Aceh, Mata4.com – Banjir bandang dan tanah longsor yang melanda tiga provinsi di Sumatera menyebabkan korban jiwa ratusan orang dan kerusakan luas. Menteri Lingkungan Hidup sekaligus Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Hanif Faisol Nurofiq, menyatakan bahwa pihaknya telah mengerahkan tim khusus untuk mengkaji secara menyeluruh penyebab dan dampak bencana tersebut. Pernyataan itu disampaikan Hanif saat berkunjung ke Universitas Lambung Mangkurat (ULM) di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Sabtu (29/11/2025).
“Kami tentu mendalami detailnya, mengambil langkah-langkah yang diperlukan,” kata Hanif menegaskan. Ia menjelaskan bahwa siklon tropis yang melintas di wilayah Indonesia beberapa waktu terakhir membawa pengaruh signifikan terhadap cuaca di Sumatera. Fenomena yang sebelumnya jarang berdampak ke Sumatera itu kini meningkatkan intensitas curah hujan secara ekstrem dan memicu banjir bandang di Aceh, Sumatera Utara, serta Sumatera Barat.
“Artinya, iklim tidak bisa lagi diprediksi sehingga menuntut ketahanan kita menjaga alam,” jelas Hanif. Bencana ini memperlihatkan tantangan besar yang muncul di tengah perubahan pola cuaca yang kian ekstrem akibat krisis iklim.

Sementara itu, foto udara menunjukkan tumpukan kayu gelondongan yang terbawa arus banjir bandang hingga menumpuk di sepanjang Pantai Air Tawar, Kota Padang, Sumatera Barat. Dalam gambar yang diambil pada Jumat (28/11/2025) terlihat warga berjalan di antara potongan batang kayu besar yang memenuhi garis pantai, menggambarkan dahsyatnya daya rusak banjir bandang beberapa hari terakhir.
Hanif juga menyampaikan peringatan keras Presiden Prabowo Subianto terkait pentingnya menghentikan kerusakan hutan yang terus terjadi. Menurutnya, kerusakan lingkungan merupakan salah satu faktor yang memperbesar risiko bencana alam di tengah kondisi iklim yang tidak stabil.
“Kita terus dorong kementerian lembaga serta pemerintah daerah melakukan ini,” tegasnya. Ia menambahkan bahwa pemerintah akan memperkuat penataan tata lingkungan, termasuk konservasi dan penghijauan, sebagai langkah strategis untuk melindungi, memulihkan, dan meningkatkan kualitas lingkungan.
Di sisi lain, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan bahwa hingga Sabtu (29/11) sore, jumlah korban meninggal akibat banjir bandang dan longsor di tiga provinsi tersebut telah mencapai 303 orang. Curah hujan ekstrem yang terjadi selama beberapa hari berturut-turut menjadi pemicu utama bencana ini, sementara upaya evakuasi dan pendataan dampak masih berlangsung.
Pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan berbagai lembaga terkait kini terus bekerja untuk mempercepat penanganan darurat sekaligus mengantisipasi potensi bencana susulan di wilayah-wilayah yang masih rawan.
