Amerika Serikat 21 Juli 2025 — Dunia ilmu pengetahuan sedang menghadapi krisis kepercayaan. Di tengah arus deras informasi dan tekanan untuk menghasilkan publikasi dalam jumlah besar, sistem penerbitan ilmiah kini dinilai sudah tidak lagi memadai untuk menjamin kualitas, akurasi, dan kejujuran dalam penelitian. Banyak kalangan akademisi menyerukan bahwa reformasi menyeluruh terhadap sistem penerbitan ilmiah adalah hal yang sangat mendesak.
Krisis Kepercayaan dalam Dunia Akademik
Selama dekade terakhir, kredibilitas proses penelitian mulai diragukan oleh publik, bahkan oleh kalangan peneliti sendiri. Kasus plagiarisme, manipulasi data, serta peningkatan jumlah artikel yang ditarik dari jurnal ternama menunjukkan bahwa sistem yang selama ini dianggap ketat, ternyata menyimpan banyak kelemahan.
Sebagian besar persoalan ini berakar pada sistem penerbitan yang mengutamakan kuantitas dibanding kualitas. Peneliti sering didorong oleh tekanan institusional untuk “publish or perish”—menerbitkan sebanyak mungkin artikel demi promosi jabatan atau pendanaan, meskipun substansinya belum tentu kuat. Akibatnya, jurnal ilmiah dibanjiri oleh ribuan artikel setiap hari, banyak di antaranya tidak memberikan kontribusi signifikan terhadap ilmu pengetahuan.
Masalah Biaya dan Aksesibilitas
Sistem penerbitan ilmiah saat ini juga sangat mahal. Banyak jurnal internasional memungut biaya publikasi yang tinggi (Article Processing Charges/APC) kepada penulis, sering kali mencapai ribuan dolar per artikel. Ini menciptakan hambatan besar bagi peneliti di negara berkembang yang tidak memiliki dana besar, meskipun kualitas penelitiannya layak untuk diterbitkan.
Ironisnya, setelah membayar biaya mahal untuk menerbitkan hasil penelitiannya, akses terhadap artikel tersebut sering kali masih dibatasi oleh paywall. Publik umum, bahkan institusi pendidikan, sering harus membayar lagi hanya untuk membaca hasil riset yang seharusnya bisa dinikmati secara terbuka.
Jurnal Predator dan Etika yang Rapuh
Dalam iklim seperti ini, muncul pula fenomena jurnal predator—jurnal yang mengklaim sebagai jurnal ilmiah tetapi tidak menjalankan proses peer review yang memadai. Mereka hanya tertarik pada pembayaran dari penulis dan akan menerbitkan apa pun, tanpa memperhatikan validitas atau kontribusi ilmiahnya.
Fenomena ini menyebabkan masuknya ratusan ribu artikel ke dalam domain publik yang tidak melalui penyaringan ilmiah yang benar, menciptakan kabut informasi yang dapat membingungkan masyarakat dan merusak reputasi ilmuwan yang jujur.
Kebutuhan Akan Reformasi Menyeluruh
Para pakar dan lembaga akademik kini menyerukan reformasi sistem penerbitan ilmiah dengan beberapa pendekatan, antara lain:
1. Mengubah Sistem Insentif
Lembaga pendidikan dan pendanaan harus menilai peneliti berdasarkan dampak dan kualitas hasil risetnya, bukan hanya dari jumlah publikasi. Fokus perlu bergeser dari “berapa banyak yang diterbitkan” ke “apa kontribusi nyatanya.”
2. Meningkatkan Transparansi Peer Review
Peer review harus lebih terbuka, adil, dan dapat ditelusuri. Beberapa jurnal telah mengadopsi sistem open peer review, di mana identitas reviewer dan komentarnya dapat dilihat publik.
3. Mendorong Akses Terbuka Tanpa Beban Biaya (Diamond Open Access)
Model open access tanpa biaya publikasi atau baca, yang didanai oleh lembaga akademik atau pemerintah, harus diperluas. Ini akan menjamin bahwa pengetahuan ilmiah dapat diakses siapa pun, tanpa hambatan finansial.
4. Memberdayakan Komunitas Ilmiah
Alih-alih mengandalkan penerbit besar yang mencari keuntungan, komunitas ilmiah perlu mendirikan dan mengelola jurnal mereka sendiri secara kolektif dan nirlaba, dengan mengutamakan nilai akademik dan aksesibilitas.
Demi Masa Depan Ilmu Pengetahuan
Ilmu pengetahuan adalah fondasi bagi kebijakan publik, inovasi teknologi, dan kemajuan umat manusia. Jika masyarakat kehilangan kepercayaan terhadap integritas ilmiah, maka segala upaya penelitian—betapapun serius dan bermaknanya—akan dipandang dengan skeptis.
Oleh karena itu, reformasi penerbitan ilmiah bukan hanya soal manajemen jurnal, tetapi soal keberlangsungan kredibilitas ilmu pengetahuan itu sendiri. Dunia akademik harus bergerak bersama: membangun sistem yang lebih adil, inklusif, terbuka, dan transparan.
“Ilmu pengetahuan bukan milik segelintir orang di balik paywall. Ia adalah warisan umat manusia yang harus dibagikan secara adil dan jujur,” — ujar Dr. Maya Rinaldi, pakar etika penelitian dari Universitas Gadjah Mada.
