Bekasi, Mata4.com – Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), rempah-rempah adalah berbagai tanaman beraroma, seperti pala, cengkih, dan lada, yang digunakan untuk memberikan rasa dan wangi khas pada makanan. Di Indonesia, rempah tidak hanya menjadi bumbu dapur, tetapi juga komoditas bernilai tinggi yang menjadikan Nusantara sebagai wilayah strategis yang diperebutkan oleh bangsa-bangsa asing.
Melimpahnya rempah inilah yang mendorong bangsa Eropa menempuh perjalanan laut jauh sebelum teknologi navigasi modern berkembang. Keinginan untuk memperoleh sumber rempah langsung membawa Portugis menjadi bangsa Eropa pertama yang tiba di Indonesia. Pada 1511, di bawah komando Afonso de Albuquerque, mereka menguasai Malaka dan kemudian bergerak menuju Maluku—wilayah yang dijuluki Spice Islands karena kualitas rempahnya yang luar biasa.
Setelah Portugis, Belanda datang dan memilih tinggal lebih lama. Mereka bukan hanya berdagang, tetapi juga mengeksploitasi rempah Indonesia, yang pada masa itu merupakan barang paling dicari di pasar Eropa. Melihat bagaimana bangsa Eropa berjuang keras mencapai Nusantara, pertanyaannya adalah: rempah-rempah apa sebenarnya yang membuat Indonesia begitu diburu?
Tujuh Rempah Indonesia yang Menjadi Rebutan Bangsa Eropa
1. Merica / Lada
Merica atau lada merupakan rempah paling dicari bangsa Eropa karena nilainya sangat tinggi. Sebelum jalur laut ditemukan, rempah ini hanya tersedia melalui Jalur Sutra sehingga harganya melambung dan bahkan berfungsi sebagai alat pembayaran. Selain sebagai bumbu, lada dipakai untuk memberi sensasi hangat pada musim dingin. Indonesia memiliki banyak sentra lada—Aceh, Jambi, Lampung, Kalimantan, hingga NTB—yang menjadikannya pemasok penting dalam perdagangan global kala itu.
2. Cengkeh
Cengkeh adalah rempah beraroma kuat yang pada abad ke-16 dan 17 harganya pernah setara logam mulia. Kandungan minyak atsirinya membuat cengkeh sangat berguna, mulai dari obat tradisional, parfum, hingga pengawet makanan sebelum teknologi pendingin ditemukan. Karena nilainya yang besar, bangsa Eropa berusaha menguasai Maluku sebagai penghasil cengkeh terbaik. VOC bahkan menerapkan aturan ketat untuk mengendalikan perdagangannya.

3. Pala
Pala menjadi komoditas eksklusif karena pada masa itu hanya tumbuh di wilayah tertentu di Maluku. Selain memperkaya rasa, pala digunakan dalam pengobatan, minuman, dan aromaterapi. Di Eropa, pala pernah dipercaya dapat menangkal wabah penyakit, sehingga permintaannya meningkat tajam. Aroma dan karakter pala Indonesia yang kuat membuatnya menjadi salah satu rempah paling diburu dunia.
4. Kayu Manis
Kayu manis memiliki nilai jual tinggi karena aromanya yang khas dan manfaatnya yang luas, mulai dari obat tradisional hingga minuman hangat. Pada masa lalu, kayu manis dianggap memiliki khasiat khusus sehingga sangat dihargai masyarakat Eropa. Di Indonesia, rempah ini banyak ditemukan di Maluku dan wilayah beriklim serupa.
5. Vanili
Meski berasal dari Meksiko, vanili tumbuh sangat baik di Indonesia berkat tanah vulkanik dan iklim tropis. Indonesia bahkan menjadi salah satu produsen vanili terbaik kedua di dunia menurut FAO. Aromanya yang manis dan lembut menjadikannya bahan utama dalam industri dessert. Karena budidayanya membutuhkan perawatan khusus, terutama penyerbukan manual, vanili memiliki harga tinggi dan kualitas Indonesia sangat dicari di pasar global.
6. Kapulaga
Kapulaga dikenal beraroma segar dan memberi sentuhan khas pada masakan berbumbu kuat seperti gulai dan kari. Bangsa Eropa menyukainya karena banyak digunakan untuk roti, minuman herbal, dan ramuan kesehatan. Kapulaga juga memiliki sifat menenangkan dan sering dimanfaatkan untuk meredakan stres.
7. Kunyit
Kunyit adalah rempah asli Indonesia yang telah digunakan lebih dari 4.000 tahun. Warna kuningnya berasal dari kurkumin, senyawa dengan sifat antioksidan dan antiradang. Kunyit dipakai sebagai pewarna alami masakan dan sebagai bahan penting dalam jamu. Dalam perawatan tradisional, kunyit digunakan untuk mencerahkan kulit, meredakan iritasi, dan meningkatkan kesehatan tubuh.
