasetya, menegaskan bahwa pihaknya akan memperkuat koordinasi dengan kepolisian dan aparat keamanan lainnya, terutama selama momen rawan unjuk rasa.
“Kami juga sedang merancang desain halte yang lebih tahan terhadap kerusakan fisik tanpa mengurangi nilai estetika dan kenyamanan pengguna,” ujar Andika.
TransJakarta juga disebut akan menambah jumlah CCTV aktif, memperluas pengawasan real-time, serta melatih petugas lapangan agar siap menghadapi situasi darurat secara humanis dan profesional.
Biaya Pemulihan dan Dampak Sosial
Kerusakan halte Senen disebut menelan biaya pemulihan sekitar Rp 3,8 miliar, mencakup renovasi struktural, penggantian alat elektronik dan panel informasi, serta pembangunan ruang edukasi publik. Selama masa perbaikan, ribuan penumpang yang biasa transit di Halte Senen terpaksa harus menggunakan jalur alternatif, yang sempat menyebabkan kepadatan di halte-halte sekitar.
Namun, Direktur Operasional TransJakarta memastikan bahwa semua layanan kini sudah kembali normal dan tidak ada pengalihan rute lagi.
Penutup: Dari Tragedi Menjadi Edukasi
Halte Jaga Jakarta menjadi contoh bagaimana sebuah fasilitas publik tidak hanya menjalankan fungsi praktis sebagai tempat transit, tetapi juga sebagai ruang sosial yang membentuk kesadaran kolektif. Dengan menghadirkan elemen edukatif dan simbolik di ruang publik, TransJakarta berharap masyarakat semakin sadar akan pentingnya merawat kota bersama-sama.
“Jakarta adalah milik kita semua. Yang rusak, kita perbaiki. Yang salah, kita benahi. Tapi yang lebih penting, kita ingat bersama,” pungkas Teguh Wibowo di akhir acara peresmian.

