Jakarta, Mata4.com — Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (KUKM) RI, Maman Firmansyah, mengajak para pelaku usaha madu lokal di Indonesia untuk masuk ke dalam rantai pasok industri besar, termasuk perusahaan multinasional seperti Madu Berkah Global (MBG). Ajakan ini disampaikan langsung dalam forum dialog terbuka antara pemerintah dan pelaku UMKM yang diselenggarakan di Jakarta, Jumat (10/10).
Dalam kesempatan tersebut, Menteri Maman menegaskan bahwa madu lokal Indonesia memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi komoditas unggulan, baik di pasar domestik maupun internasional. Namun, ia juga mengakui masih banyak tantangan yang dihadapi pelaku usaha kecil di sektor ini, terutama terkait akses pasar, standarisasi produk, dan skema kemitraan yang berkelanjutan.
“Madu kita dari berbagai daerah punya kualitas yang sangat baik. Sayangnya, banyak dari mereka belum terhubung dengan pasar modern atau industri besar. Kita ingin mengubah itu. Saya ingin pengusaha madu lokal masuk ke rantai pasok MBG dan perusahaan sejenis, agar ekonomi lokal benar-benar tumbuh dari bawah,” ujar Menteri Maman dalam sambutannya.
Potensi Besar, Tapi Minim Akses
Indonesia merupakan negara dengan keanekaragaman hayati yang kaya, termasuk dalam sektor perlebahan. Wilayah seperti Sumatera Barat, Jawa Tengah, Kalimantan Timur, hingga Nusa Tenggara Timur dikenal sebagai sentra produksi madu hutan dan madu ternak.
Namun, data dari Kementerian KUKM menunjukkan bahwa sekitar 70% pelaku usaha madu di Indonesia masih tergolong mikro dan kecil. Mereka umumnya memasarkan produk secara konvensional di pasar lokal, belum tersertifikasi BPOM, dan tidak memiliki kapasitas produksi yang stabil.
“Kalau dibiarkan sendiri, mereka tidak akan bisa bersaing. Maka dari itu, negara hadir sebagai fasilitator dan jembatan, termasuk membuka pintu kerja sama dengan industri besar,” tambah Maman.
MBG Terbuka untuk Kolaborasi
Dalam forum tersebut, hadir pula perwakilan dari Madu Berkah Global (MBG), sebuah perusahaan multinasional berbasis Indonesia yang selama ini dikenal sebagai produsen madu premium untuk pasar dalam dan luar negeri. Pihak MBG menyambut baik dorongan pemerintah untuk melibatkan pelaku usaha lokal dalam rantai pasok mereka.
Fadli Rahman, Direktur Rantai Pasok MBG, mengatakan bahwa perusahaannya saat ini sedang membangun sistem sourcing (pengadaan) berbasis kemitraan jangka panjang dengan koperasi dan UMKM madu lokal.
“Kami terbuka sepenuhnya. Saat ini sekitar 30% bahan baku kami berasal dari peternak lokal. Target kami tahun depan bisa meningkat menjadi 50%. Tapi tentu kami juga harus menjaga kualitas, karena sebagian besar produk kami diekspor ke negara-negara seperti Jepang, Korea, dan Uni Eropa,” jelas Fadli.
Ia menambahkan bahwa MBG tengah menyiapkan program pelatihan dan pembinaan teknis bagi mitra lokal, termasuk dalam hal pengelolaan sanitasi, pengemasan, serta sertifikasi halal dan mutu.
Tanggapan Pelaku Usaha: Siap, Tapi Butuh Dukungan
Ajakan pemerintah ini disambut antusias oleh pelaku usaha madu yang hadir. Salah satunya adalah Irwan Susanto, pengusaha madu dari Kabupaten Sumbawa, NTB, yang telah memproduksi madu hutan sejak 2017.
“Kami siap bermitra, asalkan ada pendampingan yang jelas. Kendala kami biasanya di pengemasan, distribusi, dan regulasi. Kalau ada pembinaan dari MBG dan fasilitasi dari pemerintah, saya yakin kami bisa penuhi standar yang dibutuhkan,” ujarnya.
Pelaku usaha lain juga menyoroti kebutuhan akan alat produksi yang modern dan akses pembiayaan untuk meningkatkan kapasitas produksi. Mereka berharap program ini tidak hanya berhenti pada wacana, tetapi ditindaklanjuti dengan aksi nyata.
Strategi Pemerintah: Integrasi UMKM ke Industri Besar
Langkah Menteri Maman ini merupakan bagian dari strategi pemerintah dalam mendorong transformasi ekonomi berbasis kemandirian UMKM. Menurut Maman, masuknya produk-produk lokal ke dalam rantai pasok industri besar adalah bentuk penguatan ekonomi rakyat secara struktural.
“Kalau kita ingin UMKM naik kelas, maka mereka harus masuk ke ekosistem industri. Tidak bisa lagi berjalan sendiri-sendiri. Dan peran korporasi besar seperti MBG sangat penting untuk mendorong transformasi ini,” tegasnya.
Ia juga menyampaikan bahwa pemerintah akan memfasilitasi proses legalitas usaha, pelatihan manajemen, serta penguatan koperasi sebagai agregator antara pelaku usaha kecil dengan perusahaan besar.
Harapan: Madu Lokal Mendunia
Dengan dukungan kebijakan dari pemerintah, kemitraan strategis dengan industri, serta kesiapan pelaku usaha lokal, diharapkan sektor madu Indonesia bisa tumbuh lebih signifikan dalam beberapa tahun ke depan. Tidak hanya memperkuat posisi produk lokal di pasar nasional, tetapi juga membuka peluang ekspor yang lebih luas.
“Madu lokal kita tidak kalah dengan produk luar. Yang kita butuhkan adalah kerja sama yang saling menguntungkan. Kita jaga kualitas, perusahaan jaga komitmen, dan pemerintah hadir sebagai penghubung,” pungkas Menteri Maman.
Penutup
Ajakan Menteri Maman kepada pengusaha madu lokal untuk terlibat dalam rantai pasok MBG mencerminkan langkah strategis pemerintah dalam memperkuat posisi UMKM di tengah dinamika ekonomi nasional dan global. Dengan kolaborasi yang tepat antara pemerintah, pelaku usaha, dan sektor industri, madu lokal Indonesia berpotensi menjadi komoditas unggulan yang tidak hanya mendongkrak pendapatan petani dan UMKM, tetapi juga menjadi representasi kualitas produk bangsa di pasar dunia.

