Kediri, Jawa Timur, Mata4.com – Dunia kebencanaan dan mitigasi bencana di Indonesia kembali diguncang dengan insiden yang mencengangkan. Sebuah alat pemantau aktivitas vulkanik milik Badan Geologi dilaporkan hilang akibat pencurian di kawasan Gunung Kelud, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Peristiwa ini bukan hanya memprihatinkan dari sisi kriminalitas, tetapi juga menimbulkan ancaman serius terhadap keselamatan masyarakat yang tinggal di sekitar wilayah rawan erupsi.
Kronologi Kejadian: Hilangnya Alat Pemantauan Gunung Aktif
Berdasarkan keterangan dari Kepala Pos Pengamatan Gunung Kelud, alat yang dicuri merupakan bagian dari sistem pemantauan aktivitas vulkanik yang terdiri dari sensor kegempaan, GPS deformasi tanah, dan peralatan lainnya. Alat tersebut biasa digunakan untuk mendeteksi tekanan magma, pergeseran tanah, dan peningkatan aktivitas geologi yang bisa mengindikasikan potensi letusan.
Pencurian baru diketahui saat tim pemantauan melakukan pengecekan rutin ke lokasi pemasangan alat, yang berada di salah satu titik akses terbatas di lereng Gunung Kelud.
“Ketika kami tiba, perangkat sudah tidak ada. Kami pastikan alat itu bukan rusak atau terjatuh, tetapi benar-benar hilang dan diduga dicuri,” ujar salah satu petugas pengamat yang enggan disebut namanya.
Gunung Kelud: Gunung Api Aktif Berbahaya
Gunung Kelud merupakan salah satu dari 127 gunung api aktif di Indonesia, dengan catatan letusan besar terakhir pada tahun 2014. Letusan tersebut menyebabkan abu vulkanik menyebar hingga ratusan kilometer, menutup bandara, merusak pertanian, dan memaksa ribuan warga mengungsi.
Karena statusnya yang masih aktif dan berpotensi membahayakan, Kelud menjadi salah satu gunung yang dipantau secara intensif oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Sistem pemantauan terdiri dari jaringan alat modern yang tersebar di berbagai titik untuk memastikan adanya peringatan dini yang akurat.
Kehilangan satu saja dari perangkat ini dapat mengurangi kecepatan dan ketepatan dalam mendeteksi ancaman letusan, yang pada akhirnya bisa berakibat fatal jika tidak segera diatasi.
Motif Pencurian Diduga Ekonomi, Proses Investigasi Berjalan
Pihak kepolisian telah menerima laporan resmi terkait pencurian ini dan segera menurunkan tim investigasi. Dugaan sementara mengarah pada motif ekonomi, mengingat sebagian komponen alat mengandung logam dan komponen elektronik yang cukup mahal di pasar gelap.
Kapolres Kediri menyatakan, “Kami sedang menelusuri lokasi kejadian, memeriksa jejak dan saksi, serta berkoordinasi dengan pihak PVMBG untuk mengidentifikasi secara teknis peralatan yang hilang.”
Belum diketahui apakah pencurian ini dilakukan oleh pelaku tunggal atau sindikat yang sudah memahami nilai dan lokasi alat-alat pemantauan tersebut.
Dampak Langsung: Risiko Nyata Bagi Masyarakat Sekitar
Pencurian alat ini tidak bisa dianggap sebagai kasus pencurian biasa. Ini menyangkut keselamatan puluhan ribu warga yang tinggal di kawasan zona rawan bencana Gunung Kelud, termasuk wilayah Kediri, Blitar, dan Malang.
“Jika sewaktu-waktu terjadi peningkatan aktivitas vulkanik dan alat utama tidak berfungsi, maka kita bisa kehilangan waktu emas untuk memberikan peringatan dan menyelamatkan warga,” ungkap seorang ahli vulkanologi dari PVMBG.
Menurutnya, sistem mitigasi bencana sangat tergantung pada data real-time yang dikirim oleh alat pemantauan di lapangan. Hilangnya data, meskipun hanya dari satu titik, dapat mengganggu akurasi pemantauan secara keseluruhan.
Tanggapan Pemerintah dan Imbauan kepada Warga
Pemerintah daerah melalui BPBD Kabupaten Kediri telah mengeluarkan pernyataan yang mengecam keras tindakan pencurian ini. Mereka mengajak masyarakat untuk ikut menjaga fasilitas pemantauan bencana sebagai bagian dari kepentingan bersama.
“Kami imbau masyarakat untuk tidak menyentuh, merusak, atau mengambil alat-alat yang terpasang di wilayah gunung. Semua alat ini adalah bagian dari sistem nasional mitigasi bencana,” ujar Kepala BPBD dalam konferensi pers singkat.
Ia juga menyebut bahwa pihaknya akan menambah pengamanan dan patroli di sekitar area sensitif, serta berkoordinasi dengan aparat keamanan untuk mencegah kejadian serupa.
Reaksi Publik dan Warganet: “Ini Lebih dari Sekadar Pencurian”
Peristiwa ini langsung mendapat perhatian luas dari publik. Di media sosial, warganet mengecam keras tindakan pencurian tersebut. Banyak yang menyebutnya sebagai “tindakan tidak berperikemanusiaan” karena mempertaruhkan keselamatan orang banyak demi keuntungan pribadi.
Tagar seperti sempat ramai di lini masa Twitter dan Instagram, dengan desakan kepada pemerintah untuk memperketat pengamanan peralatan kebencanaan.
Penutup: Jangan Main-main dengan Nyawa Rakyat
Pencurian alat pemantauan Gunung Kelud menjadi pelajaran pahit tentang pentingnya kesadaran kolektif dalam menjaga infrastruktur vital kebencanaan. Alat-alat tersebut bukan hanya barang milik negara, melainkan penjaga kehidupan masyarakat yang berada di garis depan risiko bencana.
Aparat penegak hukum diharapkan dapat mengusut kasus ini hingga tuntas, dan pemerintah diharapkan bisa meningkatkan sistem keamanan terhadap perangkat-perangkat vital serupa di seluruh Indonesia.

