India, Mata4.com — Sebuah tragedi memilukan terjadi dalam acara kampanye politik di negara bagian Uttar Pradesh, India, pada Minggu (28/9), yang menewaskan sedikitnya 40 orang dan melukai lebih dari 60 lainnya. Insiden ini terjadi saat ribuan pendukung memadati lapangan terbuka di kota Hathras untuk menghadiri kampanye partai lokal menjelang pemilu negara bagian.
Kericuhan bermula ketika massa yang memadati lokasi berusaha maju mendekati panggung utama menyusul kedatangan sejumlah pemimpin partai. Kepanikan yang terjadi di antara kerumunan menyebabkan saling dorong dan akhirnya berujung pada insiden desak-desakan yang menewaskan puluhan warga — sebagian besar perempuan dan lansia.
Kronologi Kejadian: Kepadatan Tak Terkendali, Jalur Keluar Tertutup
Menurut laporan otoritas lokal dan saksi mata, acara kampanye tersebut diperkirakan dihadiri oleh lebih dari 25.000 orang, jauh melebihi kapasitas lapangan yang hanya mampu menampung sekitar 10.000 orang secara aman. Jalur keluar yang sempit dan tidak adanya pengaturan kerumunan yang memadai menyebabkan warga tidak dapat menghindari dorongan massa saat situasi mulai tidak terkendali.
Salah satu saksi yang selamat, Sanjay Mishra, mengungkapkan bahwa suasana mulai mencekam setelah pembagian selebaran dan makanan gratis dimulai. “Orang-orang mulai berdesakan, lalu ada yang jatuh. Setelah itu, semuanya seperti kehilangan kendali. Saya melihat beberapa orang terinjak dan tak sadarkan diri,” ujarnya kepada media lokal.
Tim Medis: Banyak Korban Meninggal karena Sesak Napas dan Terinjak
Direktur RS Distrik Hathras, Dr. Neha Kumar, mengatakan bahwa sebagian besar korban meninggal karena sesak napas dan trauma berat akibat terinjak. “Kami menerima korban secara bertahap sejak sore kemarin. Banyak dari mereka sudah dalam kondisi kritis saat tiba di rumah sakit,” jelasnya.
Lebih dari 60 korban luka-luka dirawat di berbagai rumah sakit, termasuk di kota-kota tetangga seperti Aligarh dan Agra. Beberapa di antaranya masih dalam kondisi kritis.
Reaksi Pemerintah dan Langkah Investigasi
Perdana Menteri Narendra Modi menyampaikan belasungkawa mendalam melalui akun media sosialnya dan memerintahkan penanganan cepat bagi seluruh korban. “Saya sangat berduka atas kehilangan nyawa dalam insiden yang tragis ini. Pemerintah akan memastikan bahwa keluarga korban mendapatkan dukungan penuh,” tulisnya.
Pemerintah Negara Bagian Uttar Pradesh telah membentuk tim penyelidikan independen yang akan menyelidiki penyebab utama tragedi, termasuk kemungkinan kelalaian oleh pihak penyelenggara dan aparat keamanan. Menteri Dalam Negeri negara bagian, Yogi Verma, menyatakan akan ada audit keamanan massal terhadap semua acara politik dan keagamaan selama musim kampanye berlangsung.
“Kami tidak akan segan menindak siapa pun yang bertanggung jawab. Keamanan rakyat adalah prioritas utama,” kata Verma dalam konferensi pers.
Sorotan Terhadap Lemahnya Manajemen Kerumunan di India
Tragedi ini kembali mengangkat persoalan lama mengenai lemahnya manajemen kerumunan dalam acara publik berskala besar di India. Negara dengan lebih dari 1,4 miliar penduduk ini kerap menghadapi tantangan dalam mengatur massa, terutama dalam acara keagamaan dan politik yang melibatkan puluhan ribu orang.
Menurut Anjali Mehta, analis kebijakan publik dari Center for Urban Governance, insiden ini seharusnya bisa dicegah jika standar keselamatan dipatuhi. “Kita berbicara tentang negara dengan sejarah panjang insiden mematikan akibat kerumunan. Tapi regulasi keselamatan acap kali diabaikan, terutama oleh partai politik saat kampanye,” ujarnya.
Kompensasi dan Bantuan bagi Korban
Pemerintah negara bagian telah menjanjikan kompensasi bagi keluarga korban tewas sebesar 200.000 rupee (sekitar Rp 38 juta), dan 50.000 rupee untuk korban luka-luka. Selain itu, berbagai organisasi masyarakat sipil dan Palang Merah India telah membuka dapur umum serta posko bantuan bagi keluarga korban.
Kelompok relawan seperti SEWA India dan Doctors for Humanity turut mengerahkan tim medis, ambulans, serta dukungan psikologis ke lokasi kejadian. Mereka menyebut bahwa trauma yang dialami para penyintas dan keluarga sangat mendalam dan perlu penanganan jangka panjang.
Ajakan Refleksi dan Reformasi Tata Kelola Acara Massa
Insiden di Hathras ini bukan yang pertama terjadi di India. Dalam dua dekade terakhir, beberapa insiden serupa telah menewaskan ratusan orang, baik di acara keagamaan maupun politik. Para akademisi dan organisasi HAM menyerukan reformasi nasional terhadap tata kelola acara publik, termasuk pembatasan kapasitas, sistem evakuasi yang memadai, serta pelatihan pengendalian kerumunan bagi aparat keamanan dan panitia.
“Demokrasi bukan hanya soal suara rakyat, tapi juga keselamatan rakyat. Ini adalah ujian bagi etika politik dan tanggung jawab moral partai-partai besar di negara ini,” ujar Prof. Rajeev Menon, dosen sosiologi politik dari Jawaharlal Nehru University.
Penutup
Tragedi di Hathras adalah luka besar bagi demokrasi India. Di balik semangat politik dan antusiasme rakyat, nyawa-nyawa tak bersalah harus melayang karena lemahnya perencanaan dan kurangnya tanggung jawab. Kini, publik menuntut tidak hanya kompensasi, tapi juga perubahan nyata — agar peristiwa serupa tak kembali merenggut korban dalam pesta demokrasi berikutnya.

