Jakarta, Mata4.com — Pengabdian terhadap negara tidak selalu ditunjukkan dengan sorotan kamera atau jabatan tinggi. Dalam dunia birokrasi, ada sosok-sosok yang bekerja dalam diam, dengan ketekunan dan konsistensi, memastikan pelayanan publik tetap berjalan. Salah satu di antaranya adalah Harison Mocodompis, pegawai Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), yang telah mengabdikan dirinya selama lebih dari 30 tahun.
Sejak pertama kali bergabung dengan ATR/BPN pada awal tahun 1990-an, Harison telah menjalani perjalanan karier panjang, menyaksikan langsung berbagai dinamika dan perubahan di sektor pertanahan nasional. Ia melewati berbagai era kebijakan, reformasi birokrasi, serta transformasi pelayanan dari sistem manual menuju digital.
“Tiga dekade bukan waktu yang singkat. Tapi saya menjalaninya dengan penuh rasa tanggung jawab dan kebanggaan sebagai bagian dari institusi yang melayani hak dasar rakyat,” ujar Harison dalam wawancara resmi yang dirilis oleh Kementerian ATR/BPN, Jumat (11/10/2025).
Meniti Karier dari Bawah
Karier Harison dimulai dari jenjang awal, ketika pelayanan pertanahan masih dilakukan secara manual dan proses administrasi kerap kali memakan waktu panjang. Ia mengaku banyak belajar dari interaksi langsung dengan masyarakat, serta memahami betapa pentingnya akses legalitas tanah bagi kesejahteraan warga.
“Saya melihat langsung bagaimana sertifikat tanah bisa mengubah hidup seseorang, memberi kepastian dan keberanian untuk membangun masa depan,” tuturnya.
Selama bertugas, Harison pernah ditempatkan di berbagai daerah, termasuk wilayah terpencil yang menuntut adaptasi cepat dan kedekatan sosial dengan masyarakat lokal. Pengalaman tersebut, menurutnya, justru memperkaya pemahaman akan keberagaman kebutuhan dan tantangan pertanahan di Indonesia.
Saksi Transformasi Layanan Pertanahan
Dalam tiga dekade masa tugasnya, Harison menjadi saksi dari berbagai perubahan kebijakan dan reformasi layanan. Salah satu yang paling signifikan adalah pelaksanaan program reforma agraria serta digitalisasi layanan pertanahan yang diusung Kementerian ATR/BPN dalam beberapa tahun terakhir.
Digitalisasi dinilai Harison sebagai langkah penting untuk mempermudah akses layanan dan mengurangi potensi penyimpangan dalam birokrasi. Namun, ia juga menegaskan bahwa perubahan teknologi harus dibarengi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
“Pelayanan yang cepat dan transparan tak bisa lepas dari kompetensi petugasnya. Teknologi penting, tapi etika dan kejujuran dalam melayani masyarakat tetap jadi kunci,” ujarnya.
Mengawal Reforma Agraria dan Legalitas Tanah
Selama masa pengabdiannya, Harison juga terlibat dalam program sertifikasi tanah yang menjadi bagian dari agenda besar reforma agraria nasional. Program ini bertujuan memberikan kepastian hukum kepada masyarakat atas kepemilikan tanah, serta mendorong penguatan ekonomi lokal melalui aset legal.
“Banyak masyarakat yang dulunya ragu membangun rumah atau usaha karena tidak punya sertifikat tanah. Ketika mereka mendapatkan legalitas, mereka merasa lebih aman dan berani untuk berkembang,” kata Harison.
Ia mengungkapkan, salah satu pengalaman paling membekas adalah saat dirinya turut serta dalam program sertifikasi tanah di daerah rawan konflik agraria. Di sana, kehadiran aparat pertanahan tidak hanya membawa dokumen, tapi juga harapan dan rasa keadilan bagi masyarakat.
Menjaga Integritas dalam Setiap Langkah
Selama bertahun-tahun, Harison dikenal sebagai sosok yang menjunjung tinggi integritas. Dalam dunia pertanahan, di mana potensi penyalahgunaan kewenangan cukup tinggi, menjaga etika dan profesionalitas menjadi hal yang tidak bisa ditawar.
Rekan-rekannya di ATR/BPN menyebut Harison sebagai figur yang bersikap tegas namun adil, teliti dalam bekerja, serta tak pernah memanfaatkan jabatan untuk kepentingan pribadi.
“Saya percaya, melayani masyarakat dengan niat yang bersih akan memberi kepuasan batin tersendiri. Kita bukan hanya bekerja untuk institusi, tapi untuk rakyat,” ujarnya.
Inspirasi bagi ASN Muda
Mendekati masa pensiun, Harison tidak berhenti belajar ataupun berbagi. Ia aktif memberikan pembekalan dan motivasi kepada ASN muda di lingkungan kementerian. Bagi Harison, regenerasi birokrasi yang berintegritas adalah pondasi untuk masa depan pelayanan publik yang lebih baik.
“Saya ingin mereka melihat profesi ini bukan sekadar rutinitas, tapi panggilan. Jika kita bekerja dengan niat yang baik, hasilnya akan membawa manfaat bagi banyak orang,” ujarnya.
Ia juga mendorong generasi muda untuk tidak alergi terhadap tantangan, dan terus terbuka terhadap perubahan, khususnya dalam hal teknologi dan pelayanan berbasis digital.
Apresiasi dari Instansi dan Masyarakat
Atas dedikasinya, Harison telah menerima sejumlah penghargaan dari internal kementerian. Namun, ia menyebut bahwa apresiasi terbesar adalah saat masyarakat puas dengan layanan dan mendapatkan hak mereka secara adil.
“Penghargaan bisa datang dan pergi. Tapi kepercayaan masyarakat, itu yang harus terus dijaga,” kata Harison.
Kementerian ATR/BPN dalam keterangan tertulis menyampaikan rasa hormat dan terima kasih kepada Harison atas pengabdiannya selama lebih dari tiga dekade. Ia disebut sebagai sosok yang menjadi teladan dalam menjaga semangat pelayanan publik.
Tentang Kementerian ATR/BPN
Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) adalah lembaga pemerintah yang memiliki tanggung jawab dalam mengatur kebijakan agraria dan pengelolaan ruang wilayah. Salah satu program prioritas kementerian ini adalah reforma agraria, percepatan sertifikasi tanah, serta peningkatan layanan pertanahan berbasis digital.
Kementerian ATR/BPN juga tengah mendorong integrasi data pertanahan secara nasional dan pembenahan tata ruang untuk mendukung pemerataan pembangunan.
Penutup
Pengabdian Harison Mocodompis selama tiga dekade di Kementerian ATR/BPN adalah potret nyata dari dedikasi, konsistensi, dan loyalitas dalam pelayanan publik. Di tengah berbagai tantangan dan dinamika perubahan zaman, ia tetap memegang prinsip dasar sebagai abdi negara: melayani dengan hati, bekerja dengan integritas.
Sosok seperti Harison menjadi inspirasi bahwa birokrasi yang bersih, profesional, dan manusiawi bukan sekadar idealisme — tetapi bisa diwujudkan lewat langkah nyata, satu tugas demi tugas, selama puluhan tahun.

