Martapura, Mata4.com — Puluhan siswa dari SDN 3 Martapura mengalami keracunan makanan setelah mengonsumsi nasi kuning dan sayur MBG yang disajikan saat jam makan siang pada Rabu (9/10). Insiden ini memicu kepanikan di kalangan orang tua dan komunitas sekolah, sehingga pihak sekolah bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar langsung melakukan langkah penanganan dan investigasi menyeluruh untuk mengetahui penyebab pasti kejadian.
Kronologi Kejadian
Kejadian bermula ketika sekitar pukul 12.30 WIB, siswa mulai makan siang di kantin sekolah dengan menu nasi kuning dan sayur MBG. Beberapa jam setelah makan, sejumlah siswa mulai merasakan gejala mual, muntah, pusing, dan diare. Kepala Sekolah SDN 3 Martapura, Bapak Ahmad Fauzi, menyampaikan bahwa total ada sekitar 35 siswa yang mengalami gejala tersebut.
“Kami langsung menghubungi orang tua siswa dan meminta mereka membawa anak-anak yang sakit ke fasilitas kesehatan terdekat. Kami juga segera melapor ke Dinas Kesehatan untuk mendapatkan bantuan,” ujar Ahmad Fauzi saat ditemui di sekolah.
Tindakan Penanganan dan Respons Dinas Kesehatan
Menanggapi laporan tersebut, Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar segera mengirimkan tim medis dan pengawas pangan ke lokasi. Tim tersebut melakukan pemeriksaan awal terhadap siswa yang sakit dan mengambil sampel makanan yang diduga menyebabkan keracunan.
Kepala Dinas Kesehatan Banjar, dr. Ratna Wulandari, menjelaskan, “Kami melakukan pemeriksaan kesehatan pada para siswa dan mengambil sampel nasi kuning serta sayur MBG untuk diuji di laboratorium. Hasil pemeriksaan ini akan menjadi dasar untuk mengetahui apakah terjadi kontaminasi bakteri atau adanya zat berbahaya lain pada makanan tersebut.”
Selain itu, tim juga memeriksa proses penyimpanan dan penyajian makanan di kantin sekolah untuk memastikan standar kebersihan dan keamanan pangan sudah diterapkan dengan benar.
Dugaan Penyebab Keracunan
Meskipun hasil laboratorium belum diumumkan, dugaan sementara penyebab keracunan adalah kontaminasi bakteri, seperti Salmonella atau Staphylococcus aureus, yang biasa ditemukan pada makanan yang kurang higienis atau disimpan dalam kondisi tidak tepat. Penyimpanan makanan dalam suhu tidak sesuai atau keterlambatan dalam penyajian juga menjadi faktor risiko utama terjadinya keracunan makanan.
Dr. Ratna menambahkan, “Kami juga sedang menelusuri sumber bahan makanan yang digunakan dan cara pengolahannya untuk memastikan tidak ada pelanggaran standar kebersihan.”
Reaksi Orang Tua dan Komunitas Sekolah
Kejadian ini mendapat perhatian serius dari orang tua siswa yang merasa cemas akan keselamatan anak-anak mereka. Ibu Sari, salah satu orang tua, mengungkapkan, “Kami sangat khawatir dengan apa yang dialami anak-anak kami. Semoga pihak sekolah dan dinas kesehatan bisa segera menemukan penyebabnya dan memastikan kejadian seperti ini tidak terulang.”
Sejumlah warga juga mengajak pihak sekolah dan penyedia katering untuk meningkatkan pengawasan dan kebersihan dalam penyediaan makanan di lingkungan sekolah.
Upaya Pencegahan dan Imbauan
Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar mengimbau seluruh sekolah agar meningkatkan pengawasan ketat terhadap standar kebersihan dan keamanan pangan, termasuk memastikan penyedia katering mematuhi prosedur sanitasi yang berlaku.
Orang tua juga diingatkan untuk selalu memantau kondisi kesehatan anak setelah makan di sekolah dan segera melaporkan apabila ditemukan gejala yang mencurigakan.
“Kami berharap semua pihak dapat bekerjasama dalam menjaga keamanan pangan demi kesehatan para siswa,” ujar dr. Ratna.
Langkah Ke Depan
Pihak sekolah bersama Dinas Kesehatan berkomitmen melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem penyajian makanan di sekolah tersebut. Jika ditemukan pelanggaran, tindakan tegas akan diambil terhadap pihak yang bertanggung jawab sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Selain itu, edukasi tentang pentingnya kebersihan makanan dan pola makan sehat juga akan diperkuat di lingkungan sekolah untuk meningkatkan kesadaran siswa dan guru.

