Jakarta, Mata4.com – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus melanjutkan upaya penataan kota melalui relokasi Pasar Hewan Barito, Kebayoran Baru, ke lokasi sementara di kawasan Lenteng Agung, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Relokasi ini merupakan bagian dari program besar penataan ruang terbuka hijau (RTH) sekaligus revitalisasi kawasan taman kota di wilayah Jakarta Selatan.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menyatakan bahwa pemindahan ini bukan hanya sebatas proyek tata ruang, melainkan juga sebuah upaya meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat, khususnya para pedagang pasar. Menurutnya, lokasi baru yang lebih dekat dengan akses transportasi publik akan memberi peluang baru dalam meningkatkan jumlah pengunjung pasar.
“Kami tidak ingin hanya sekadar memindahkan lokasi. Tujuan kami lebih besar: bagaimana pasar ini bisa menjadi lebih hidup, lebih ramai, dan lebih mudah diakses masyarakat dari berbagai wilayah Jakarta. Ini soal peningkatan fungsi ekonomi dan sosial,” ujar Pramono dalam konferensi pers di Balai Kota DKI Jakarta, Jumat (13/9).
Penataan Kawasan untuk Taman ASEAN
Pemindahan Pasar Barito tidak berdiri sendiri. Kebijakan ini terkait erat dengan rencana revitalisasi dan penggabungan tiga taman besar di Jakarta Selatan, yakni Taman Ayodya, Taman Leuser, dan Taman Langsat, yang akan disulap menjadi satu kawasan RTH terpadu bernama Taman ASEAN. Proyek ini digagas sebagai upaya menjadikan ruang hijau Jakarta sebagai area publik yang layak huni dan lebih bermanfaat bagi warga.
Menurut Kepala Dinas Pertamanan dan Hutan Kota DKI Jakarta, Rina Marlina, ketiga taman itu akan ditata ulang menjadi kawasan hijau tematik yang mengusung konsep taman edukatif, taman konservasi flora-fauna, dan ruang publik kreatif.
“Keberadaan Pasar Barito selama ini memang sudah tidak sesuai dengan zonasi RTH. Pemindahan ini penting agar kawasan taman bisa berfungsi optimal sebagai paru-paru kota dan ruang interaksi sosial warga,” jelas Rina.
Lokasi Baru: Akses Lebih Baik, Lahan Lebih Luas
Lokasi relokasi yang ditetapkan berada di Jalan Raya Lenteng Agung Timur, Kelurahan Lenteng Agung, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan. Lahan milik pemerintah seluas 7.600 meter persegi telah disiapkan dan tengah dibangun fasilitas penunjang, termasuk kios permanen, jaringan listrik, air bersih, sanitasi, drainase, dan area parkir.
Wilayah ini dinilai lebih strategis karena dekat dengan Stasiun KRL Lenteng Agung, halte Transjakarta (rute non-BRT D21), serta memiliki akses jalan utama yang terhubung langsung ke beberapa kecamatan lain di Jakarta Selatan dan Depok.
Menurut Wakil Wali Kota Jakarta Selatan, Herman Setiawan, pembangunan infrastruktur relokasi ditargetkan selesai pada akhir September 2025, dan pedagang dapat mulai beroperasi pada awal Oktober.
“Kami berupaya penuh agar relokasi ini tidak mengganggu kelangsungan usaha para pedagang. Semua fasilitas kami siapkan dengan standar yang layak,” tegas Herman.
Respons Pedagang: Antara Harapan dan Kekhawatiran
Kendati pemerintah menjanjikan berbagai kemudahan dan fasilitas memadai, tidak semua pedagang menyambut relokasi ini dengan tanpa catatan. Sebagian besar menyatakan kesediaan pindah, namun menyuarakan kekhawatiran terkait kesiapan lokasi baru, potensi kehilangan pelanggan, serta adaptasi terhadap lingkungan yang berbeda.
Ahmad Fauzi (45), pedagang burung yang telah berjualan di Barito sejak tahun 2005, mengaku mendukung penataan kota, namun berharap pemerintah tidak hanya memberikan janji, tetapi memastikan bahwa pasar di lokasi baru bisa benar-benar berfungsi dengan baik.
“Kami tidak menolak pindah, tapi pemerintah harus pastikan tempatnya siap. Jangan sampai kami pindah, tapi belum ada listrik, air, atau malah belum ada pembeli karena tidak banyak yang tahu tempat barunya,” ujarnya saat ditemui di kiosnya.
Beberapa pedagang juga menyebut pentingnya sosialisasi dan promosi dari pihak pemerintah agar keberadaan pasar di lokasi baru diketahui masyarakat luas.
Persetujuan Bertahap, Dialog Ditekankan
Data dari Suku Dinas PPKUKM Jakarta Selatan menunjukkan bahwa hingga pekan kedua September 2025, sekitar 95 pedagang telah menyatakan kesediaannya untuk pindah ke lokasi Lenteng Agung. Sebagian masih dalam tahap negosiasi atau verifikasi data kepemilikan lapak.
Kepala Suku Dinas PPKUKM Jakarta Selatan, Rini Wijayanti, menegaskan bahwa proses relokasi dilakukan secara bertahap dan persuasif, dengan melibatkan perwakilan pedagang dalam setiap tahap perencanaan.
“Kami tidak menggunakan pendekatan represif. Prinsip kami: kolaboratif dan transparan. Kami libatkan pedagang dalam penentuan desain kios, ukuran lapak, hingga skema pengelolaan pasar nanti,” katanya.
Jaminan Kelangsungan Usaha dan Pendampingan
Untuk memastikan relokasi tidak mengganggu penghidupan pedagang, pemerintah juga akan menyediakan program pendampingan usaha, termasuk pelatihan manajemen, pemasaran digital, dan akses pembiayaan mikro melalui kerjasama dengan Bank DKI dan koperasi setempat.
Selain itu, Dinas Komunikasi dan Informatika DKI Jakarta telah diminta untuk membantu dalam hal promosi digital dan penyebaran informasi pasar Lenteng Agung melalui media sosial, aplikasi Jakarta Kini (JAKI), dan media massa lokal.
Kesimpulan: Transisi yang Menentukan
Relokasi Pasar Barito ke Lenteng Agung merupakan kebijakan strategis yang menyatukan dua kepentingan besar: penataan ruang kota yang berkelanjutan dan perlindungan terhadap sektor ekonomi informal. Keberhasilan kebijakan ini akan sangat bergantung pada konsistensi pemerintah dalam menyediakan fasilitas yang layak, melibatkan para pedagang dalam proses, serta menjaga komunikasi yang terbuka dan adil.
Gubernur Pramono menutup konferensi pers dengan menekankan bahwa proses ini bukan hanya tentang memindahkan pasar, melainkan membangun tata kelola kota yang lebih manusiawi.
“Kami ingin Jakarta menjadi kota yang tertata, tapi juga berpihak pada rakyat kecil. Relokasi ini harus menjadi cerita sukses bersama,” tutupnya.

