Jakarta, Mata4.com — Linen rumah sakit, seperti sprei, selimut, dan handuk, selama ini dianggap sebagai bagian standar dari perawatan pasien. Namun, berbagai penelitian terbaru mengungkap fakta mengejutkan bahwa linen yang tidak dikelola dengan baik justru bisa menjadi media penyebar infeksi yang seringkali terabaikan. Hal ini berpotensi meningkatkan risiko infeksi nosokomial, yaitu infeksi yang didapat pasien selama dirawat di rumah sakit.
Linen Rumah Sakit: Sarang Mikroorganisme Berbahaya
Linen rumah sakit seringkali bersentuhan langsung dengan kulit dan luka terbuka pasien, sehingga menjadi media ideal bagi berbagai mikroorganisme untuk bertahan hidup dan berkembang biak. Beberapa mikroorganisme berbahaya yang biasa ditemukan di linen antara lain Staphylococcus aureus (termasuk MRSA atau methicillin-resistant Staphylococcus aureus), Escherichia coli, Clostridium difficile, hingga virus hepatitis dan influenza.
Sebuah studi yang dilakukan oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) menunjukkan bahwa linen yang tercemar dapat menyebarkan infeksi melalui kontak langsung maupun tidak langsung, baik ke pasien maupun tenaga medis. Kontaminasi ini bisa terjadi selama proses penggunaan, pengumpulan, pencucian, dan distribusi kembali linen.
Proses Pengelolaan Linen yang Memadai Sangat Penting
Pengelolaan linen rumah sakit harus melalui prosedur yang ketat agar dapat meminimalisir risiko penyebaran infeksi. Hal ini mencakup beberapa tahap mulai dari pengumpulan linen bekas pakai, pencucian dengan suhu dan deterjen yang tepat, pengeringan, hingga penyimpanan dan distribusi kembali ke unit perawatan.
Penggunaan suhu air di atas 60 derajat Celsius saat pencucian terbukti efektif membunuh sebagian besar kuman. Namun, beberapa jenis mikroorganisme membutuhkan prosedur tambahan seperti penggunaan disinfektan khusus dan sterilisasi uap.
Dr. Sari Wulandari, ahli penyakit menular di Rumah Sakit Umum Pusat Nasional, mengatakan, “Tidak hanya mencuci, penanganan linen kotor harus dilakukan dengan prosedur yang aman dan higienis. Penggunaan alat pelindung diri (APD) oleh petugas laundry dan kebersihan juga sangat krusial untuk menghindari kontaminasi silang.”
Tantangan dalam Pengelolaan Linen di Rumah Sakit
Meski standar pengelolaan linen sudah ada, tantangan dalam implementasi di lapangan seringkali muncul, terutama di rumah sakit dengan sumber daya terbatas. Kurangnya fasilitas laundry yang memadai, keterbatasan pelatihan staf, hingga kurangnya pengawasan dapat menyebabkan prosedur pengelolaan linen menjadi kurang optimal.
Menurut Kepala Unit Pengendalian Infeksi Rumah Sakit (UPIRS) RSUD [Nama], Ibu Rini Lestari, “Di beberapa rumah sakit daerah, kita masih menemukan praktik pengelolaan linen yang kurang sesuai standar, yang berpotensi menjadi sumber penyebaran infeksi.”
Selain itu, kebutuhan akan penggantian linen secara rutin dan tepat waktu juga menjadi faktor penting. Penggunaan linen yang sudah usang, robek, atau bernoda dapat meningkatkan risiko kontaminasi.
Peran Edukasi dan Kesadaran Semua Pihak
Keberhasilan pengendalian infeksi nosokomial melalui pengelolaan linen rumah sakit sangat bergantung pada kesadaran dan kepatuhan seluruh pihak. Staf medis, petugas kebersihan, dan petugas laundry harus mendapatkan pelatihan rutin mengenai protokol kebersihan dan pengelolaan linen.
Di sisi lain, pasien dan keluarga juga berperan dalam menjaga kebersihan lingkungan sekitar. Pasien dianjurkan untuk melaporkan apabila menemukan linen yang kotor atau tidak sesuai standar kebersihan.
Dampak Infeksi Nosokomial dan Biaya Kesehatan
Infeksi nosokomial akibat kontaminasi linen tidak hanya memperburuk kondisi pasien, tetapi juga berdampak luas pada sistem kesehatan. Infeksi ini dapat menyebabkan komplikasi serius, memperpanjang masa rawat inap, meningkatkan biaya pengobatan, dan bahkan meningkatkan angka kematian.
Menurut data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, infeksi nosokomial menjadi salah satu tantangan utama dalam pelayanan kesehatan nasional. Sebanyak 10-15 persen pasien rawat inap berisiko terkena infeksi ini, dan pengelolaan linen yang buruk termasuk faktor penyebabnya.
Langkah Strategis untuk Masa Depan
Pemerintah dan manajemen rumah sakit perlu memperkuat kebijakan dan program pengendalian infeksi yang meliputi:
- Penyediaan fasilitas laundry yang memenuhi standar kebersihan internasional.
- Penggunaan teknologi modern seperti sterilisasi uap dan disinfektan berbasis ozon.
- Audit dan inspeksi rutin terhadap proses pencucian dan pengelolaan linen.
- Pelatihan berkelanjutan bagi tenaga medis dan petugas kebersihan.
- Peningkatan kesadaran dan partisipasi pasien serta keluarga dalam menjaga kebersihan.
Kesimpulan
Linen rumah sakit, meskipun terlihat sederhana dan rutin digunakan, menyimpan potensi risiko besar sebagai media penyebar infeksi. Dengan pengelolaan yang baik, edukasi yang tepat, dan kesadaran bersama, risiko tersebut dapat ditekan seminimal mungkin. Hal ini menjadi langkah krusial dalam menjaga keselamatan pasien dan meningkatkan mutu pelayanan kesehatan di Indonesia.

