Jakarta, Mata4.com – PINTU bekerja sama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menghadirkan program edukasi bertajuk “Pintu Goes to Campus” di Universitas Bina Nusantara (Binus), Jakarta, Selasa (9/12/2025). Mengangkat tema “Kripto untuk Mahasiswa: Melek Ilmu Cuan Mengalir”, acara ini berhasil menarik minat lebih dari 200 mahasiswa yang ingin memperdalam wawasan mengenai dunia aset kripto dan literasi keuangan digital.
Kepala Direktorat Perizinan dan Pengendalian Kualitas Pengawasan Inovasi Teknologi Sektor Keuangan OJK, Catur Karyanto Pilih, menegaskan bahwa literasi digital dan keuangan merupakan fondasi utama sebelum seseorang masuk ke dunia investasi kripto. Dengan pemahaman yang memadai, masyarakat dapat menilai manfaat sekaligus risiko dari layanan keuangan digital. “Literasi digital dan literasi keuangan menjadi syarat utama sebelum terjun ke dunia aset crypto. Pemahaman literasi yang kuat membantu masyarakat mengenali manfaat dan risiko sehingga dapat memanfaatkan layanan keuangan digital secara bijak,” ujar Catur.
Ia juga berharap mahasiswa tidak sekadar menjadi pengguna pasif, melainkan mampu berperan sebagai agen perubahan yang mendorong pemanfaatan teknologi keuangan secara sehat dan bertanggung jawab.

Di sisi akademik, Dosen Universitas Bina Nusantara Dr. Hugo Prasetyo W. mengungkapkan bahwa Binus telah menyiapkan kurikulum terintegrasi untuk mendukung pemahaman mahasiswa mengenai teknologi blockchain dan kripto. “Binus memiliki kurikulum terintegrasi. Teman-teman yang mau tahu crypto bisa belajar coding di crypto science… Bahkan kami memiliki Beehive yakni laboratorium khusus untuk cryptocurrency,” jelas Hugo. Ia menegaskan bahwa mahasiswa Binus diharapkan mampu menjadi inovator yang mengembangkan teknologi, bukan sekadar konsumen.
Chief Marketing Officer PINTU, Timothius Martin, turut menyoroti pentingnya literasi kripto bagi generasi muda. Berdasarkan laporan CoinLaw 2025, jumlah pengguna kripto global melonjak 34% menjadi 580 juta pengguna, dengan rentang usia 18–34 tahun mendominasi. “Indonesia kebanjiran bonus demografi anak muda usia produktif yang juga mendominasi pengguna aset crypto dalam negeri. Ini menjadi berkah sekaligus tantangan besar utamanya dari sisi literasi dan inklusi,” katanya.
Acara edukatif ini juga menghadirkan dua pembicara lain yang memberikan perspektif lebih luas, yakni Direktur Eksekutif INDEF Esther Sri Astuti, yang membahas aspek ekonomi serta regulasi, dan pendiri TradeWithSuli, Sulianto Indria Putra, yang memberikan wawasan teknis terkait perdagangan aset digital.
Dengan kolaborasi antara regulator, kampus, dan pelaku industri, program ini diharapkan menjadi langkah penting dalam meningkatkan pemahaman mahasiswa terhadap dunia kripto, sekaligus mempersiapkan generasi muda Indonesia untuk bersaing dan berinovasi di tengah perkembangan ekonomi digital global.
