Bekasi, Mata4.com – Tokoh intelektual publik Rocky Gerung kembali membuat panggung diskursus politik dan ekonomi Indonesia semakin ramai. Kritik pedasnya kali ini diarahkan kepada Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa, yang disebutnya tak lebih dari “juru bayar” alias kasir negara. Kritik itu muncul setelah pemerintah menggelontorkan dana menganggur sebesar Rp200 triliun melalui Bank Indonesia (BI) untuk disalurkan ke perbankan pelat merah dalam rangka mendorong sektor riil.v
Menurut Rocky, kebijakan tersebut tidak jauh berbeda dengan sekadar urusan teknis pembayaran, bukan strategi ekonomi yang berorientasi pada perubahan struktural. Namun, Purbaya tidak tinggal diam. Ia menegaskan bahwa posisinya sebagai Menkeu bukan hanya sebagai pelaksana administrasi fiskal, melainkan pengambil keputusan strategis dalam menggerakkan perekonomian nasional.

“Kalau saya berhasil mengangkat ekonomi dari 5 persen ke 6 persen, atau bahkan lebih, maka Rocky Gerung harus minta maaf. Minta maaf ke saya dan juga ke publik,” ujar Purbaya saat ditemui di Jakarta, Sabtu (27/9/2025).
Purbaya menambahkan, kritik adalah hal wajar dalam negara demokrasi. Namun, ia menolak jika peran strategis Kementerian Keuangan direduksi hanya sebatas “juru bayar”. Menurutnya, Kemenkeu justru menjadi motor penting dalam menjaga stabilitas fiskal dan moneter di tengah ketidakpastian global.
“Saya bukan orang yang anti kritik. Justru kritik itu penting sebagai kontrol sosial. Kritik Rocky bisa membuat saya semakin waspada, tidak terlena dengan jabatan atau fasilitas. Tapi jangan sampai menyesatkan publik dengan narasi yang tidak tepat,” jelas Purbaya.
Perseteruan intelektual antara Rocky dan Purbaya kini menjadi perbincangan publik. Sebagian melihatnya sebagai dinamika sehat demokrasi, sementara sebagian lainnya menilai perdebatan ini harus dilihat dalam kerangka lebih luas: bagaimana pemerintah benar-benar mampu mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
