Tegal Benteng, Mata4.com – Masih banyak tantangan yang dihadapi oleh sekolah dasar di wilayah Tegal Benteng, terutama terkait kondisi fisik bangunan yang memprihatinkan. Anak-anak SD setempat harus menempuh proses belajar di ruang kelas yang atapnya bocor saat musim hujan dan dindingnya penuh debu saat kemarau. Kondisi tersebut tentu tidak ideal untuk mendukung pembelajaran yang efektif. Namun demikian, semangat belajar para siswa tetap membara dan menjadi bukti kuatnya tekad mereka untuk meraih pendidikan yang layak.
Kondisi Sekolah yang Membutuhkan Perhatian Mendesak
Beberapa sekolah dasar di Tegal Benteng memiliki bangunan yang sudah berusia puluhan tahun tanpa renovasi signifikan. Atap yang rapuh dan bocor sudah menjadi masalah rutin yang kerap mengganggu aktivitas belajar, terutama saat hujan turun deras. Genangan air seringkali masuk ke dalam kelas, basahi buku-buku siswa, dan bahkan menyebabkan kerusakan fasilitas sekolah lainnya.
Selain itu, ketika musim kemarau datang, debu dari lingkungan sekitar dan dari retakan dinding berterbangan masuk ke ruang kelas. Hal ini menimbulkan risiko kesehatan bagi siswa, terutama bagi mereka yang memiliki gangguan pernapasan seperti asma.
Seorang guru senior di SDN Tegal Benteng, Ibu Ratna Sari, menjelaskan, “Kami sangat prihatin dengan kondisi ini. Setiap tahun kami selalu mengajukan permohonan perbaikan, tetapi belum ada tindak lanjut yang berarti. Kondisi ini memaksa kami untuk lebih kreatif menjaga semangat belajar siswa meskipun fasilitas terbatas.”
Semangat Anak-anak yang Tidak Padam
Meskipun belajar di bawah atap yang bocor dan dikelilingi debu, para siswa tetap menunjukkan antusiasme tinggi terhadap pelajaran. Mereka datang ke sekolah dengan harapan besar, percaya bahwa pendidikan adalah jalan menuju masa depan yang lebih baik.
Salah satu siswa kelas VI, Ahmad Fauzi (12), mengungkapkan pengalamannya, “Kadang ketika hujan, kami harus memindahkan meja dan kursi agar tidak basah. Tapi kami tidak mau absen, karena kami ingin belajar supaya bisa membantu orang tua nanti.”
Guru-guru juga sering mengajak siswa untuk lebih bersabar dan tetap semangat, serta mengingatkan pentingnya pendidikan meskipun kondisi fisik sekolah tidak mendukung.
Upaya Guru dan Orang Tua dalam Mendukung Pembelajaran
Guru-guru di SD Tegal Benteng tidak hanya berperan sebagai pengajar, tapi juga motivator dan pelindung anak-anak dari kondisi yang kurang ideal. Mereka berusaha menciptakan suasana belajar yang menyenangkan meski dengan keterbatasan yang ada.
“Kalau hujan deras, kami sering memindahkan kegiatan belajar ke ruang guru atau koridor yang lebih aman. Kami juga rutin mengadakan gotong royong bersama orang tua untuk membersihkan kelas dari debu dan sampah,” ujar Bapak Agus, salah satu guru olahraga di SD tersebut.
Orang tua murid juga aktif berpartisipasi dalam perbaikan sederhana seperti menambal atap atau mengecat dinding. Mereka berharap bantuan dari pemerintah dan pihak terkait dapat segera direalisasikan agar anak-anak dapat belajar dengan nyaman.
Harapan dan Respon Pemerintah Daerah
Kondisi ini telah mendapat perhatian dari Dinas Pendidikan Kabupaten Tegal Benteng. Kepala Dinas Pendidikan, Bapak Joko Santoso, menyatakan bahwa pihaknya telah memasukkan beberapa sekolah dengan kondisi serupa ke dalam daftar prioritas untuk program renovasi.
“Kami menyadari bahwa fasilitas sekolah yang memadai adalah kunci sukses pendidikan. Oleh karena itu, kami berkomitmen mempercepat proses perbaikan, meskipun harus melalui prosedur administrasi yang ketat,” ujar Bapak Joko.
Selain program renovasi, pemerintah daerah juga sedang menggagas kolaborasi dengan komunitas dan sektor swasta untuk menggalang dana bantuan melalui program CSR. Langkah ini diharapkan dapat mempercepat perbaikan infrastruktur sekolah sekaligus meningkatkan kualitas pendidikan di daerah.
Implikasi Pendidikan dan Kesehatan bagi Siswa
Kondisi sekolah yang kurang memadai bukan hanya mengganggu proses belajar, tapi juga berpotensi menimbulkan dampak kesehatan jangka panjang bagi siswa. Debu dan kebocoran atap dapat memicu penyakit pernapasan dan alergi, yang pada gilirannya dapat mengurangi tingkat kehadiran dan konsentrasi belajar.
Dokter spesialis anak di Puskesmas setempat, dr. Lina Permata, mengingatkan pentingnya lingkungan sekolah yang sehat. “Anak-anak sangat rentan terhadap paparan debu dan jamur yang tumbuh akibat kebocoran. Kondisi ini bisa menyebabkan infeksi saluran pernapasan akut yang mempengaruhi kesehatan dan perkembangan mereka,” jelas dr. Lina.
Kesimpulan dan Harapan ke Depan
Kisah perjuangan anak-anak SD di Tegal Benteng belajar di tengah keterbatasan fisik sekolah menjadi cermin nyata betapa masih banyak tantangan dalam pembangunan pendidikan di daerah terpencil. Semangat anak-anak yang tetap tinggi mengingatkan kita semua akan pentingnya dukungan bersama dari pemerintah, masyarakat, dan pemangku kepentingan lainnya untuk mewujudkan pendidikan yang layak dan berkualitas.
Peningkatan fasilitas sekolah harus menjadi prioritas agar anak-anak tidak hanya semangat belajar, tetapi juga belajar dalam lingkungan yang aman, sehat, dan nyaman. Dengan kerja sama dan komitmen yang kuat, harapan besar untuk masa depan pendidikan di Tegal Benteng dapat segera terwujud.

