Jakarta, Mata4.com – Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Republik Indonesia, Yulia Santoso, menyampaikan keprihatinannya terkait stagnasi proyek pembangunan Alun-alun Demokrasi yang berlokasi di kompleks Gedung DPR RI. Proyek yang sejatinya berfungsi sebagai ruang publik edukatif dan simbol penting demokrasi ini hingga kini belum menunjukkan kemajuan signifikan, sehingga menimbulkan kekhawatiran di kalangan pemerhati demokrasi dan masyarakat luas.
Fungsi Strategis Alun-alun Demokrasi bagi Pendidikan dan Demokrasi
Alun-alun Demokrasi dirancang sebagai pusat kegiatan yang mendukung edukasi politik, dialog publik, dan promosi nilai-nilai hak asasi manusia. Menteri Yulia menekankan bahwa keberadaan ruang terbuka seperti ini sangat vital untuk memperkuat partisipasi masyarakat dalam proses demokrasi, sekaligus mengedukasi publik mengenai pentingnya menghargai hak asasi dan kebebasan sipil.
“Alun-alun Demokrasi adalah simbol nyata dari komitmen bangsa dalam menjaga dan mengembangkan nilai-nilai demokrasi serta hak asasi manusia. Ruang ini bukan hanya sekadar bangunan, melainkan wadah untuk memperkuat kesadaran politik dan hak-hak sipil masyarakat,” ungkap Menteri Yulia dalam konferensi pers pada Senin (15/9).
Penyebab Mandeknya Pembangunan Proyek
Menurut keterangan Kementerian HAM, proyek ini telah mengalami berbagai hambatan teknis dan administratif. Faktor utama yang menyebabkan stagnasi pembangunan antara lain adalah permasalahan pendanaan yang belum optimal, prosedur perizinan yang rumit, serta kurangnya koordinasi lintas lembaga yang terlibat.
Sumber dari Dinas Tata Ruang dan Cipta Karya DKI Jakarta menyebutkan bahwa perizinan terkait penggunaan lahan dan aspek teknis bangunan belum rampung sepenuhnya, sehingga pelaksanaan proyek tertunda. Selain itu, dana yang dialokasikan dalam APBN belum sepenuhnya dicairkan, memperlambat proses konstruksi.
“Pembangunan Alun-alun Demokrasi ini memerlukan sinergi yang kuat antara pemerintah pusat dan daerah. Kami sedang berupaya untuk menyelesaikan persoalan teknis dan administratif agar proyek bisa kembali berjalan lancar,” ujar Kepala Dinas Tata Ruang dan Cipta Karya DKI Jakarta yang enggan disebutkan namanya.
Rencana Tindakan Pemerintah
Menteri Yulia menyatakan bahwa Kementerian HAM akan menginisiasi rapat koordinasi lintas kementerian, pemerintah daerah, serta Komisi II DPR RI yang membidangi pemerintahan dan demokrasi, untuk mencari solusi konkret atas hambatan yang ada.
“Kami akan segera melakukan evaluasi menyeluruh dan membentuk tim khusus guna memastikan agar proyek ini dapat dipercepat penyelesaiannya,” tambah Menteri Yulia. Ia juga meminta keterlibatan aktif masyarakat dan organisasi masyarakat sipil dalam pengawasan pembangunan agar transparansi dan akuntabilitas dapat terjaga.
Respon dari Tokoh dan Aktivis Demokrasi
Mandeknya pembangunan Alun-alun Demokrasi mendapat sorotan dari berbagai kalangan, termasuk tokoh masyarakat dan aktivis demokrasi. Siti Nurhayati, salah satu aktivis yang fokus pada pendidikan politik dan HAM, menyatakan keprihatinannya terhadap stagnasi proyek tersebut.
“Alun-alun Demokrasi adalah ruang yang sangat penting bagi masyarakat untuk belajar dan berdiskusi tentang demokrasi dan HAM. Mandeknya proyek ini tentu menjadi kemunduran bagi upaya memperkuat budaya demokrasi di Indonesia,” ujar Siti.
Begitu pula dengan anggota DPR Komisi II, Rachmat Hidayat, yang menyatakan dukungannya terhadap percepatan proyek ini. “Kami di DPR sangat mendukung inisiatif Kementerian HAM. Proyek ini sangat penting sebagai wadah edukasi dan partisipasi publik, sehingga perlu segera diselesaikan,” katanya.
Signifikansi Alun-alun Demokrasi bagi Masa Depan Demokrasi Indonesia
Alun-alun Demokrasi diharapkan menjadi pusat kegiatan yang mengakomodasi berbagai program edukasi politik, pameran sejarah demokrasi, serta ruang dialog antar elemen masyarakat dan pemerintah. Proyek ini diharapkan dapat memperkuat keterbukaan, transparansi, dan partisipasi masyarakat dalam tata kelola pemerintahan.
Dengan keberadaan alun-alun ini, masyarakat dari berbagai latar belakang dapat secara aktif terlibat dalam diskusi dan pengambilan keputusan publik, sehingga memperkuat praktik demokrasi yang sehat dan berkelanjutan di Indonesia.
Tantangan dan Harapan ke Depan
Walaupun mengalami hambatan, Menteri Yulia optimistis bahwa dengan kerja sama yang solid antara berbagai pihak, proyek ini dapat segera berjalan kembali dan selesai tepat waktu. Ia juga mengingatkan pentingnya pengawasan yang ketat agar dana publik digunakan secara efektif dan pembangunan tidak mengalami kendala berlarut-larut.
“Ini adalah proyek bersama yang membutuhkan komitmen dari seluruh elemen pemerintahan dan masyarakat. Kami berharap Alun-alun Demokrasi bisa segera terealisasi dan menjadi simbol kuat demokrasi di negeri ini,” tutup Menteri Yulia.
Kesimpulan
Mandeknya pembangunan Alun-alun Demokrasi di kawasan Gedung DPR RI menjadi perhatian utama Menteri HAM Yulia Santoso dan berbagai pihak terkait. Proyek ini memiliki nilai strategis sebagai ruang edukasi dan dialog publik yang dapat memperkuat demokrasi dan hak asasi manusia di Indonesia. Melalui koordinasi lintas lembaga dan partisipasi masyarakat, diharapkan hambatan yang ada dapat segera diatasi dan proyek ini selesai tepat waktu, memberikan manfaat luas bagi masyarakat dan bangsa.

