Peru, Mata4.com — Gejolak politik kembali mengguncang Peru. Presiden Dina Boluarte resmi dilengserkan dari jabatannya setelah Kongres Republik Peru pada Jumat (10/10/2025) menyetujui mosi pemakzulan melalui pemungutan suara yang sengit.
Keputusan ini menjadi babak baru dari krisis politik berkepanjangan yang selama beberapa tahun terakhir menjerat negara di Amerika Latin tersebut.
Dalam pernyataan resmi di platform X (Twitter), Kongres menegaskan bahwa hasil pemungutan suara telah memenuhi ketentuan konstitusional.
“Kongres Republik Peru menyetujui pemakzulan Presiden Dina Boluarte Segarra. Dengan demikian, proses suksesi jabatan yang ditetapkan oleh Konstitusi Politik Peru akan diterapkan,” tulis lembaga legislatif tersebut.
Langkah ini sekaligus menandai kejatuhan satu lagi pemimpin Peru dalam rentang waktu kurang dari lima tahun — mempertegas reputasi negara itu sebagai salah satu yang paling tidak stabil secara politik di kawasan Amerika Selatan.
Pemakzulan yang Sarat Ketegangan
Proses pemakzulan Boluarte berlangsung dalam atmosfer tegang dan penuh tekanan. Sejumlah fraksi di Kongres, termasuk dari kubu oposisi dan partai tengah, menggalang dukungan untuk mosi ini sejak awal Oktober.
Boluarte sendiri menolak hadir dalam sidang paripurna yang menentukan nasibnya. Keputusan itu, menurut Juan Carlos Portugal, pengacara pribadinya, merupakan bentuk penolakan terhadap proses yang dianggap “melanggar hak konstitusional presiden.”
“Presiden Boluarte tidak ingin memberi legitimasi pada proses politik yang cacat hukum dan sarat kepentingan,” ujar Portugal, dikutip surat kabar El Comercio.
Sumber di lingkaran istana menyebut, tim hukum Boluarte tengah mempersiapkan langkah hukum untuk menantang hasil pemakzulan ke Mahkamah Konstitusi Peru.

Keamanan yang Memburuk Jadi Pemicu
Pemakzulan ini tidak muncul tiba-tiba. Mosi tersebut telah diajukan oleh anggota dari tujuh fraksi politik di Kongres, dengan alasan utama kegagalan pemerintahan Boluarte dalam mengendalikan situasi keamanan nasional.
Dalam beberapa tahun terakhir, Peru menghadapi lonjakan kasus kriminalitas — mulai dari kejahatan jalanan, pembunuhan, pencurian, hingga pemerasan.
Media nasional Radio RPP melaporkan bahwa peningkatan tajam angka kejahatan menjadi “sentimen utama” yang mempercepat lahirnya mosi pemakzulan.
Demonstrasi besar-besaran pecah di berbagai kota besar seperti Lima, Arequipa, dan Trujillo. Ribuan warga turun ke jalan, menuntut reformasi keamanan dan pemberantasan korupsi yang mereka nilai sudah mengakar dalam pemerintahan.
“Kami tidak lagi merasa aman di rumah kami sendiri. Pemerintah gagal melindungi rakyat,” ujar Carlos Mejía, seorang pengunjuk rasa di pusat kota Lima.
Cerminan Krisis Politik Kronis
Langkah pemakzulan Boluarte menambah daftar panjang presiden Peru yang berakhir sebelum masa jabatannya usai. Dalam satu dekade terakhir, negara itu telah menyaksikan enam kali pergantian presiden, sebagian besar akibat konflik antara eksekutif dan legislatif.
Baca Juga:
pembangunan gerai kopdes merah putih dimulai 15 oktober
Para analis menilai, pergantian kekuasaan yang berulang ini menunjukkan rapuhnya sistem politik Peru yang dilanda fragmentasi partai dan rendahnya kepercayaan publik terhadap lembaga negara.
“Pemakzulan ini bukan sekadar perubahan pemimpin, tetapi tanda bahwa sistem politik Peru masih sakit,” ujar María del Carmen Álvarez, analis politik dari Universidad de Lima.
Menurutnya, langkah Kongres kali ini bisa memperdalam krisis jika tidak disertai konsensus politik yang kuat untuk memulihkan kepercayaan publik dan stabilitas nasional.
Menanti Suksesi Konstitusional
Pasca-pemakzulan, perhatian kini tertuju pada mekanisme suksesi konstitusional yang diatur dalam Konstitusi Politik Peru.
Berdasarkan ketentuan, jabatan presiden sementara akan dipegang oleh Wakil Presiden atau Ketua Kongres, hingga pemilihan umum baru digelar.
Namun, belum ada pernyataan resmi terkait siapa yang akan menggantikan Boluarte. Situasi politik diperkirakan tetap bergejolak dalam beberapa hari ke depan, terutama jika kelompok pendukung Boluarte melakukan mobilisasi massa.
