Banyuwangi, Mata4com – Di balik nama yang terdengar unik, “Menlu”, terdapat kisah panjang seorang pengusaha asal Situbondo yang besar di Banyuwangi. Ia merupakan sosok di balik berdirinya Rabanton, perusahaan beton pracetak yang kini tengah naik daun karena menghadirkan inovasi beton apung pertama di Indonesia.
Awal Perjalanan dari Keluarga Nelayan
Menlu lahir dari keluarga sederhana. Ayah dan ibunya bekerja sebagai nelayan, sehingga sejak kecil ia sudah akrab dengan laut. Masa mudanya dihabiskan dengan membantu orang tua dan mengelola hasil tangkapan ikan. Namun, seiring waktu, ia merasa bisnis keluarga tersebut bukanlah jalan yang ingin ia tempuh selamanya.
Pernah Bangkrut di Bisnis Semen
Setelah menikah, Menlu mencoba mandiri dengan merintis usaha distribusi semen di Banyuwangi. Awalnya bisnis tersebut berjalan baik, namun persaingan ketat dan tekanan ekonomi membuat usahanya bangkrut. Kegagalan itu sempat membuatnya jatuh, tetapi tidak mematahkan semangatnya.
“Bangkrut itu berat, tapi justru dari kegagalan saya belajar banyak. Saya jadi tahu pentingnya inovasi, manajemen, dan keberanian mengambil risiko,” tutur Menlu dalam sebuah wawancara.

Lahirnya Rabanton: Beton Apung untuk Negeri
Dari pengalaman pahit itu, Menlu kembali bangkit dengan ide segar. Ia mendirikan Rabanton, sebuah perusahaan beton pracetak. Bukan sekadar memproduksi beton biasa, Rabanton menghadirkan beton apung, teknologi yang masih jarang di Indonesia.
Beton apung ini dirancang khusus agar dapat digunakan untuk berbagai keperluan di atas air, mulai dari dermaga apung, rumah terapung, hingga infrastruktur pendukung wisata bahari. Inovasi ini dianggap menjawab kebutuhan daerah pesisir dan kepulauan di Indonesia.
“Indonesia adalah negara maritim. Dengan beton apung, kita bisa membangun lebih banyak fasilitas di laut tanpa harus merusak lingkungan,” jelas Menlu.
Inovasi Lokal dengan Dampak Nasional
Kini, produk Rabanton telah digunakan di beberapa proyek di Banyuwangi, Bali, hingga Kalimantan. Banyak pihak menilai teknologi ini bisa menjadi solusi jangka panjang untuk pembangunan infrastruktur di wilayah kepulauan.
Selain itu, Rabanton juga membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat lokal. Puluhan pekerja dipekerjakan, sebagian besar dari kalangan muda Banyuwangi.
Inspirasi dari Banyuwangi
Kisah Menlu bersama Rabanton menjadi inspirasi bahwa kegagalan bukan akhir segalanya. Dari Banyuwangi, ia menunjukkan bahwa inovasi lokal bisa bersaing dan memberi manfaat untuk seluruh Indonesia.
“Bagi saya, Rabanton bukan sekadar bisnis, tapi kontribusi kecil untuk negeri. Dari Banyuwangi untuk Indonesia,” pungkas Menlu.
