Jakarta, 21 Juli 2025 — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) semakin memperkuat komitmennya dalam meningkatkan literasi dan inklusi keuangan di seluruh Indonesia, khususnya di wilayah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T). Melalui program inovatif, OJK melibatkan berbagai unsur masyarakat, mulai dari Babinsa (Bintara Pembina Desa) hingga tokoh agama seperti pendeta, untuk mendampingi dan memberikan edukasi keuangan kepada masyarakat di daerah-daerah yang selama ini mengalami keterbatasan akses layanan keuangan.
Latar Belakang Program dan Pentingnya Literasi Keuangan di Wilayah 3T
Wilayah 3T merupakan kawasan yang menjadi prioritas pembangunan nasional karena banyak daerah di sana menghadapi berbagai kendala, baik dari segi geografis, infrastruktur, maupun sumber daya manusia. Selain itu, masyarakat di wilayah ini seringkali kesulitan mengakses layanan keuangan formal seperti perbankan, asuransi, maupun produk investasi.
Rendahnya literasi keuangan membuat masyarakat rentan terhadap praktik pinjaman ilegal dan rentenir, yang dapat memperparah kondisi ekonomi mereka. Menjawab tantangan ini, OJK mengambil langkah konkret untuk menjangkau komunitas-komunitas tersebut dengan pendekatan yang menyentuh aspek sosial dan budaya lokal.
Sinergi dengan Babinsa: Agen Perubahan di Desa
Babinsa yang merupakan aparat kewilayahan dari TNI memiliki kedekatan dan kepercayaan yang tinggi di kalangan masyarakat desa. OJK memanfaatkan posisi strategis Babinsa untuk menjadi agen literasi keuangan yang mampu menyampaikan informasi secara langsung dan personal kepada warga.
Melalui pelatihan khusus, Babinsa dibekali dengan pengetahuan dasar mengenai produk dan layanan keuangan, pengelolaan keuangan pribadi, serta tanda-tanda penipuan finansial yang harus diwaspadai. Dengan bekal tersebut, Babinsa dapat memberikan pendampingan yang berkelanjutan dan memastikan warga memahami pentingnya menggunakan layanan keuangan resmi.
Peran Pendeta dan Tokoh Agama: Menguatkan Pesan Moral dan Sosial
Selain Babinsa, OJK juga menggandeng pendeta dan tokoh agama lainnya yang memiliki pengaruh besar di komunitas mereka. Dalam banyak masyarakat di wilayah 3T, tokoh agama menjadi sumber kepercayaan utama yang mampu memengaruhi sikap dan perilaku warga.
Pendeta yang dilibatkan tidak hanya menyampaikan edukasi finansial, tetapi juga mengaitkan nilai-nilai moral dan etika dalam pengelolaan keuangan. Pendekatan ini sangat efektif untuk meningkatkan kesadaran masyarakat agar mengelola keuangan dengan bijak, menghindari utang yang memberatkan, dan memanfaatkan produk keuangan secara tepat.
Kegiatan Edukasi dan Pendampingan di Lapangan
Sejak awal tahun 2025, OJK bersama Babinsa dan pendeta telah melaksanakan berbagai kegiatan edukasi di sejumlah desa terpencil di wilayah Papua, Nusa Tenggara Timur, dan Maluku. Kegiatan tersebut meliputi:
- Workshop dan pelatihan tentang dasar-dasar keuangan pribadi, cara menabung, dan manfaat asuransi.
- Sosialisasi penggunaan teknologi perbankan digital yang semakin mudah diakses meskipun di daerah terpencil.
- Pendampingan langsung bagi warga yang ingin membuka rekening bank, mengajukan pinjaman resmi, atau memanfaatkan produk keuangan lain.
- Penyuluhan mengenai bahaya pinjaman ilegal dan bagaimana menghindarinya.
Dengan metode yang komunikatif dan partisipatif, warga didorong untuk aktif bertanya dan berdiskusi agar pemahaman mereka semakin mendalam.
Cerita Sukses dan Dampak Positif
Salah satu warga desa di Papua, Bapak Johan, mengungkapkan rasa terima kasihnya atas program ini. “Dulu saya takut menggunakan bank karena tidak mengerti. Sekarang, dengan pendampingan Babinsa dan pendeta, saya merasa percaya diri dan mulai menabung untuk masa depan anak-anak saya,” ujarnya.
Tidak hanya meningkatkan literasi, program ini juga membantu membangun kepercayaan masyarakat terhadap lembaga keuangan resmi, sehingga semakin banyak warga yang berani menggunakan layanan perbankan dan asuransi.
Harapan OJK dan Tantangan ke Depan
OJK berharap inisiatif ini dapat diperluas ke lebih banyak wilayah 3T lainnya di Indonesia, dengan dukungan penuh dari pemerintah daerah, aparat keamanan, tokoh masyarakat, dan lembaga keagamaan. Kolaborasi multisektoral dianggap sebagai kunci keberhasilan program literasi dan inklusi keuangan yang berkelanjutan.
Meski demikian, tantangan geografis dan keterbatasan infrastruktur masih menjadi hambatan utama. Oleh karena itu, OJK terus mengembangkan pendekatan kreatif, termasuk penggunaan teknologi digital dan media komunikasi lokal untuk menjangkau masyarakat lebih luas.
Kesimpulan
Melibatkan Babinsa hingga pendeta dalam upaya literasi keuangan adalah langkah strategis OJK untuk menjembatani kesenjangan akses dan pemahaman layanan keuangan di wilayah 3T. Dengan pendekatan yang humanis dan kontekstual, program ini tidak hanya meningkatkan pengetahuan finansial masyarakat tetapi juga menguatkan nilai-nilai sosial dan moral yang penting dalam pengelolaan keuangan.
Inisiatif ini menunjukkan bagaimana sinergi antara institusi pemerintah, aparat keamanan, tokoh agama, dan masyarakat dapat menciptakan perubahan positif yang berdampak luas bagi kesejahteraan rakyat di daerah-daerah terpencil.
