Jakarta, Mata4.com — PT Pertamina (Persero) tengah mempersiapkan langkah strategis untuk mengembangkan bahan bakar Sustainable Aviation Fuel (SAF) sebagai bagian dari visi jangka panjang mendukung industri penerbangan nasional yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan. Inisiatif ini sejalan dengan tren global dalam menekan emisi karbon dan mempercepat transisi energi hijau, yang menjadi fokus utama dalam upaya mitigasi perubahan iklim dunia.
SAF merupakan bahan bakar penerbangan yang diproduksi dari sumber-sumber terbarukan, seperti limbah biomassa, minyak nabati, dan bahan organik lainnya. Keunggulan utama SAF dibandingkan bahan bakar fosil konvensional adalah potensi pengurangan emisi gas rumah kaca hingga 80 persen selama siklus hidupnya, sehingga dapat berperan penting dalam mengurangi dampak negatif industri penerbangan terhadap lingkungan.
Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati, dalam konferensi pers pada Senin (20/10/2025), menegaskan bahwa pengembangan SAF merupakan bagian integral dari komitmen perusahaan untuk mendukung target nasional pengurangan emisi karbon serta pencapaian net zero emission pada tahun 2060.
“Sebagai BUMN energi, Pertamina memiliki tanggung jawab besar dalam mendukung keberlanjutan Indonesia. Pengembangan SAF adalah salah satu upaya konkret kami untuk mendukung industri penerbangan yang semakin bertanggung jawab terhadap lingkungan,” ungkap Nicke.
Latar Belakang dan Kebutuhan Pengembangan SAF
Industri penerbangan secara global dikenal sebagai salah satu kontributor signifikan emisi karbon dioksida (CO₂). Menurut International Air Transport Association (IATA), sektor ini menyumbang sekitar 2-3 persen dari total emisi global, dan angka ini diperkirakan akan meningkat seiring pertumbuhan jumlah penerbangan di masa depan.
Indonesia, sebagai negara kepulauan dengan populasi besar dan pertumbuhan sektor penerbangan yang pesat, menghadapi tantangan besar dalam memastikan pengembangan transportasi udara yang tidak mengorbankan kualitas lingkungan hidup. Dalam konteks ini, SAF hadir sebagai solusi inovatif untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan menekan emisi karbon di sektor penerbangan.
Penggunaan SAF juga mendukung program pemerintah dalam mencapai target nasional pengurangan emisi gas rumah kaca hingga 29 persen pada tahun 2030 secara mandiri, dan hingga 41 persen dengan dukungan internasional, sebagaimana tercantum dalam Nationally Determined Contributions (NDC).
Potensi Sumber Daya dan Teknologi Produksi di Indonesia
Indonesia memiliki keunggulan kompetitif dalam pengembangan SAF karena tersedianya sumber daya biomassa yang melimpah. Limbah pertanian seperti ampas tebu, kelapa sawit, dan limbah kehutanan dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku utama produksi SAF.
Selain itu, perkembangan teknologi bioenergi dan kimia hijau yang semakin maju membuka peluang untuk mengoptimalkan proses konversi bahan baku menjadi bahan bakar penerbangan yang memenuhi standar internasional.
Pertamina menyadari bahwa pengembangan SAF memerlukan investasi besar dalam riset dan pengembangan, serta kolaborasi erat antara sektor industri, akademisi, dan pemerintah. Untuk itu, perusahaan telah menjajaki kerja sama strategis dengan berbagai pihak untuk mengakselerasi proses inovasi dan produksi.
Tantangan dan Strategi Mengatasi Hambatan
Walaupun potensi besar tersedia, pengembangan SAF masih dihadapkan pada sejumlah tantangan, di antaranya:
- Biaya Produksi Tinggi: Saat ini, biaya produksi SAF masih lebih mahal dibandingkan bahan bakar fosil, sehingga perlu ada skema insentif dan dukungan regulasi untuk membuat SAF kompetitif di pasar.
- Teknologi dan Infrastruktur: Ketersediaan teknologi produksi dan infrastruktur pendukung masih terbatas di Indonesia, sehingga memerlukan pengembangan kapasitas dan investasi lebih lanjut.
- Regulasi dan Standar: Diperlukan regulasi yang jelas dan standar yang mengatur penggunaan SAF dalam industri penerbangan untuk memastikan keamanan, kualitas, dan kelancaran distribusi.
Pertamina merencanakan berbagai strategi untuk mengatasi hambatan tersebut, termasuk peningkatan riset dan pengembangan teknologi, kemitraan strategis dengan perusahaan global, serta advokasi kebijakan kepada pemerintah terkait insentif dan regulasi pendukung.
Dukungan Pemerintah dan Regulasi yang Mendukung
Pemerintah Indonesia secara aktif mendukung pengembangan energi terbarukan melalui berbagai kebijakan, termasuk insentif fiskal, penyederhanaan izin usaha, dan program kampanye kesadaran lingkungan. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) serta Kementerian Perhubungan telah menginisiasi regulasi yang mendorong penggunaan bahan bakar alternatif di sektor penerbangan.
Kebijakan ini sejalan dengan komitmen Indonesia di dalam Perjanjian Paris untuk menekan emisi gas rumah kaca, sekaligus mendukung target Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya yang berkaitan dengan energi bersih dan aksi iklim.
Rencana Implementasi dan Uji Coba
Sebagai tahap awal, Pertamina menargetkan pelaksanaan uji coba penggunaan SAF dalam penerbangan komersial bersama beberapa maskapai nasional dalam waktu dekat. Uji coba ini akan menguji performa teknis dan efisiensi bahan bakar, sekaligus mengumpulkan data untuk perencanaan produksi dan distribusi lebih luas.
Keberhasilan uji coba ini diharapkan membuka jalan bagi produksi massal SAF dan integrasi secara bertahap ke dalam rantai pasok bahan bakar penerbangan di Indonesia. Langkah ini akan mendukung transisi industri penerbangan nasional menuju penggunaan bahan bakar yang lebih bersih dan berkelanjutan.
Manfaat dan Harapan untuk Masa Depan
Pengembangan SAF tidak hanya berdampak positif terhadap pengurangan emisi karbon, tetapi juga berpotensi meningkatkan ketahanan energi nasional dengan mengurangi ketergantungan pada impor minyak fosil. Selain itu, pengembangan industri bioenergi ini dapat membuka lapangan kerja baru dan mendorong pertumbuhan ekonomi hijau.
Dengan komitmen yang kuat dari Pertamina dan dukungan dari pemerintah serta stakeholder terkait, industri penerbangan Indonesia diharapkan dapat menjadi pelopor dalam penggunaan bahan bakar berkelanjutan di kawasan Asia Tenggara, sekaligus memberikan kontribusi nyata dalam perjuangan global melawan perubahan iklim.

