Jakarta, 1 September 2025 – Harga emas dunia mengalami koreksi pada awal pekan ini setelah mencatatkan penguatan signifikan dalam beberapa minggu terakhir. Meski demikian, tren bullish dinilai masih solid seiring dengan ketidakpastian ekonomi global dan prospek pemangkasan suku bunga oleh bank sentral utama.
Berdasarkan data perdagangan Senin (1/9/2025), harga emas di pasar spot melemah tipis ke level USD 2.435 per troy ons, turun sekitar 0,3 persen dibandingkan penutupan akhir pekan lalu. Sementara itu, emas berjangka di bursa COMEX juga terkoreksi ke kisaran USD 2.445 per troy ons.
Sejumlah analis menilai koreksi harga emas kali ini lebih disebabkan oleh aksi ambil untung investor setelah reli panjang dalam dua bulan terakhir. Namun, faktor fundamental masih mendukung potensi penguatan harga logam mulia tersebut.

“Tren emas jangka menengah hingga panjang tetap positif. Sentimen dovish dari Federal Reserve dan potensi pelemahan dolar AS bisa terus menopang harga emas,” kata seorang analis komoditas dari sebuah perusahaan riset pasar di Singapura.
Selain faktor suku bunga, ketegangan geopolitik di beberapa kawasan serta meningkatnya permintaan emas dari bank sentral dunia juga menjadi pendorong kenaikan harga. Data World Gold Council (WGC) mencatat, pembelian emas oleh bank sentral pada kuartal kedua 2025 naik signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Di dalam negeri, harga emas batangan Antam pada Senin (1/9) tercatat Rp 1.355.000 per gram, turun Rp 5.000 dibandingkan hari sebelumnya. Meski terkoreksi, harga emas masih berada di level tinggi dalam sejarah perdagangan emas di Indonesia.
Para pelaku pasar memperkirakan harga emas akan tetap bergerak volatil dalam beberapa pekan ke depan. Investor disarankan mencermati perkembangan kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat, inflasi global, serta dinamika geopolitik internasional sebagai faktor utama yang memengaruhi pergerakan harga emas.
