Bekasi, Mata4.com – Dunia Pendidikan di Kabupaten Bekasi terganggu penyakit menular. Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) pertanyakan kinerja Dinas Kesehatan.
Hendi Z Aripin, selaku Wakil Ketua DPD KNPI Kota Bekasi menyayangkan kondisi memprihatinkan soal kebersihan Pondok Pesantren di Desa Jatimulya, Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi.
Hendi mendapati salah satu santri menderita Skabies atau Gudik yang dinilai mengganggu proses belajar mengajar, dan mengecewakan orangtua santri yang telah mempercayakan pondok itu jadi tempat persinggahan anaknya ketika menimba ilmu.
Sebelumnya diberitakan bahwa Santri berinisial AS yang duduk dibangku kelas 2 Madrasah ibtidaiyah (MI) mengalami dugaan kekerasan yang dilakukan oleh teman sekamarnya.
Sekujur luka lebam menyelimuti luka mendalam bagi AS bocah delapan tahun, yang sampai saat ini belum juga masuk sekolah, bahkan meninggalkan ujian tengah semester.
Miris menurut Hendi, melihat pesantren yang seharusnya menjadi tempat menimba ilmu pengetahuan maupun ilmu agama, justru menjadi tempat yang dirasakan tempat terburuk dalam hidupnya. Sehingga AS mengaku enggan lagi sekolah di pesantren dan tak mau mengaji.
“Kami dari KNPI sudah mengawal proses ini dari pendampingan ke polres kabupaten bekasi unit PPA, pendampingan ke uptd DP3A kabupaten bekasi. Kami berkomitmen mengawal proses ini sampe dengan tuntas,” ungkap Hendi geram seraya berapi api, Senin (29/9/2025).
Selain geram melihat sekujur tubuh anak itu yang mengalami luka lebam, dirinya juga kesal melihat kondisi korban yang gatal berlebih sampai ke akat kelamin juga luka berujung lebam. Karena itulah pihaknya akan terus menyoroti kebersihan serta fungsi pengawasan yang sangat lalai dalam lingkup pesantren.
“Belajar terganggu dan santri kaya tersiksa gatal gatalnya. Saya pertanyakan kinerja Dinkes yang seharusnya bisa terus menghimbau dalam hal kesehatan,” tuturnya.
Diketahui, Dinas Kesehatan berperan dalam kebersihan pesantren melalui edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), pembinaan sanitasi, inspeksi kesehatan lingkungan (IKL), serta advokasi pengembangan pesantren sehat.
Selain itu Dinkes juga melakukan skrining penyakit seperti Tuberkulosis (TB) dan memantau kualitas air serta makanan, serta membantu membentuk kader kesehatan di pesantren untuk keberlanjutan kebersihan dan kesehatan santri.
Dampak Lingkungan Kotor Terhadap Proses Belajar
Gangguan Konsentrasi:
Bau tidak sedap akibat sampah dan lingkungan yang kotor dapat membuat siswa tidak nyaman, mengganggu fokus mereka, dan menyebabkan penurunan konsentrasi saat belajar.
Penurunan Prestasi Akademik:
Lingkungan yang tidak nyaman dan tidak sehat dapat secara langsung memengaruhi kemampuan siswa untuk belajar secara efektif, sehingga berujung pada penurunan prestasi akademik
