Bandung, Mata4.com – Setelah Sritex dinyatakan bangkrut, kini giliran PT Sejahtera Bintang Abadi Textile Tbk (SBAT) yang tumbang. Pabrik benang dan tekstil yang berlokasi di Bandung, Jawa Barat, itu dinyatakan pailit akibat lilitan utang besar dan anjloknya penjualan.
Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker) Afriansyah Noor menduga, penyebab utama kebangkrutan SBAT adalah melemahnya permintaan ekspor akibat perlambatan ekonomi global.
“Kita masih menunggu laporan lengkap dari perusahaan, dinas tenaga kerja daerah, serta serikat pekerja. Saat ini Kemnaker tengah melakukan pendataan untuk mengetahui jumlah pekerja yang terdampak PHK,” kata Afriansyah di Jakarta, Selasa (7/10/2025).
Order Anjlok, Produksi Terhenti
Menurut Afriansyah, pabrik tekstil dan alas kaki sangat bergantung pada pesanan ekspor. Ketika negara tujuan ekspor menghentikan order, otomatis produksi menurun drastis.
“Kalau order berkurang, pekerjaan tidak ada, lama-lama perusahaan tidak bisa membayar gaji. Inilah yang memicu PHK massal,” jelasnya.

SBAT sejatinya sudah berhenti beroperasi sejak tahun lalu. Padahal, kapasitas produksinya mencapai 20.000 ton per tahun, dengan pasar utama di Asia, Eropa, Afrika, dan Amerika Selatan. Kini, kejayaan itu tinggal kenangan.
Tekanan Berat Industri Tekstil Nasional
Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI), Redma Gita Wirawasta, menyebut persoalan yang menimpa SBAT hanyalah puncak dari gunung es. Hampir seluruh pabrik tekstil di Indonesia kini tengah menghadapi krisis serius.
“Hampir semua pabrik saat ini mengalami masalah kelebihan pasokan (overstock), karena kesulitan penjualan,” ujarnya.
Baca Juga:
jay idzes janji main sepenuh hati
Ia menjelaskan, musim paceklik industri tekstil mulai terasa sejak 2022, ketika banjir barang impor masuk kembali ke pasar domestik. Kondisi itu membuat utilisasi industri turun tajam, bahkan kini berada di bawah 50 persen.
Tantangan Berat ke Depan
Industri tekstil Indonesia kini berada dalam tekanan berlapis: melemahnya permintaan ekspor, masuknya barang impor murah, serta ketidakmampuan perusahaan menanggung beban utang. Situasi ini dikhawatirkan memicu gelombang PHK baru di sektor padat karya yang menyerap jutaan tenaga kerja.
