Jakarta, Mata4.com — Suasana tenang di lingkungan kampus Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Jatinangor, Kabupaten Sumedang, mendadak berubah menjadi duka mendalam pada Rabu malam (8/10). Seorang praja muda asal Ternate, Maluku Utara, dilaporkan meninggal dunia secara mendadak saat mengikuti kegiatan apel malam bersama rekan-rekannya.
Peristiwa mengejutkan itu terjadi di lapangan utama kampus IPDN, sekitar pukul 20.00 WIB. Apel malam merupakan kegiatan rutin yang wajib diikuti oleh seluruh praja. Tidak ada yang menyangka malam itu akan menjadi malam terakhir bagi salah satu dari mereka.
Detik-Detik Kejadian: Jatuh Saat Baris, Suasana Panik
Salah seorang saksi mata yang juga merupakan rekan satu angkatan korban mengungkapkan bahwa sebelum insiden terjadi, korban tampak mengikuti kegiatan seperti biasa. Ia berdiri tegak dalam barisan, mengenakan seragam dinas lengkap, tanpa menunjukkan gejala sakit.
“Kami berdiri baris, seperti biasa. Tiba-tiba, dia jatuh ke depan. Semua langsung panik. Awalnya kami pikir dia hanya pingsan karena kelelahan, tapi ternyata kondisinya jauh lebih serius,” ujar saksi tersebut yang enggan disebutkan namanya.
Petugas medis IPDN yang siaga segera memberikan pertolongan pertama di lokasi. Tak berselang lama, korban langsung dibawa ke fasilitas kesehatan kampus, dan kemudian dirujuk ke rumah sakit setempat untuk penanganan lebih lanjut.
Namun, upaya penyelamatan tidak berhasil. Beberapa jam setelah dibawa ke rumah sakit, korban dinyatakan meninggal dunia oleh tim medis.
IPDN Berduka, Keluarga Telah Dihubungi
Kepala Bagian Humas IPDN, dalam keterangan resmi yang disampaikan pada Kamis pagi (9/10), membenarkan kabar duka tersebut. Ia menyampaikan bahwa seluruh civitas akademika IPDN sangat berduka atas kehilangan salah satu anggota keluarga besar mereka.
“Kami sangat berduka atas wafatnya salah satu praja kami yang berasal dari Ternate. Beliau dikenal sebagai praja yang disiplin, rajin, dan tidak memiliki riwayat kesehatan yang serius. Kami sudah berkoordinasi dengan keluarga dan saat ini proses pemulangan jenazah sedang berjalan,” ujarnya.
Pihak kampus juga menekankan bahwa penyebab pasti meninggalnya korban masih menunggu hasil pemeriksaan medis. Sejauh ini, belum ada indikasi kekerasan atau pelanggaran prosedur dalam pelaksanaan apel malam tersebut.
Pemulangan Jenazah dan Penghormatan Terakhir
Sebagai bentuk penghormatan, IPDN menggelar upacara pelepasan jenazah secara internal yang dihadiri oleh para pejabat kampus, tenaga pendidik, serta rekan-rekan korban. Prosesi berlangsung secara khidmat dengan pengibaran bendera setengah tiang sebagai simbol duka cita institusi.
Jenazah kemudian diterbangkan ke kampung halamannya di Ternate dengan pengawalan langsung dari perwakilan kampus. Pihak keluarga telah menerima jenazah dengan lapang dada meski tak bisa menyembunyikan rasa kehilangan yang mendalam.
“Kami kehilangan anak yang menjadi kebanggaan keluarga. Tapi kami ikhlas. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada IPDN yang sudah mengurus semuanya dengan baik,” ujar salah satu anggota keluarga korban saat ditemui di Bandara Sultan Babullah, Ternate.
Dukungan Psikologis dan Evaluasi Internal
Sebagai tindak lanjut, IPDN telah menyediakan layanan pendampingan psikologis bagi para praja, terutama teman satu angkatan korban. Pihak kampus menyadari bahwa peristiwa seperti ini dapat memberikan dampak traumatis bagi sebagian besar praja yang menyaksikannya secara langsung.
“Kami menyediakan layanan konseling dan dukungan psikologis. Semua praja akan dipantau kesehatannya, baik fisik maupun mental, secara lebih intensif ke depannya,” jelas Kepala Biro Pembinaan Praja.
Pihak kampus juga berjanji akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem kegiatan praja, termasuk durasi kegiatan malam hari dan pemantauan kondisi kesehatan setiap individu secara berkala. Tujuannya untuk memastikan bahwa semua kegiatan berjalan sesuai dengan standar keamanan dan keselamatan yang telah ditetapkan.
Privasi Dijaga, Spekulasi Diimbau Dihindari
Hingga berita ini diturunkan, pihak IPDN dan keluarga korban sepakat untuk tidak mengungkapkan identitas lengkap korban ke publik demi menjaga privasi dan menghormati proses berduka yang sedang dijalani. Media pun diimbau untuk tidak berspekulasi mengenai penyebab meninggalnya korban sebelum hasil resmi dari pemeriksaan medis dikeluarkan.
Redaksi juga mengajak masyarakat untuk tidak menyebarkan informasi tidak benar atau video yang berkaitan dengan kejadian ini di media sosial, mengingat hal tersebut dapat menimbulkan luka baru bagi keluarga yang ditinggalkan.

