Jakarta, Mata4.com — Kementerian Agama (Kemenag) RI berkolaborasi dengan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) meluncurkan program pendanaan riset bertajuk Ministry of Religious Affairs The Awakened Indonesia Research Funds atau MoRA The AIR Funds Program.
Program ini bertujuan mempercepat peningkatan kualitas riset dan daya saing sumber daya manusia (SDM) di lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan (PTK) dan Ma’had Aly, sejalan dengan visi besar Indonesia Emas 2045.
SDM Jadi Kunci Daya Saing Bangsa
Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Kemenag, Sahiron, menegaskan bahwa penguatan SDM merupakan faktor kunci agar Indonesia mampu bersaing di tingkat global. Menurutnya, riset menjadi langkah strategis untuk menjamin lahirnya SDM berkualitas dan adaptif terhadap perkembangan zaman.
“SDM menjadi kata kunci agar Indonesia tetap eksis dan mampu bersaing dengan bangsa-bangsa lain. Riset adalah arus utama untuk menjamin tumbuhnya SDM berkualitas dan berdaya saing,” ujar Sahiron di Jakarta, Selasa (28/10/2025).
Sahiron mengungkapkan, rasio penduduk Indonesia bergelar Magister (S2) dan Doktor (S3) saat ini baru mencapai 0,49%, jauh tertinggal dari Malaysia, Vietnam, dan Thailand (2,43%), serta negara maju (9,8%).
Melalui MoRA The AIR Funds, Kemenag berharap dapat memperluas partisipasi peneliti dari lingkungan perguruan tinggi keagamaan dalam menghasilkan riset yang berkontribusi bagi kemajuan bangsa.

Rp 50 Miliar per Tahun untuk 2024–2026
Kepala Pusat Pembiayaan Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan (Puspenma) Kemenag RI, Ruchman Basori, menjelaskan bahwa Kemenag mendapat amanah dari LPDP untuk mengelola dana riset senilai Rp 50 miliar per tahun selama periode 2024–2026.
“Pada tahun anggaran 2024, telah didanai 47 tema penelitian, melibatkan 201 periset dari 20 perguruan tinggi keagamaan,” jelas Ruchman.
Ia berharap alokasi anggaran di masa mendatang dapat lebih besar, mengingat Kemenag menaungi sekitar 1.000 perguruan tinggi dengan puluhan ribu dosen di seluruh Indonesia.
Empat Tema Prioritas Riset
Ruchman merinci, terdapat empat fokus utama riset dalam program MoRA The AIR Funds:
- Sains dan Teknologi
- Sosial Humaniora
- Ekonomi dan Lingkungan
- Kebijakan Layanan Pendidikan dan Keagamaan
Setiap proposal riset dapat diajukan dengan skema multi-years (1–3 tahun), dengan pendanaan antara Rp 500 juta hingga Rp 2 miliar per proyek.
Dorong Kolaborasi dan Budaya Riset Baru
Lebih dari sekadar pembiayaan, program ini didesain untuk mengubah budaya riset di lingkungan PTK, dari yang semula bersifat individual menjadi kolaboratif (multi-helix). Riset kini didorong melibatkan berbagai pihak seperti lembaga riset nasional, perguruan tinggi umum, serta Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI).
Bagi para dosen PTK yang berminat, pendaftaran proposal telah dibuka sejak 23 Oktober hingga 7 November 2025 melalui platform eRISPRO LPDP.
“Transformasi kelembagaan PTK dari Sekolah Tinggi ke Institut dan Universitas kini menemukan momentumnya. Dari PTK untuk Indonesia dan dunia,” tutup Ruchman Basori.
Membangun Ekosistem Pengetahuan Nasional
Program MoRA The AIR Funds menjadi langkah nyata Kemenag dalam memperkuat ekosistem riset nasional yang inklusif, berbasis ilmu pengetahuan, dan berorientasi pada kemaslahatan umat.
Kolaborasi dengan LPDP diharapkan menjadi model sinergi lintas lembaga untuk membangun Indonesia yang berdaya saing, cerdas, dan berkeadaban, menuju Indonesia Emas 2045.
